CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 72. Encok Mendadak


__ADS_3

"Yang mana?" Sarah menoleh kepada Raka dan pada saat itu bibirnya bertemu dengan bibir sang suami.


CUP!


Wajah Sarah langsung memerah, dan belum sempat dia protes Raka telah mendekapnya dengan erat.


"Sayang, kamu nakal..."


Kalimat itu terputus saat bibirnya telah di sumpal oleh bibir Raka, yang ini ciumannya lebih kuat dan mendominasi.


Sarah menggeliat di pangkuan Raka, dia menggelinjang geli ketika tangan Raka yang nakal mengeksplor beberapa bagian tubuhnya, menyusup di antara gaun tidurnya yang tak seberapa tebal.


"Shhhh..." Sarah akhirnya pasrah ketika Raka mulai membuatnya semakin ketagihan dengan sentuhannya yang kadang seperti mengelus permukaan kulitnya tetapi pada titik-titik tertentu seperti menekan dengan nakal.


Sarah meatap pada wajah Raka yang menantang tatapannya seolah sedang menata kesadarannya itu.


"Kenapa?"Raka mengernyit dahi dengan senyuma menggodw, ketika menyambut pandangan menuntut dari Sarah.


Sarah tersipu dia tak pernah bisa berhenti salah tingkah jika di tatap sedemikian rupa, kedua tangannya mengalung di leher Raka, lalu tanpa bicara dia meraih bibir Raka mendarat ciuman lembutnya di sana.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa berhenti?"Bisik Sarah dengan suara yang parau.


Raka menurunkan wajahnya dan sedikit menunduk, lalu kedua lengannya merengkuh punggung ramping Sarah sehingga gadis itu melengkung di dalam pelukannya.


Dengan bersemangat dipagutnya bibir Sarah yang basah dan panas itu, dilum*atnya dengan penuh gairah. Nafas mereka berdua saling berpadu sampai tersengal, berusaha saling membalas.


Ciuman yang entah keberapa kali ini, begitu panjang dan membuat mereka berdua bernafas nyaris tak beraturan.


Raka mendorong perlahan tubuh Sarah ke atas kursi, sampai istrinya itu terduduk di sana tanpa rela melepaskan ciuman yang panas itu, sementara dia sendiri berdiri seraya membungkuk.


Mereka berdua melanjutkan ciuman panjang itu, benar-benar penuh penghayatan.


Raka menarik wajahnya setelah sekian lama, menatap tubuh Sarah yang melengkung pasrah tersandar di punggung kursi.

__ADS_1


"Aku akan menggendongmu..." Ucap Raka yang akhirnya ngos-ngosan sendiri akibat perbuatannya.


"Kamu kuat?" Tanya Sarah dengan manja, matanya menatal geli pada lelaki yang sedang membungkuk itu sementara dia bersandar menata nafasnya sendiri.


"Hush, kamu ingat 15 tahun yang lalu?" Raka mengerling dengan raut soknya.


"Yang mana tu?" Sarah terlihat berpura-pura berfikir padahsl dia tidak berminat menggunakan otaknya untuk memikirkan perkataan Raka, otaknya sudah terlanjur mendidih oleh gairah yang sempat di tawarkan suaminya itu.


"Itu, waktu di Leiden."


"Ya, persisnya?"


"Yang aku menngendongmu dari lantai bawah menuju kamar di lantas atas." Raka berucap dengan wajah pongahnya yang lucu.


"Terus?" Sarah tersenyum kecil.


Sarah meatap pada wajah Raka yang menantang tatapannya seolah sedang menata kesadarannya itu,


sambil memicingkan matanya, seolah mengingat-ingat.


"Aku menggendongmu, ke atas dengan perkasa dan gentle. Malam itu rasanya aku begitu keren, seoerti di film-film. Kamu seperti seekor kucing manis hanya menatapku dengan tak sabar minta di ituuuuu..." Raka terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Sarah.


"Sembarangan!" Sarah mencubit perut Raka dengan muka masam, wajahnya merah padam.


Raka menangkap tangan itu lalu mengambil jemari sarah, menggenggamnya dengan erat lalu menatap terharu pada jari manis di mana cincin pernikahan mereka melingkar dengan manisnya.


Dengan lembut diciumnya jemari Sarah, sang istri. Entah berapa tahun sudah dia menghabiskan waktu dengan perempuan ini tetapi ternyata dia tak bisa berhenti berpaling dari perempuan yang dulu di lihatnya seperti lukisan di awal pernikahan, kaku dan dingin.


Dia merapatkan tubuhnya kepada tubuh Sarah, yang terpaku kaku menunggu itu, jemarinya menyusuri pipi Sarah sampai ke lehernya, lalu dengan perlahan wajahnya menyusup kesana, menghujaninya dengan ciuman. Sarah mendes@h dengan pasrah matanya terpejam menikmati semua sentuhan itu dengan badan panas dingin.


Jemari Raka bergerilya di antara dress tidur Sarah, menyusuri kulit mulus nan lembut yang ada di baliknya. Sarah bergelinjang, tangannya sendiri bertahan pada tubuh yang kini mendominasi berusaha membuat lehernya terkulai di sandaran kursi.


Sentuhan Raka tak pernah berubah tetap hangat dan menggairahkan sejak dulu sampai kini hampir enam belas tahun pernikahan mereka.

__ADS_1


"Aku benar-benar mencintaimu, sayang."Bisik Raka di telinga Sarah.


Sarah tiba-tiba mendorong tubuh Raka dengan raut pura-pura kesal.


"Kenapa?"Raka menghentikan gerakannya.


"Aku sudah kenyang mendengar rayuanmu itu.."Jawab Sarah masam.


Raka tertawa tergelak mendengarnya lalu dalam detik berikutnya tubuh Sarah sudah berada di dalam gendongannya.


"Pasti kamu tak sabar yaaaa." Raka mencium bibir Sarah sekilas, saat perempuan itu bergelayut manja di lehernya.


Lalu dengan sekuat tenaga dia hendak berjalan tegap.


Krek!


Pinggangnya berbunyi.


"Akh..." Raka mengernyit lucu, umur ternyata tak bisa berbohong meski dia rutin olah raga tetapi dia tak sekuat dulu urusan bopong membopong.


"Kenapa?" Sarah melotot.


"Sayang, turun dulu ya..."


"Kenapa harus turun? katanya mau gendong seperti di Leiden?" Sarah menggeleng-geleng dengan mimik manja dan geli.


"Encokku sepertinya kumat." Raka nyengir.


"Ya iyalah, kumat, umur kita sudah berapa sayang? kamunya saja yan over pede, anakmu sudah bisa jatuh cinta, bapaknya masih berlagak seperti pengantin kasmaran." Sarah memggeliat turun dari gendongan Raka sambil tertawa puas.


Raka manyun sambil meraih lengan istrinya, "Kita jalan saja ya, le tempt tidur tidak usah gendong-gendongan." Lanjutnya menyengir, Sarah tak bisa menahan gelaknya.


...***...

__ADS_1


Keseharian Rae, Aluna dan Emma kini sama. Pandangan mereka tak pernah jauh dari buku. Otak mereka hanya di isi dengan semua materi LKIR mereka. Mereka begitu serius memyelesaikan penelitian ilmiah remaja itu dan waktunya mereka mengirim naskah penelitian bersama beberapa sekolah se kota Surabaya. Ini tidak main-main. Kompetisi ini besar. Bahkan hadiahnya nanti akan berpengaruh besar pada sebuah Universitas ternama yang tentu akan memberikan mereka beasiswa. Semua anak berprestasi tentu sangat mengejar ini sebagai impian mereka untuk meraih cita-cita.


(bersambung yaaaaa, menang gak tuh team Luna dan Rae🤭🤭🤭 ikuti terus ya😅)


__ADS_2