
Dengan langkah yang tidak lagi gontai, Rae sudah berdiri dengan tegapnya setelah melewati pagar sekolah yang pagi ini berhasil ia masuki tanpa terlambat.
Ya, ini adalah hari Rabu, bukan Jum'at. Karena kebiasaannya di hari jum'at, untuk singgah dahulu di Panti Asuhan untuk menjenguk adik-adik asuhnya, sehingga sering terlambat ke sekolah.
Gerbang sekolah masih sepi, Pak Amin saja masih bersiap-siap tetapi lihat saja Rae sekarang, Ia bahkan bisa menyaingi Pak Amin, sang penunggu pagar sekolah saking paginya dia datang.
Rasa kantuknya sudah sirna, perasaan loyo pun sudah tidak terasa saat melihat beranda sekolah. Seketika tanpa di sadarinya, wajahnya berseri itulah mungkin kekuatan cinta yang begitu dahsyat, namun belum di mengerti oleh yang punya diri. Semangat yang datang merasuk itu membuatnya terlihat berbeda.
Awal Rae masih bingung memikirkan apa yang akan di bicarakannya dengan Aluna jika bertemu. Tetapi, sekarang dia jelas tak ambil pusing soal itu. Bertemu dengan gadis itu malah membuatnya semakin merasa tak sabar. Sungguh perasaan yang aneh.
Dan yang lebih aneh, tak terlihat lagi wajah kusutnya tadi, sebab di sepanjang perjalanan, Rae hanya bersiul riang. Semua materi Yang Ayahnya sampaikan padanya sepagi ini masih menggema dalam benaknya. Sungguh sulit baginya menghilangkan rasa gengsi untuk mengakui bahwa dia sungguh jatuh cinta kepada anak baru bernama Aluna Queeny Aswindra. Tapi tetap saja dia tak bisa menepis rasa ingin bertemu yang begitu menggoda.
Rae mencoba berpikir lagi. Apa sih, kelebihan anak baru itu?
Imut? yah, ukuran gadis remaja Aluna pasti imutlah. Cantik? Emmm...itu relatif semua gadis memang cantik dengan kekurangan dan kelebihannya seperti kata mommynya. Tapi memang Aluna cantik terbukti banyak teman cowok Rae yang berlomba cari perhatian pada Aluna, Rae saja males mengakuinya.
Judes, iya! yess! Aluna bagi Rae kategori sambel level tujuh kalau bonc@be, mulutnya itu nyelekit, pedesnya macam lombok di kasih merica kalau ngomentarin hal yang tidak dia suka.
Dan, banyak omong, itu sudah pasti! Rae tak bakal menyematkan gelar lebah berisik kepada Aluna jika tidak karena kebawelannya.
Terus? apa yang bikin dia harus jatuh cinta ke Aluna?
Rae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ops, tapi jangan lupa, dia juga berotak encer. Rae dapat melihat itu, bahkan di hari pertama mereka masuk sekolah Aluna adalah yang paling aktif menjawab semua pertanyaan Bu Nila untuk pelajaran kimia dan sukses mencuri perhatian guru kimia yang serba Perfeksionis itu.
Dan yang pasti, sebagai laki-laki, sesuai dengan pesan Raka, ayahnya bahwa ia harus lebih dari mahkluk berjenis kelamin perempuan. Karena itulah Rae bertekad, dia tak boleh kalah dari Aluna.
"Pagiiiii bebeb, tumben datangnya cepet, kangen ketemu aku, yaah ...?" sambut Emma yang selalu centil dengan gayanya yang riang bahkan tangan kanannya sudah dipeluk manja oleh Emma. Mirip pengantin mau naik ke altar saja.
"Bisa nggak sih, tanganmu gak overaktif gini? asal pegang-pegang?" selalu dengan tatapan bergaya sinis dan juga tanggapan yang dingin pada sambutan si centil Emma. Rae berusaha menepis tangan yang mencengkeram manja lengannya.
"Iissh kenapa juga, kayak aku hama aja sih beb. Jalan-jalan ke Kota Baru, jangan lupa beli biskuit. Mentang-mentang udah punya yang baru, masa ?? Yang lama mau di skip."
Hah ... Rae terkagum dengan peningkatan skill si bawel ini. Sejak kapan otak Emma seencer itu, mengungkapkan perasaannya dengan pantun gombal.
__ADS_1
"Apa'an? Norak akh!!!" Rae memasang wajah keras ke arah Emma. Menahan rasa malu yang tiba-tiba menyerang mendengar pantun receh Emma tadi. Anak ini, memang kadang-kadang tak jelas.
"Beib, aku sebenarnya sedih harus ngelepas lengan kokoh yang selalu menjadi tempatku bergelayut manjah ini, tetapi apalah daya, buah Durian salak pondoh, sang pujaan mungkin telah bertemu jodoh." Emma cengengesan.
"Astaga, kamu sehat, Em?" Rae meletakkan punggung tangannya di kening Emma. Yang punya kening hanya manyun dengan wajah tanpa dosa dan raut kesedihan yang dibuat-buat seperti akting di drama 'Ku Menangis' sinetron favorit Bi Asih di televisi.
"Dari tadi kamu mabok pantun kayaknya." lanjut Rae, menahan geli tetapi tetap berusaha pasang wajah cool. Jaga image.
"Aku mabok kamu, Beib." Emma terkekeh jenaka.
"Ekh, Beb...gimana...gimana tadi malam?" Emma bertanya dengan penuh semangat, sekarang matanya berbinar penuh rasa kepo. Astaga, gadis ini memang mungkin berkepribadian ganda, tadi cengangas cengenges seperti istri yang tertindas sekarang wajahnya seriang mbak-mbak tetangga yang menunggu bahan gibahan.
"Tadi malam apanya?" Rae balik bertanya dengan mimik pura-pura tidak mengerti.
"Haish...jangan pura-pura bego akh, ntar bego beneran, lho!"
"Ngomong apa sih, Em?"
"Itu...si Aluna, akh kamu jangan sok gak ngeh gitu, Beb." Emma dengan luwesnya meninju lengan Rae, yang membuat Rae meringis kesakitan, Emma mukul memang gak kira-kira kalau sedang gemas.
"Dia 'kan minta di hubungin tadi malam, katanya penting gitu. Terus nomernya dia sudah ku paketin ekspress ke kamau. Tentu saja aku harus tahu what happen something wrong anybody." Emma terkekeh asal sembur.
"Gak ada ngomong apa-apa." Jawab Rae sambil berusaha berjalan menuju selasar sekolah tetapi Emma dengan lincahnya menjadi portal di depannya.
"Eh, masa sih?'
"Terserah gak percaya."
"Gak masuk akal deh, dia gak ngomong apa-apa. Sumpah? kamu berani sumpah dicemilin ama demit?"
"Ih, segala sumpah-sumpahan, dosa kali!" Rae benar-benar kelabakan di cecar si bawel Emma ini pagi-pagi. Apalagi topiknya Aluna, yang lagi parkir manis di kepalanya, semakin tambah membuatnya salah tingkah.
"Terus, maunya kamu, dia ngomong apa ke aku?" Cecar Rae masam karena terpojok.
"Cinta!"
__ADS_1
Glegh!!! Rae nyaris tersedak mendengar ucapan Emma.
"Kamu ngomong apa'an, sih? Sudah-sudah, minggir dah." Rae mendorong bahu Emma dan berusaha kabur dari gadis ini. Tetapi bukan Emma namanya kalau gampang menyerah. Dengan langkah panjang setengah belari dia mengikuti kangkah Rae menuju koridor kelas.
"Beib, jujurlah sayang aku tak mengapa."
"Bodo, akh!"
"Biar semua jelas tak berbeda, jika nanti aku yang harus pergi, kuterima walau sakit hati..." Emma malah menyanyi dengan lantang meski suaranya sumbang sesumbang-sumbangnya. Tuhan memang adil, Emma punya wajah cantik tak bercacat, body macam model tetapi soal suara, tikus mungkin ngumpet, seni suara bukan bakatnya.
Beberapa anak yang melihat tingkah Emma hanya tersenyum saja, mereka sudah biasa melihat drama-drama yang di tunjukkan Emma saat bersama Rae.
"Yuk, ceritalah...gimana perkembangan hubunganmu sama Aluna?" Emma masih keukeh bertanya.
"Reseeee." Rae berlagak berang dan sensi. Mirip anak cewek yang baru PMS.
"Iih malu malu kucing dia. Malu-malu tapi mau..."
Ya Tuhan, sampai dagu Rae pun di sentil usil oleh Emma, tangan anak ini memang kelewatan terampil memang.
"Iissh." Tangan itu di tepis oleh Rae. Lalu segera masuk ke dalam kelas yang masih hanya ada satu dua orang di dalamnya.
"Ya, bebeb...aku kan pengen tahu juga. Itu lebah sama nyamuk apa sudah bersepakat bikin koloni perjodohan serangga lintas spesies gitu..." Emma cekikikan.
Aluna masuk, tepat saat Emma dan Rae sudah duduk tertib di kursinya masing-masing, menghantarkan tas mereka.
"Pagi saaaay." Riang Emma menyambut kedatangan Aluna pagi itu yang tampak segar dengan rambut agak lembab, setelah keramas. Aroma Stroberi bahkan masih lekat menusuk indra penciuman orang sekitarnya.
"Pagi Em. Pagi juga...Rae." Sapa Aluna dengan senyum manisnya yang malu-malu, semanis wangi stroberi di helaian rambutnya.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
__ADS_1
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...