
“Cinta-cinta? Memangnya kamu tahu apa cinta? Anak eS eM Pe, sekarang udah kenal cinta, ya?” pancing Raka pada kedua anak kembarnya.
“Hahaha … daddy mah suka ketinggalan. Anak es em pe juga manusia, sudah tau dong kalau cinta itu adalah perasaan antara satu individu dengan individu lainnya, Cinta itu tidak bisa dilihat secara nyata, namun hanya bisa dirasakan pada setiap orang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia di sekolahan Ry pernah baca cinta berarti suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat, ingin sekali, berharap sekali, rindu, khawatir, dan risau." Ry menghentikan pekerjaannya, sekarang malah dia bersikap seperti seorang guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran.
"Iya, dad...Pada dasarnya cinta termasuk bagian hidup kita, orang gak bakal bisa hidup gak ada cinta dan kadih dari orang-orang sekitarnya. Contoh sederhana, dad...Rey gak bakal bisa hidup kalau mommy gak cinta sama Rey karena cinta Rey di lahirin terus di rawat, terus gak bakal ada tuh Abang Rae, Ry sama Rey kalau daddy sama mommy gak ketemu dan saling jatuh cinta" Timpal Rey dengan penuh semangat, duo ini memang cocok kalau lagi bahas sesuatu sama-sama tak mau kalah.
"Astaga, anak-anak daddy ini sudah besar semua ternyata, bisa-bisanya ngerti soal begitu." Raka menepuk jidatnya sendiri, tertegun dengan pendapat dua putrinya yang selalu di anggapnya masih kecil terus itu.
"Daddy tahu gak ciri-ciri orang yang lagi jatuh cinta?" Tanya Ry tiba-tiba dengan wajah masam-mesem.
"Apa?"
"Saat kita mencintai seseorang, pastinya kita akan selalu senang dekatan sama orang itu terus rasanya pengen berduaan terus kayak jalan berdua, makan berdua, ngobrol berdua, pokoknya apa-apa maunya berdua."
"Haaaah, masa begitu?" Raka melongo mendengar ocehan Ry yang tak di sangkanya.
"Terus dad, kalau jauh-jauhan rasanya suka sedih, suka kefikiran, suka kangen gitu. Kayak daddy yang kalau gak ada mommy pasti video callnya kayak minum obat itu, dad. Dan karena cinta daddy suka muji-muji mommy terus, pokoknya di mata daddy, mommy itu the perpect woman." Rey menyela dengan riang.
"Astaga...astaga, kata siapa begitu, sayang?" Raka mulai kelabakan, pendapat anak-anaknya ini benar-benar menunjukkan bahwa mereka mengerti luar biasa biasa tentang apa itu cinta, padahal mereka sekali lagi masih anak bawang.
"Kata google!" Jawab kedua kembar ini nyaris bersamaan.
"Oalah, sayang. Google ini bikin kalian cepat dewasa dari umur..." Raka geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ya, iyalah dad...persiapan mau masuk eS eM A, dad. Supaya gak kaget kayak kak Rae.” Ry mengikik sambil melirik Rey.
Eh buset, itu mulut apa ember sih. Bocor banget deh perasaan. Itu mulutnya si Ry. Si paling ceriwis.
“Emang kak Rae kenapa?” mungkin ini kesempatan bagi Raka untuk tau apa penyebab kebisuan yang terjadi di meja makan tadi.
Dua anak gadis Raka itu saling pandang lalu dengan kompak mereka menjawab dengan nada yang benar-benar nyebelin.
“Dady nanya …? Dady bertanyae - tanyae…?”
Tuh kan, Raka tetap kena jebakan Batman yang ia hindari sejak tadi.
"Yeaaay, tumben daddy kepoan gitu?" Di sambut tawa Ry dan Rey.
"Buktinya itu tadi, daddy nanyain abang Rae?"
"Ih, daddy kan cuma nanya gak kepo. Sudah, akh...lanjutin lagi kerjaan kalian, daddy mau tidur aja." Dengan cueknya Raka meninggalkan mereka yang kini justru berada dalam mode bingung. Tak mengira ayahnya merespon sedatar itu.
"Yeay, daddy kok ngambekan kayak mommy gitu, orang cuman becanda, kayak yang lagi viral itu, Dad..."
...***...
Sementara di kamar Rae, sudah ada Sarah yang dengan sengaja masuk lalu memutar knop kunci pintu, agar pembicaraannya tidak di ganggu oleh siapapun, tidak juga Raka.
__ADS_1
“Sibuk Rae, mama boleh ganggu?” tanyanya sopan sambil membawa potongan buah pepaya dalih-dalih buah ini untuk memperlancar metabolisme kata Sarah Sebab Sarah tadi lumayan banyak makan, akibat terbawa suasana emosinya, perempuan memang suka gitu kalau emosi bisa lupa melahap dua piring nasi.
“Ga ganggu, kok ma.” Jawabnya sambil menutup bukunya. Tentu saja Rae bohong. Kedatangan mamanya jelas sangat mengganggunya, waktu Lomba Karya Ilmiah Remaja itu sudah semakin dekat. Dia butuh waktu yang banyak untuk belajar ekstra menggarap bab 3 sebelum penelitiannya.
“Mama Cuma mau minta maaf." Sarah duduk di pinggir tempat tidur Rae, membiarkan sang anak bujangnya ini berpaling padanya sembari tetap duduk di kursi belajarnya.
"Maaf untuk apa, ma? mama gak ada salah kok dengan Rae." Jawab Rae dengan ogah-ogahan.
"Itu tadi, mommy sempat bentak Rae di mobil di depan adik-adikmu, seharusnya mommy tidak berlaku kadar begitu. Dan Juga mama mau minta maaf..." Sarah terdiam sesaat menatap lurus ke mata anaknya sebelum Rae menunduk, menghindari tatapan sang mommy.
"Karena sudah menjemput Rae bersama Ry dan Rey. Mommy kayaknya salah deh, terlalu berpikir ekonomis, Mommy kira dengan jemput kamu sekalian bisa mengirit waktu dan bahan bakar kendaraan jadi sepulang menjemput adikmu les tadi mommy langsung mampir menjemputmu dari belajar kelompok dengan teman-temanmu." Dalih Sarah, tampaknya sedikit cari-cari alasan, masalahnya secara rasional mommy dan daddynya itu pemilik tunggal perusahaan Rudiath-Wijaya Group, masa iya sih mikir ngirin bensin dan semacamnya.
Rae tak menjawab, dia pintar jelas tak akan menerima begitu saja alasan sang mommy.
"Eh gini maksud mommy." Sarah menangkap keraguan di lirikan Rae.
"Sebab, jika mommy mengantar mereka terlebih dahulu. Akan banyak membuang waktu, bisa saja, setelah magrib mommy baru tiba menjemputmu dan mereka itu kan' muslim, sayang. Mungkin dengan adanya kamu di sana membuat mereka tertunda untuk melakukan ibadah sholat atau semacamnya. Itu tidak baik, lho. Jangan karena kehadiran kita menunda orang lain beribadah." Sarah menerangkan maksudnya sekaligus membuat anaknya tidak lagi menyimpan salah paham terlalu lama padanya. Sebagai orang tua, tidak ada salahnya meminta maaf pada anak jika kita merasa perbuatan kita tidak benar atau tidak adil, dengan begitu kita bisa mengajarkan anak lebih mudah meminta maaf pada orang lain sekaligus berusaha mengatasi kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
"Sekali lagi maafkan mommy.” Ucap Sarah lembut, pelan tetapi tetap tegas pada Rae.
(Kadang-kadang kita harus menempatkan diri menjadi teman bagi anak meski di waktu yang lain kita harus tetap tegas dan bijak. Anak adalah peniru ulung terhadap apa yang dilihatnya, anak adalah tukang copy terbaik atas lingkungannnya, sehingga sebagai orang tua kita harus tetap berdiri sebagai pengarah)
Yuuuuuk, author tunggu lho dukungannya, biar novel ini cepet tamat. Novel ini ringan aja buat hidup kita yang sudah berat🤣🤣🤣 luv u all😘😘😘)
__ADS_1