CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 45. Menandai Teritori


__ADS_3

Arka, Aluna, Emma dan Rae berjalan beriringan menuju kantin diiringi celotehan Emma yang tidak berhenti-henti. Emma memang pernah merasa jatuh hati pada Rae, cowok idola disekolah mereka. Tapi, perasaan Emma tak pernah konsisten, perasaannya labil suka oleng. Ia selalu terkena sawan mendadak tiap kali melihat mahluk bernama laki-laki entah yang sebayanya atau juga yang di atas usianya. Lututnya mudah bergetar saat melihat manusia berlainan jenis dengannya yang dalam penilaiannya macho. Pikirannya segera beralih secepat kilat saat sel otaknya bilang ciptaan Tuhan itu indah.


Bagi Emma, si Rae adalah kiblat ketampanan yang menggemaskan baginya, si Dandy yang urakan dan mata keranjang itu membuatnya merasa gugup bukan kepalang, Om Fan bodyguard Aluna itu membuat dirinya klepek-klepek. Bahkan pak Adzar, guru bahasa Inggris itu membuat Aluna mengklaim dirinya telah jatuh cinta untuk pertama kali.


 Tak heran, jika kemarin ia sempat ketar ketir di dekat Rae. Bahkan Rae yang sempat sebel dengan bahasa tubuhnya, sudah terbiasa sekarang dengan tingkah random Emma. Apalagi sekarang Emma bisa membaca bola mata Aluna. Ada bentuk love love samar tercetak dalam teduhnya bola mata teman barunya itu, tiap kali melihat


Rae. Dia ikhlas se ikhlas-ikhlasnya jika Rae menjadi kekasih Aluna, bestienya.  Emma mundur teratur, yakin jika Rae memang tak mungkin untuk di pertahankan untuk di raih. Dan tak masuk akal untuk di perebutkan. Toh, masih ada Dandy yang juga pernah membuat pikirannya cenat cenut tak karuan.


“Ah, stok pria tampan di dunia ini banyak banget. Duniaku gak kiamat kalau salah satu dari mereka di miliki sama temanku.” Itu adalah prinsip Emma.


Aluna hanya berjalan sambil menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah muda di pipinya saat Rae menunggunya agar bisa berjalan sejajar dengannya di iringi tatapan bebeberapa siswi yang berdiri di pinggir lorong ataupun yang berpapasan. Aluna sendiri sesungguhnya lemas, kakinya terasa tak berpijak karena perasaan yang tak bias dia jabarkan. Entahlah, ia tiba-tiba merasa tulang kakinya seperti kekurangan kalsium, sehingga begitu gontai untuk melangkah.


“Kamu sakit, Lun …?” tanya Rae yang sesungguhnya agak pegal berjalan di samping Aluna. Ia tak biasa berjalan selambat itu. Jarak mereka lumayan jauh tertinggal dari Arka dan Emma yang berjalan sambil cekikikan dan ngobrol absurd di depan mereka. Perdebatan mereka di kelas ytadi seolah tak lagi berbekas.


“Oh, aku baik-baik saja, kok.” Aluna menjawab dengan canggung sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga berusaha mengenyahkan sedikit rasa gugupnya dengan berusaha menjawab dengan santai pertanyaan Rae. Remaja tanggung itu sungguh merasa tersiksa berjalan selambat itu, berasa pengantin baru yang melangkah menuju altar saja.


Beberapa siswa cowok menatap ke arah mereka, apalagi yang terindikasi naksir berat pada Aluna langsung melotot. Sekilas Rae melihat seseorang berjalan di kejauhan, sepertinya Dandy dan Jordy. Seketika entah mengapa darah kompetrisinya naik melihat tampang ganteng Dandy yang flamboyant. Dia tahu benar Dandy terang-terangan menyukai Aluna.


“Apakah kamu bias berjalan lebih cepat? Takutnya cilok pedes di kantin dah keburu habis.” Oceh Rae sambil melirik ke arah Aluna. Yang dilirik terlihat salah tingkah dan berusaha memanjangkan langkahnya. Tiba-tiba Rae mundur sejajar tubuh Aluna. Kemudian meletakkan dua tangannya di bahu Aluna.

__ADS_1


“Permisi, ya …” Ucap Rae sambil nyengir kuda ketika menyentuh bahu gadis cantik pembuat onar dalam hatinya itu. Meletakkannya di sana, kemudian seolah mendorong tubuh ramping itu agar bisa lebih cepat melangkah mengejar Emma dan Arka yang berada di depan.


Aluna gelagapan seperti gerobak yang mogok di dorong, perlakuan Rae itu sungguh di luar perkiraannya.


Aluna  sejenak terkesiap, makin malu rasanya di pegang bahunya oleh lelaki yang sudah sering merenggut waktu belajarnya, akibat sekelebat bayangan Rae juga sering wara wiri dalam otaknya. Dia mempercepat langkahnya, berjalan tergesa mendekati Emma. Lalu meletakkan dua tangannya di bahu Emma dari belakang secara reflek.


 “Apaan siih, say …?” Emma menoleh ke arah tangan yang nangkring di bahunya. Ia melihat bahu Aluna pun sudah di hinggapi dua tangan Rae. Dengan sigap Emma meletakkan dua tangannya ke bahu belakang Arka.


“Ini apaan, sih …?” sergah Arka menoleh kebelakang melihat mereka sudah bagai barisan kereta api berjalan menuju kantin sekolah.


“Kamu ketua kelas, kamu juga kondekturnya, Ka.” Celoteh Emma yang selalu bisa menangkap situasi dengan otak encernya, mengurangi rona tersipu yang tersirat di wajah Aluna. Apalagi ketika matanya bersirobok sesaat pada Dandy yang menatap ke arah mereka. Dia tahu, bukan tanpa alasan si cool Rae ini bersikap begini. Dan penyebabnya sudah barang tentu saingan berat Rae, bestinya sepupu Aluna, si Jordy. Dengan cara terang-terangan, Rae seakan mengirimkan sinyal dan menandai teritorinya, bahwa Aluna tak bisa di dekati orang lain selain dirinya.


Baik Rae ataupun Aluna terselamatkan dari rasa malu yang muncul dalam hati mereka. Norak memang pemandangan itu, mereka lebih mirip anak TK yang sedang bermain ular naga panjangnya hanya demi berjalan ke kantin. Tetapi dengan begitu justru mereka terlihat akrab sebagai teman, tanpa perlu di curigai jika hati mereka sedang terjadi gempa kecil karena perasaan aneh yang melanda keduanya.


Aluna segera menarik tangan Emma agar duduk di sampingnya. Ia tidak mau Arka atau Rae yang duduk di  sebelahnya. Ia masih sangat gugup dekat dekat dengan Rae. Arka seolah tidak tau apa-apa, tapi instingnya kuat


atau Emma sudah membocorkan sesuatu padanya, sehingga mempersilahkan Rae yang duduk tepat


di hadapan Aluna. Ah, sama juga bohong bukan?  Aluna tak bisa menghindar kondisi itu.

__ADS_1


“Biar aku yang pesan untuk kita.  Kamu makan apa Lun?” tanya Emma bersemangat.


“Maaf, aku bawa bekal. Boleh pesankan air mineral saja untukku.” Jawab aluna pelan sambil berdiri dan mengambil  kotak makanan berwarna pink dari mbak Ning, pelayan kantin, kotak makanan itu di titipkan oleh Om Fan, Bodyguardnya setiap pagi. Seperti itulah tradisi Aluna , Arka dan Rae keheranan melihat pemandangan


itu. Bukankah Aluna anak SMA? tapi mengapa masih mau saja membawa bekal seperti anak TK.


“Hari ini bekalmu apa, Say?” Emma sudah hafal kebiasaan teman sebangkunya itu. Bahkan ia


suka mencicipi dan kepo apa saja bekalnya tiap hari.


“Aku dibekalin nasi bakar ikan salmon. Mau?” tawar Aluna pada Emma yang lehernya memanjang


mirip jerapah untuk melihat isi kotak bekal itu. Jelas itu adalah makanan mahal yang biasanya di buat sebagai menu pada hotel berbintang lima. Atau restoran-restoran mewah.


"Tante yang memasaknya untukku pagi tadi." Aluna menyeringai dengan bangga, tantenya itu memang suka memasak dan Aluna yang mempunyai kebiasaan serta beberapa alergi dengan makanan membuat sang tante semakin kreatif untuk membuat menu bekal buat keponakan kesayangannya itu.


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2