CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 50. Kakak Undui-Undui


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Rae dan Aluna sudah berada di atas aspal mulus, melintasi jalan raya yang cukup padat sebab itu adalah waktu pulang sekolah dan juga jam istrirahat bagi para pekerja.


Tapi tetap saja, suasana itu di rasakan keduanya terasa lengang meski seramai apapun. Mereka berdua hanya di liputi kecanggungan berdua, mengatasi kegugupan masing-masing. Rasanya sepadat apapun, dua orang yang lagi di landa kasmaran hanya merasa mereka berdua saja yang melintas di atas aspal hitam tersebut.


"Berpeganglah." Rae menoleh ke samping supaya suaranya terdengar dari balik helm.


Aluna memicingkan matanya antara tak jelas dengan ucapan Rae ataupun matanya yang melawan deru angin yang berlawanan.


Tiba-tiba tangan Aluna di tarik pelan oleh Rae, agar berada di pinggangnya. Menempel pada kaitan panding berbahan kain sewarna dengan celana seragam abu-abunya. Aluna tersipu malu dan sesungguhnya ragu meletakkan jarinya pada kaitan itu, tapi apa yang harus ia lakukan saat ia pun takut jatuh saat berada di belakang tubuh wangi remaja tanggung itu.


"Nanti kamu jatuh di bawa angin, aku gak jamin." Rae nyengir sendiri, merasa gelayar aneh ketika jemari Aluna bersentuhan dengan pinggangnya.


Aluna tak bersuara, hanya menyembunyikan wajah merahnya dengan malu-malu. Akhirnya menikmati perjalanan yang akan di bawa Rae kemana saja adalah satu-satunya pilihan, iapun pasrah saja.


Setelah melewati jalan raya, Rae berbelok menuju sebuah gang, yang pernah di lihat Aluna dan Emma menjadi tempat Rae menghilang beberapa pekan yang lewat. Di depan gang yang bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda"


Motor yang Rae lajukan sudah memasuki sebuah bangunan setelah kurang lebih masuk seratusan meter dari mulut gang. Sepintas iris mata Aluna sempat memindai jika itu adalah sebuah panti asuhan yang dimaksudkan dari depan gang tadi. Kendaraan itu berhenti di sebuah parkiran.


Tampak seorang ibu dengan kerudung warna cokelat muda paruh baya sudah berdiri di depan pintu, nampak memang sedang menunggu kedatangan Rae. Dia melambai-lambaikan tangannya, menjelang dengan senyum sumringah.


“Mau tunggu di sini atau masuk …?” tanya Rae pada Aluna yang masih belum tau untuk apa mereka di sini, berdiri mematung begitu turun dari jok belakang motor sport yang telah sukses membuat pinggangnya pegel. Bagaimana tidak, dia berusaha tegak melawan kemiringan motor itu supaya tubuhnya tak menempel di punggung Rae. Meski dia sedikit penasaran bagaimana rasanya tapi Aluna canggung sekali, malu rasanya kalau dia nempel mirip cangkang kura-kura di belakang Rae.


“Emmm...aku...”


“Kakak undui-undui…” Belum selesai Aluna menjawab pertanyaan Rae. Tubuhnya bahkan sudah di tubruk seorang bocah yang berlari memeluk Rae dengan antusias dari arah pintu depan bangunan panti.


”Vira …” Rae mendusel kepala bocah berusia kurang lebih 5 tahun yang tanpa permisi sudah naik ke gendongannya dengan sikap manja.


"Kakak Undui-undui, vila cangen kakak." Ucapnya, anak itu masih cadel, mungkin agak lama perkembangannya dalam berbicara.

__ADS_1


"Undui-undui?" Aluna menatap Rae dengan bingung. Rae cuma nyengir kuda tak menjelaskan apapun untuk mencerahkan kebingungan Aluna.


“Kak Undui-undui, tau ga?"


"Gak!" Rae menyela dengan sikap gemas lalu melangkah masuk di ikuti Aluna di belakangnya yang memeluk tali tasnya dengan seribu pertanyaan yang berkecamuk di permukaan wajah cantiknya.


"Makanya, Vila mau celita, bial tau." Oceh gadis kecil bernama Vira ini, di bibir atasnya jika diperhatikan lagi terlihat tidak begitu rata, ada cacat kecil di sana. Rae menyambut ocehan gadis kecil itu dengan tawanya.


Aluna benar-benar terpesona dengan apa yang dilihatnya, Rae terlihat sungguh berbeda dari apa yang dilihatnya selama ini. Dia ramah dan begitu manis memeluk seorang anak kecil, terlihat aura dewasa menaungi wajah baby facenya itu.


"Tadi, Bimo hidungnya beldalah kak?” Bahasa bocah lima tahun itu mana kenal struktur. Sepengelihatannya saja yang ia ungkapkan sebagai berita yang akan di sampaikannya untuk Rae.


“Kenapa hidungnya berdarah? kalian berkelahi?” tanya Rae sambil melangkah mendekati ibu yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Aluna mengekor saja di belakang Rae, walau masih belum paham akan hubungan Rae berada di tempat tersebut.


“Tidak kak. Kami tadi lagi belajal melipat keltas bial bisa telbang ke langit, hidungnya beldarah sendili.” Lanjut Vira dengan lebih rinci.


"Oh, ya?" Rae melotot sesaat penuh perhatian, mencoba menurunkan Vira dari gendongannya tetapi anak itu malah menggelayut dan menolak turun, Rae akhirnya membuarkannya saja lalu dengan sikap takjim


"Kenalkan bu Dasih ini teman Rae, namanya Aluna."


"Assalamualaikum, bu." Sapa Aluna.


"Walaikumsalam, nak Aluna. Senang berkenalan denganmu." Sambut bu Dasih.


“Bagaimana keadaan Bimo, Bu?” tanya Rae tanpa basa basi.


“Ya begitulah, nak. Pembuluh darah di hidungnya memang sangat kecil bahkan sering tersumbat. Ibu hanya menunggu nak Rae saja, siapa tahu kita bisa membawanya ke rumah sakit.” Jawab Ibu itu dengan sikap simpatik.


"Iya, bu. Sebaiknya memang Bimo di bawa ke rumah sakit saja." Tukas Rae dengan raut prihatin.

__ADS_1


“Lun, tolong ambil amplop di saku tas ku ya.” Pintanya sebab ranselnya sudah berada di punggung belakang, dan bagian depannya masih ada Vira yang memegang lehernya dengan erat, tak mau turun.


"Tumben nak bawa teman cah ayu? Biasanya sama nak Arka?" Tanya Ibu Dasih, demikian orang-orang memanggil pengelola panti yang ramah itu.


"Oh, ini temanku, bu. Teman baru dekat." Jawab Rae sekenanya.


Aluna yang tak banyak bicara membuka resluiting saku tas ransel Rae tersipu sendiri. Wajahnya yang putih berangsur merah jambu.


Aluna memegang sebuah amplop agak tebal, lalu menyodorkan pada Rae.


“Ini?” tanyanya memastikan.


“Iya, makasih Lun." Rae menyahut.


"Tolong serahkan untuk Bu Dasih” Pinta Rae pada Aluna.


“Ini Bu.” Aluna menyerahkan dengan santun pada ibu Dasih.


“Terima kasih ya, Nak Rae. Ibu sebenarnya malu meminta bantuan padamu. Selama ini nak Rae sudah banyak membantu di sini. Tapi, ibu tidak tau harus minta tolong sama siapa lagi. Ini jadi hutang ibu saja, ya?” Obrolan itu sungguh makin Luna tak mengerti akan hubungan mereka.


“Jangan bu. Kenapa ibu bicara begitu, Itu bukan hutang ibu. Rae ikhlas membagikannya. Walau Rae belum punya pekerjaan, anggap saja itu perpuluhan dari uang jajan Rae.” Ujarnya sambil tersenyum lebar dengan volume suara rendah.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2