
“Luna pulang, tante…” Luna menyapa tantenya, Melisa, yang sedang duduk di ruang keluarga. Tante Melisa sibuk dengan e-padnya, memeriksa beberapa desain baju yang dikirimkan dari butiknya. Tantenya itu, kakak kandung papanya, Darel, yang kini menjadi tempatnya tinggal, sementara papa dan mamanya berada di Paris. Mamanya, Anin, meneruskan S-2 sedangkan papanya selain sedang mengembangkan kerjasama dengan salah satu perusahaan di sana, juga menempuh pendidikan S-2 juga.
Aluna sangat tahu kebucinan papanya itu kepada sang mama, yang enggan membiarkan sang mama berada di luar Negeri sendiri. Bukan karena papanya pencemburu tetapi lebih kepada dadnya itu yang tak bisa hidup tanpa sang mama.
“Hai, sayang…ganti bajumu dulu.” Tegur tante Melisa sambil mengalihkan sejenak pandangannya dari layar e-padnya.
Aluna meletakkan tasnya di atas meja dan melepaskan sepatunya, seorang asisten rumah tangga segera menghampiri dan membereskan barang-barang Aluna.
Melisa dan Jordan suaminya mempunyai tiga orang anak, yang pertama adalah Rafa dan Reya, pasangan kembar yang kini sedang berada di luar negeri, kuliah di London. Anaknya yang ketiga bernama Jordy, sekarang duduk di kelas tiga SMA, satu sekolah dengan Aluna.
Aluna sendiri keponakan kesayangan Melisa, dia sangat dekat dengan Aluna, karena itulah saat orangtua Aluna memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar Negeri, Melisa meminta Aluna tinggal bersamanya. Jordy sepupu Aluna juga dekat dengan sepupunya itu, sejak kecil fisik Aluna tidak begitu kuat, dia rentan sakit, karena itu juga semua orang merasa berkewajiban melindunginya.
Orangtua Aluna memang memilih untuk selalu bersama-sama karena saat awal pernikahan mereka, kedua pasangan suami istri itu pernah merasa LDR 3 tahun dan sangat tidak nyaman, apalagi pernah ada salah satu rekan bisnis Darel, ayah Aluna yang mencoba untuk menjebaknya dan menghancurkan pernikahan Anin dan Darel.
Cerita lucu di balik kelahiran Aluna, di mana momnya itu melahirkan pada usia kandungan tujuh bulan, lebih awal dari seharusnya karena sang mom salah faham dengan dad Aluna. Dia cemburu pada seorang perempuan yang mengirimkan fotonya bersama sang papa, yang ternyata papanya itu korban perempuan yang juga adalah kolega dalam dunia kerja itu.
“Dad kapok LDR dengan mom.” Itu yang di ucapkan sang ayah. Darel selalu mengingat bagaimana sengsaranya terpisah dari Anin bahkan ampai harus menunda kehamilan Anin, sampai-sampai Aluna lahir sesaat sebelum Anin wisuda.
Karena fisik Aluna sejak bayi sedikit lema, orangtuanya dan semua keluarganya begitu posesif pada gadis cantic ini. Bahkan sang papa menyediakan seorang bodyguard merangkap sopir untuk Aluna.
“Tante, Aluna capek…” Ucap Aluna manja sambil mengusap kepalanya yang masih terasa pusing sedikit, bekas tumbukan bola basket di kepalanya tadi lumayan keras jadi cenat-cenutnya masih terasa kalau ndia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu nggak sakit kan, Lun?”
“Enggak Tante, Cuma Luna hari ini sedikit capek.” Sahut Aluna sambil membaringkan kepalanya di lengan sofa. Dia enggan menceritakan insiden yang terjadi padanya hari ini, karena bisa membuat gempar bahkan kabar itu akan sampai paris dalam beberapa menit jika dia menceritakannya. Mereka over protektif padanya padahal dia merasa, dia tak selemah yang mereka fikirkan.
“Kak Jordy belum pulang tante?” tanya Aluna sambil berbaring miring menghadap tantenya itu.
__ADS_1
“Belum. Kalian tidak ketemu tadi di sekolah?”
“Kak Jordy sepertinya sibuk dengan lomba futsal antar sekolah, jadi sampai hari ini aku belum ketemu dia di sekolah.” Jawab Aluna sambil memainkan handphone di tangannya.
“Dadmu tadi barusan telpon.”
“Dad bilang apa?”
“Nanti malam dia mau telpon kamu.”
“Oh…”
Hawa dingin dari pendingin udara terasa nyaman, membelai tubuhnya yang masih menggunakan seragam lengkap.
Ingatannya melayang sejenak pada kejadian saat dia secara tidak sengaja menabrak Rae di depan kelas tadi. Meskipun dia merasa kesal dengan Rae tetapi hatinya merasa tak enak saat tahu, Rae di hukum berdiri di luar kelas karena telah membuat Aluna pingsan. Sebenarnya dia senang dengan penderitaan Rae, tetapi anehnya ada perasaan yang menjalar di luar nalarnya, melihat wajah dingin dan acuh tak acuh Rae saat bersandar di tembok sekolah itu.
Rae tak berbicara sepatah katapun padanya saat melewati mejanya, ketika dia di ijinkan mengikuti pelajaran kembali, tetapi wajah dingin Rae itu menghantui nya sampai saat ini.
“Ukh!” Aluna menepis bayangan wajah Rae, kemudian dipejamkannya mata, entah mengapa semakin terasa terasa berat. Dan akhirnya dia tertidur di atas sofa itu, mungkin karena memang sedikit keleahan hari ini.
Tiba-tiba dalam rasa nyaman, tubuhnya seperti diraih oleh seseorang, dalam kantuk yang luar biasa dia tak bisa
menolak nyamannya meringkuk dalam pelukan. Seperti pelukan papanya. Hangat dan nyaman.
“Papa…” Aluna berusaha mengeluarkan suara
tetapi seperti hilang di kerongkongannya. kemudian dia merasakan seperti tubuh sedang melayang di udara,
__ADS_1
“Apakah aku sedang terbang?”Aluna bertanya pada dirinya sendiri.
“Hey, bagaimana mungkin aku terbang, aku kan sedang ngobrol dengan tante Melisa? Apakah aku sedang bermimpi?” Aluna semakin meringkuk, mungkin karena dia sangat merindukan papanya jadi dia sampai-sampai bermimpi di peluk oleh papanya.
“Stt…kamarnya di situ ya, di sebelah kiri…” Lamat-lamat Aluna mendengar suara tante Melisa dalam volume suara yang meang di buat rendah.
“Iya, tante…”
Ufs, suara berat seorang laki-laki asing yang tersa sangat dekat dengan telinganya, sangat dekat!
Aluna sekuat tenaga berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan membuka matanya lebar-lebar.
Seketika tubuhnya mengejang, urat syarafnya seakan kaku, matanya bulatnya membeliak pada rahang yang tegak menghadap ke depan. Wajah mereka hanya berjarak dua kilan saja. Aluna bahkan tal kuasa menegakkan kepalanya yang bersandar. Dan dalam kesadaran penuh dia menyadari bahwa sekarang dia sedang berada dalam gendongan seorang laki-laki.
“Hey, kamu siapa?” Aluna melepaskan diri dari pelukan lengan kokoh yang tengah menggendongnya itu dan berusaha melompat ke lantai. Tetapi dia memeluk Aluna dengan begitu kuatnya.
Laki-laki itu menundukkan wajahnya, sesaat mereka saling bertatapan selama bebarapa detik.
“Kamu siapa? Kenapa kamu menggendongku dengan sembarangan!” Aluna berontak, seketika laki-laki ini melonggarkan pelukannya dan Aluna mendarat dengan mulus di atas lantai tepat di depan kamarnya.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1