
Sumpah demi apapun, suasana hati Rae tidak sedang baik-baik saja. Ia dongkol, kesal, malu campur baur, perasaannya lagi tak karuan pada mamanya yang seenak udelnya menjemput tanpa di call dulu bahkan bersama antek-anteknya yang super pecicilan itu.
Dia ingat bagaimana Aluna melongo mendengar celotehan adik-adiknya yang hampir 80 persen menjatuhkan harga dirinya saja, entah dimana harga dirinya di mata gadis pujaannya itu. Lelah ia membangun imej coolnya selama ini tetapi saat harus bersama Ry dan Rey, dia menciut tak berarti di depan Aluna.
Mobil memang tidak terkunci karena mommynya sudah mengklik open tadi pas dia keluar. Tapi hallo … AC gak nyala donk, jika kontaknya masih di tangan sang mama.
Lebih dari 20 menit Rae duduk diam dalam mobil dengan pintu yang terbuka sedikit, menunggu sang mama menyelesaikan obrolannnya dengan Melisa yang entah seru sekali, dia bahkan lupa segera pulang sesuai rencana tadi bahkan Tante Melisa berhasil menahan sang mommy dengan entah topik apa sehingga mengalahkan tema materi yang dirinya dan Emma juga Aluna bahas tadi di dalam. Sebal…? Ya sebal, dong!
Andai Aluna sedikit peka, dia keluar saja dulu nyamperin Rae, menemaninya mengobrol atau paling tidak pandang-pandangan.
Glegh!
Rae menepuk pipinya, khayalannya kok sampai seperti itu, dia merasa geli dengan kelebayan perasaannya sendiri.
Untunglah sebelum dia keluar dari mobil untuk melancarkan demo pada sang mama, si kembar sudah muncul di ikuti sang mama dan tentu saja di antar tante Melisa.
Rae sempat celingukan mencari sosok Aluna, siapa tau ikut mengantar kepulangan sang mama tetapi tak nampak batang hidungnya.
Bisa-bisanya otak Rae berharap seperti itu, belum sejam lepas pandangan dari wajah Aluna kok berasa kangen? Hedeeewh, Rae menyadarkan dirinya, jatuh cinta segini amat, ya?
“Kakak kok mau – maunya sih nunggu di mobil. Ngobrlo di dalam kenapa? Seru lho tukar cerita sama kak Luna dan kak Emma, mereka up to date banget sama fashion, k-pop. Besok–besok kalo ke sini, ajak kita ya kak. Biar lama ngobrolnya.” Celoteh Ry saat sudah sukses mendaratkan b0kongnya di kursi belakang.
“Seru kepalamu!” Jawab Rae masih dongkol setengah mati.
__ADS_1
“Rae, kenapa sih ngomongnya gitu amat sama adikmu?” Sarah mendelik ke arah Rae yang bibirnya masih rata, mirip centong nasi.
Suasana hening mencekam. Sarah tau anak laki-lakinya sedang dalam mode marah. Sarah tidak pernah tertarik bicara dengan seseorang yang keadaan kepalanya sedang panas. Persis seperti bagaimana ia meladeni suaminya Raka. Jika dalam mode seperti ini, bukan solusi yang mereka dapatkan. Tapi hanya dialog narasi panjang, berujung salah paham. Dan diam adalah jurus terjitu untuk mengahdapi orang tipe ini.
“Eh … tapi gak nyangka lho. Kak Emma juga punya selera dan penilaian yang sama soal kak Jordy.” Rey meyeletuk dalam keheningan.
“BERISIK … !!!” bentak Rae menoleh ke arah dua adik di belakang kursinya.
“Rae!” Sarah menggunakan nada sol, untuk menyebutkan nama anak laki-lakinya. Kemudian laju mobil itupun stabil dan lancar menuju kediaman mereka. Dengan tatapan kepala ke arah yang di sukai masing masing. Tanpa ada kata-kata apapun lagi yang keluar dari mulut mereka berempat.
Jam makan malam tiba. Seperti biasa keluarga yang hangat dan harmonis itu selalu berusaha membiasakan diri untuk makan malam bersama, tanpa ada yang kurang seorang pun. Kecuali sang daddy sedang di luar kota. Mereka hadir lengkap. Hanya susana lebih mirip kuburan. Hanya suara sendok yang beradu, pertanda proses pemindahan makanan ke mulut itu berlangsung dalam tempo cepat. Entah, siapa yang memberi mereka aba-aba. Seolah mereka sedang dalam acara lomba makan cepat saja.
Raka adalah satu-satunya orang yang tidak tahu duduk persoalan antara anak-anak dan istrinya. Tapi nalurinya berkata jika orang-orang yang sedang makan bersamanya sedang dalam keadaan tidak seperti biasanya. Seperti telah terjadi sebuah kejadian luar biasa. Namun, ia masih ingin menikmati hidangan makan malam itu dengan hikmat. Sehingga ia memilih tidak bertanya dan tidak bertanyae-tanyae. Takut di kira kepo.
Raka mendidik anak-anaknya tidak dengan cara berdebat tetapi lebih ke arah pendekatan secara personal. Dia tahu suasana sedang tidak baik-baik saja di antara para buah hatinya itu jadi dia nemilih hanya mengamati saja.
“Ry, Besok ada ujian, sayang?” tanya Raka mendekati si bontot. Yang terlihat sedang konsentrasi dengan pensil dan kertas gambarnya.
“Gak Dad. Hanya beberapa hari ini otak Ry penuh dengan ide ini. Gak tau kenapa, kok suka membayangkan desain pakaian dan model-model gaun pesta.” Jawab Ry bangga memamerkan hasil gambarnya pada sang ayah.
"Waaaah, bagus sekali, sayang." Raka membeliak takjub melihat hasil karya sang anak.
“Good Job, sayang. Kamu memang luar biasa. Bakat mamamu sudah mengalir. Teruskan, ya sayang.” Raka mengusap pucuk rambut Ry, ia ingat betul dulu Sarah adalah perancang gaun yang sangat handal juga detail. Tak heran bukan, jika salah satu dari bayi-bayi kecilnya kelak akan mewarisi skill dan bakat sang bunda.
__ADS_1
“Kalo kamu, sibuk apa Rey?” Kini giliran Raka mendekati gadis kecilnya, yang guling gulingan di atas tempat tidurnya tak jelas ketika melihat daddynya datang dengan enggan dia duduk di atas tempat tidur dengan tetap dengan kesibukannya.
“Ini, Rey sedang menonton Youtube.” Jawabnya tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar ponsel, daddynya yang ganteng ini serasa di kacangin.
“Serius sekali, nonton apa?” Raka mensejajarkan duduknya dengan Rey.
“Acara kompetisi memasak Dad.” Jawabnya melirik ayahnya sebentar.
“Anak daddy ini mau jadi chef, ya ?” tanya Raka memastikan, seraya mengerutkan keningnya.
“Mau jadi nonton aja, dad. Siapa tahu makanannya muncul sendiri” Jawabnya sambil tertawa dan mempause tontonannya.
“Hah kamu ini.” Raka ikut tertawa mendengar kelakar putrinya itu.
“Iya … dad, Rey suka liat orang memasak. Sepertinya itu kegiatan sederhana, tapi mampu membuat orang lain bahagia lewat hasil makanannya. Kalau orang mencicipinya dan puas dengan rasanya, kyknya excited banget.” Ya tubuh Rey memang sedikit lebih montok gemoy di bandingkan Ry. Dia termasuk suka ngemil dan kulineran, dia lebih suka makan ketimbang kembarannya. Paling tidak bisa jauh-jauh dari cemilan.
“Belajar masak sama mommymu sana. Mommy kamu jago banget masak. Daddy kalau lagi keluar kota paling kangen sama masakan mommymu. Dia apa aja bisa.” Puji Raka untuk Sarah, senyumnya merekah membayangkan sang istri, memang Raka sebucin itu pada Sarah bahkan meski sudah bertahun-tahun menikah tetap saja dia merasa selalu jatuh cinta dengan istrinya ini.
“Mommy multitasking banget ya dad. Apa karena itu dady cinta mama?” Ry nguping pembicaraan Rey dan daddynya, meski dia masih asyik dengan kertas dan pensilnya. Ry dan Rey satu kamar memang sejak kecil, mungkin karena mereka kembar hanya ranjang dan meja belajar mereka yang terpisah.
“Cinta-cinta. Memangnya kamu tahu apa cinta? Anak eS eM Pe, sekarang udah kenal cinta, ya?” pancing Raka pada kedua anak kembarnya.
__ADS_1
...RAKA...
(terimakasih tetap setia dengan novel ini, author janji akan menyelesaikan novel ini segera😅 Tetap tamat, kok...yuk di komen, like deh buat yang masih stay. I luv u buat semua🤗🤗🤗)