CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 12. Lebah dan Nyamuk


__ADS_3

“Menolongku?”


“Kamu beruntung, bahkan aku rela di timpuk bola basket sepuluh kali demi di gendong oleh Rae.” Emma terlihat manyun.


“What? Digendong Rae??? Are You kidding me?” Handphone Aluna hampir jatuh dari genggamannya karena shock.


“Ya, dia langsung menggendongmu saat melihat kamu pingsan, aku nggak pernah lihat Rae secemas itu…”


“Dia tidak macam-macam kan denganku?” Aluna bertanya dengan setengah gugup.


“Maksudmu? Macam-macam bagaimana?”


“Dia enggak men…menciumku, kan?”


“Menciummu?” Emma terlihat hampir kelojotan mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Aluna.


“Dia…maksudku…dia nggak memberiku nafas buatan …atau semacamnya?” tanya Aluna dengan pias malu dan tegang.


“Nafas buatan?”


“Aku kan sedang gak sadar kan diri? Bisa ajakan?”


“Haish…ku kira kamu itu bener pintar, Lun…tapi ternyata ada bego-begonya juga. Mana ada dia kasih nafas buatan


untukmu! Memangnya kamu pingsan gara-gara kelelep apa?” Emma hampir ngakak mendengar pertanyaan Aluna.


“Eh…” Aluna segera sadar dengan bodohnya pertanyaan yang di ucapkannya sendiri.


“Ternyata hapal segala rumus fisika sama kimia juga nggak terlalu baik, masa nafas buatan” Emma terkekeh sambil mengoceh sendiri. Aluna tidak menanggapinya, dia pura-pura sibuk membuka handphonenya.


“Tapi…aku iri banget pas lihat Rae menggendongmu, vibesnya kayak pangeran yang…”


“Please, nggak usah di lanjutkan!” Aluna menyela sambil melambaikan tangannya kepada Emma.


“Dia bener-bener kurang ajar.” Wajah Aluna memerah ketika Aluna menatapnya tak berkedip, terlihat terpesona dengan bagaimana Aluna menolak membayangkan dirinya berada dalam pelukan Rae selama dia tak sadarkan diri.


ALuna beranjak menuju pintu dengan salah tingkah dipelototi Emma sedemikian rupa,


“Hey…kamu mau kemana?”


“ke kelas.”

__ADS_1


“Tapi seharusnya kamu istirahat dulu di sini, aku sudah ijin menemanimu dengan bu guru di ruang UKS.”


“Nggak…aku sudah baik-baik saja.” Aluna ngeloyor pergi dengan menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Emma.


"Hey, Lun! kamu baring aja sini, kita berdua kan bisa aja ngobrol aja, gak perlu masuk kelas, hitung-hitung bolos secara legal." Emma mengikuti langkah Aluna sambil berusaha membuat Aluna kembali.


"Males, ntar di kira si nyamuk itu, aku drama lagi." Ucap Aluna sambil bersungut. Langkahnya semakin lebar, melewati lorong beberapa ruangan, meninggalkan UKS room setengah tergesa.


"Ah, drama dikit juga gak apa-apa, yang penting gak masuk kelas, aku lagi gak minat belajar nih, Lun."


"Memangnya kapan kamu pernah minat belajar?" seloroh Aluna sambil tersenyum kecil, biar bagaimanapun sebagai murid baru yang masih belum terlalu mengenal lingkungan sekolahnya yang baru itu, Emma adalah satu-satunya teman dekatnya sekarang, meski tingkahnya yang pecicilan itu tapi Emma adalah teman yang baik.


"Aku minat kadang-kadang kalau yang masuknya pak Adzar." Sambut Aluna sambil cengengesan, sekarang dia berhasil menjajari langkah temannya itu.


"Pak adzar?"


"Iya, Pak Adzar, guru bahasa Inggris. Kamu belum pernah ketemu, sih..."Aluna berseloroh dengan bangga, dia senang menceritakan guru Idolanya itu.


"Memangnya kenapa dengan pak Adzhar?"


"Dia tampan...tampan banget kayak aktor Turki. Dia adalah cinta pertamaku di sekolah ini."


"Eh..." Aluna sesat melirik pada Emma, seolah temannya ini benar-benar mahluk ajaib yang luar biasa, mengatakan cinta seperti meludah saja.


"Nyamuk?"


"Iya."


"Maksudmu Rae?" Emma melotot pada temannya itu dengan mata sebesar kelereng.


"Iya, siapa lagi?" Jawab Aluna sambil nyengir.


"Astaga, kalian berdua ini memang anehnya naudzubilah. Dia memanggilmu lebah dan kamu memanggilnya nyamuk. Memangnya kalian ini sebangsa serangga?" Emma menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan heran sambil tetap menjaga ritme langkahnya supaya berada di sebelah Aluna. Lorong yang mereka lewati memang tampak sepi, karena sekarang jam pelajaran masuk, tak ada siswa yang berlalu lalang seperti pada saat jam istirahat.


"Dia memang nyamuk. Bising dan nyebelin. Melihatnya bikin badanku terasa gatal-gatal."Sahut Aluna, mulutnya meruncing dengan pias masam.


"Eh, tapi bukankah kamu menyukainya, Em? Selama ini kamu terlihat dekat dengan Rae dan selalu memanggilnya bebeb?"


"Sttt...dia adalah pacarku di dunia haluku yang indah, pak Adzar adalah laki-laki dewasa pertama yang membuatku jatuh cinta, dan kak Dandy adalah calon suamiku di masa depan."


Aluna menghentikan langkahnya dan melongo pada Emma.

__ADS_1


"Siapa lagi itu kak Dandy?" tanya Aluna dengan bingung, memastikan Emma tidak sedang mabuk saat berbicara dengannya.


"Kak Dandy kakak kelas kita, dia cassanova yang penuh kharisma, dia tampan dengan banyak cewek di sekelilingnya, aku berharap suatu saat akan menjadi gadis beruntung yang bisa menghentikan pertualangannya, dia di cap playboy tapi aku tahu saat dia lelalah bertualang, dia kan berhenti di aku."


"Oh, my God..." Aluna menepuk jidatnya sendiri mendengar ceracau dari Emma yang terdengar tak masuk akal itu.


"Kenapa omonganmu semakin ngelantur begitu? atau jangan-jangan kamu kerasukan? Kamu terlalu cepat dewasa dari seharusnya, Em. Kita masih kelas satu SMA, kejauhan mikirnya sampai ke sana." Aluna menepuk bahu temannya itu sambil tergelak.


"Itulah bedanya kamu dan aku besti." Emma balik menepuk bahu Aluna dengan tatapan menghiba yang lucu.


"Kamu terlalu serius sampai-sampai lupa untuk mengenal cinta. Mama bilang, biarkan cinta datang menyapamu kapan saja, karena dia akan tepat waktu meski kamu melihatnya mungkin terlalu cepat atau terlalu lambat."


"Owh...fix kamu dan mamamu korban drama korea." Tidak pernah Aluna merasa geli seperti ini, mendengarkan ocehan Emma. Temannya ini benar-benar manusia langka, dia lucu dan benar-benar kadang berbicara melawan logika.


"Tapi biar begitu, mamaku itu mantannya  papamu, lho." Emma merengut sambil mengingatkan,


"Eh, aku belum konfirm ke ayahku, jadi informasi kalau dad ku itu mantan mamamu belum pasti." Tolak Aluna, sambil berbelok, ruangan mereka ada setelah belokan ruang OSIS di depan.


"Awh!" Aluna hampir terjatuh saat tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri sambil bersandar di depan tembok ruangan kelas mereka.


Sebelum dia tersungkur kedepan, tangan kokoh menahan tubuhnya, membuatnya secara tak sengaja berada di dalam pelukan yang menahannya itu.


Aluna mendonggak dengan gelagapan, dan wajahnya hampir bertemu dengan wajah yang sangat di kenalnya.


"Rae!" Belum sempat Aluna menyebut namanya, Emma sudah berteriak dengan surprise.


"Bebeb, kenapa kamu di sini?"


Aluna segera menarik tubuhnya dengan wajah merona,


"Kenapa kamu berdiri di jalan begitu? menghalangi orang saja!" Semprot Aluna.


Rae menatap tajam pada Aluna,


"Kalau jalan pakai mata! Siapa suruh jalan sambil ngoceh." Balas Rae dengan dingin lalu kembali bersandar di dinding tepat di samping pintu masuk. Dia kembali ke posisinya sambil melipat tangan di dada, seolah sedang menunggu sesuatu.




Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2