
Keseharian Rae, Aluna dan Emma kini sama. Pandangan mereka tak pernah jauh dari buku. Otak mereka hanya di isi dengan semua materi LKIR mereka. Mereka begitu serius menyelesaikan penelitian ilmiah remaja itu dan waktunya mereka mengirim naskah penelitian bersama beberapa sekolah se kota Surabaya. Ini tidak main-main. Kompetisi ini besar. Bahkan hadiahnya nanti akan berpengaruh besar pada sebuah Universitas ternama yang tentu akan memberikan mereka beasiswa. Semua anak berprestasi tentu sangat mengejar ini sebagai impian mereka untuk meraih cita-cita.
Bu Nila sebagai guru yang di tugaskan untuk memfasilitasi tim Rae untuk ke tempat acara lomba berlangsung. Dan kini Rae, Emma dan Aluna semakin menjadi tim yang sangat Solid. Bukan hanya mereka yang berambisi untuk menang. Ini adalah kompetisi tentu bukan hanya mereka yang sedang berjuang, tetapi sekolah lainpun melakukan usaha sekuat tenaga.
Babak penyisihan di ikuti oleh 57 sekolah yang merasa memiliki siswa yang mampu untuk bersaing. Bahkan satu sekolah ada yang mengirimkan dua kelompok demi tercapainya harapan untuk menjadi pemenang. Sekolah Rae tidak mau mengambil resiko mengirimkan Tim yang banyak. Sebab bagi mereka itu akan berpengaruh pada biaya yang akan di keluarkan selama lomba berlangsung. Sebab Fasilitas yang sekolah mereka berikan bukan hanya tentang antar jemput. Tetapi, pakaian, makanan juga tempat menginap yang nyaman juga di siapkan untuk mendukung Tim Rae. Tidak banyaksekolah yang memberikan dukungan totalitas seperti sekolah Rae.
Baik guru maupun kepala sekolah tidak mau ambil pusing. Sebab acara itu di laksanakan di sebuah ballroom hotel. Maka pihak sekolah pun membuka dua kamar untuk Rae, Emma dan Aluna bisa beristirahat melepas lelah dan menyempatkan waktu untuk belajar. Arka juga menjadi incaran Bu Nila, untuk menemani Rae. Dengan alasan karena Arka adalah ketua kelas, maka ia bisa di andalkan sebagai official Tim Rae.
Penyisihan berjalan lancar. Bukan perkara sulit bagi tim Rae dan Aluna mempresentasikan penelitian mereka. Menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan analisis karya ilmiah mereka. Bagaikan kerupuk yang baru di goreng. Krik krik krik.
Dua jam kemudian, hasil mereka pun keluar. Tersisa beberapa sekolah yang mesti di adu kembali untuk mencari 10 besar untuk penelitian yang terpilih, ini berkaotan dengan hasil penelitian.
Pihak panitia memberikan waktu kurang lebih 1 jam kedepan, agar peserta lomba dapat menyiapkan diri untuk kemudian mengikuti kompetisi selanjutnya. Tidak salah bukan, pihak sekolah menyiapkan kamar khusus agar Tim Rae bisa fokus belajar, untuk di adu kembali.
__ADS_1
Pihak sekolah tidak bermaksud memanjakan peserta didik yang sudah di tunjuk untuk membawa nama sekolah. Hanya sekolah Rae memang termasuk sekolah favorit, sekolah swasta pula. Wajar saja orang tua merogoh kocek lebih besar untuk biaya ekskul, ini dan itu demi mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar yang memadai.
Bukan hanya siswa yang di tuntut disiplin, tetapi orang tua pun di minta untuk ikut andil dalam menberi dukungan secara moril dan materil untuk kesuksesan anak anak mereka.
Semua kesuksesan ini jelas menjadi tanggung jawab bersama antara pihak sekolah, lingkungan dan orang tua siswa itu sendiri.
“Uuuuh lelah hayati otak ini terus di genjot untuk berpikir. Ternyata sepi juga tanpa tau kabar tentang para idola sekolah ya. Untung selalu bisa memandang wajah tampan Rae. Huuh … walau gak lama lagi Rae sudah akan menjadi haram untuk di pandang.” Celetuk Emma saat merebahkan punggungnya di atas kasur empuk di sebuah kamar hotel yang di sediakan untuk mereka.
“Haram kenapa …?” tanya Aluna menoleh pada Emma yang sibuk menscroll layar ponselnya.
“Kan sebentar lagi Rae jadi pacar Luna. Masa, aku masih boleh memimpikannya?” Emma memiringkan tubuhnya, agar bisa dengan jelas memperhatikan wajah Aluna yang bersemu merah muda.
“Jangan ngaco. Kalo mau tidur… kamu punya waktu 30 menit. Kalo mau belajar, juga ada sisa waku 30 menit. Pilih apa? Tidur atau belajar?” Aluna merengut dengan wajah serius.
__ADS_1
Mana mau dia meladeni Emma yang hobbynya ngobrol saja.
“Aku sebenarnya pilih mau makan. Seandainya ada burger atau ayam goreng, atau kentang goreng saja. Sepertinya dapat membantu energiku pulih.” Keluh Emma seolah ia sudah kerja rodi saja.
Tok
Tok
Tok
“Service room.” Suara laki-laki terdengar di balik pintu. Mendengar suara itu, Emma langsung melompat dari posisi tidurnya, lalu berlari ke arah pintu. Berharap itu petugas hotel yang akan menawarkan makanan untuknya yang tiba-tiba merasa butuh makan dan cemilan.
“Taraaa … KCF deliverry.” Ternyata itu Arka dan Rae yang membawa seplastik besar paketan makan dari spesialis tukang goreng ayam tepung nomor wahid se Indonesia raya.
__ADS_1
(Akak mulai up ya☺️ maafkan jika beberapa minggu akun akak mati suri, semoga ke depannya akak lancar nulis, ya🙏😅 Sayang selalu buat kalian yg msh setia🥰🥰🥰)