
Rae terdiam.
“Rae, jangan tinggi hati dengan kelebihan yang kamu miliki karena itu tidak abadi tetapi budi luhurlah yang akan di ingat orang tentang kita. Jikapun kamu tidak sengaja menyakiti temanmu, apa salahnya untuk mengucapkan kata maaf, itu tak akan mengurangi harga dirimu seujung kukupun. Kita tidak perlu menjadi terlalu pintar tetapi penting menjadi baik, ketika kamu melupakan bagaimana bersikap baik dan sopan pada orang lain, kamu bukan orang yang bisa sukses ke depannya.”
“Dad, Rae bahkan gak merasa melakukan kesalahan.” Rae menyahut dengan nada rendah.
“Tidak semua kesalahan itu bisa di lihat dengan kacamata kita sendiri. Mungkin kita merasa telah melakukan hal yang benar, kita tidak melakukan kesalahan tetapi di mata orang lain mungkin berbeda. Saat kita berusaha untuk membela diri, itu membuat kita malah kelihatan semakin arogan. Bukankah itu bisa memperparah keadaan. Tidak mudah membawa orang melihat dari sudut kita saat seseorang sedang ingin berdiri di seberang kita.” Raka tersenyum melihat Rae yang tak berkedip menatap wajahnya seperti undur-undur di masa kanak-kanak, yang selalu terpesona dengan sang daddy.
“Mereka salah paham , Dad. Rae gak pernah bermaksud sengaja menyakiti orang lain.”
“That may be true. Maybe just a misunderstanding. But will you be able to easily explain it to people who don't necessarily like you?”Raka menaikkan alisnya, wajah tampan itu tak penah menua meski mungkin usia beranjak menjadi matang sempurna.
“So, what should I do?”
“Give up and apologize.”
“Mengalah?”
“Ya, mengalah dan memaafkan. that's the way out. Tidak ada orang yang menolak sebuah permintaan maaf dari orang lain, kecuali dia tak punya hati.”
“Rae gak melakukan kesalahan apapun, Dad.” Suara Rae berupa desah masih mencoba meyakinkan daddynya itu.
“Daddy percaya padamu, tapi apapun kejadiannya, yang terjadi kamu telah merugikan orang lain, entah di sengaja ataupun tidak. Temanmu itu kehilangan kacamatanya dan Daddy dengar dia tidak dari keluarga yang cukup mampu. Mungkin saja kacamatanya itu adalah hal yang sangat penting dan berharga, karena itu kamu harus bertanggungjawab untuk itu." Raka menghela nafasnya sejenak.
"Sayang, berbuat kesalahan adalah kekurangan manusia, namun belajar dari kesalahan adalah kelebihan manusia. Jadi, sebagai manusia, belajarlah dari kesalahan meskipun sekecil apapun dengan begitu kamu akan dihargai.”
“Rae akan mendengarkan Daddy…”Lanjutnya dengan wajah polos yang manis itu, Wajah perpaduan Raka dan sarah itu sesungguhnya begitu sempurna, matanya yang berbinar seperti lukisan itu mengingatkan Raka pada mata sang istri, dan dia selalu meleleh ketika Rae mengerjap padanya.
...***...
Sarah memberikan baju tidur kepada Raka, suaminya itu baru saja kembali dari kamar Rae dan langsung mandi setelah menghabiskan hampir satu jam berbicara face to face sesama lelaki. Sarah mengerti, jika sang suami sudah masuk ke kamar rae pasti ada sesuatu yang sangat penting yang mau di bahasnya dengan anaknya itu.
Bahkan Raka yang baru saja pulang dari kantor sore ini, dia langsung mencari Rae, dia hanya sempat melepaskan jasnya, setelah Sarah mengatakan anaknya ada di kamar, pulang lebih awal dan tidak turun sampai sore dari kamarnya, Raka menyusulnya ke sana.
Sarah tak pernah kuatir jika Raka menegur Rae, dia memang cukup tegas tetapi tidak pernah benar-benar keras pada putra kesayangannya itu. Malah kadang Sarah merasa Raka terlalu lunak pada Rae.
“Sayang, Rae tidak sedang dalam masalah, kan?” tanya sarah tiba-tiba. Rautnya sedikit penasaran dengan gaya suaminya yang santai saja setelah menghabiskan waktu berdua dengan anaknya yang bertingkah sedikit aneh hari ini.
__ADS_1
Raka tersenyum pada istrinya itu, meskipun sekarang istrinya itu sudah di awal kepala empat tetapi kecantikannya itu sama sekali tidak luntur sama sekali.
“Undur-undur kita ini benar-benar sedang dalam masalah.” Sahut Raka sambil mengenakan piyama tidurnya sementara Sarah membantu mengancingnya dengan wajah cemas.
“Dia terlibat perkelahian lagi di sekolah?”
“Sepertinya ada sedikit insiden di sekolahnya tadi siang.”
“Apakah Rae memukul seseorang?”
“Aku sebenarnya tidak masalah jika Rae memukul seseorang dengan alasan yang jelas.” Raka terkekeh.
“Hush…tetap saja memukul seseorang itu bukan tindakan yang baik, kamu mau anakmu seperti preman nantinya, sayang?” Sarah melotot menatap kepada suaminya itu dengan jarak hanya dua jengkal saja.
“Selama ini yang kutahu, jika dia memukul seseorang karena dia membela temannya yang di bully dan tentu saja aku tidak terlalu membesar-besarkannya, dia terbiasa di didik untuk mengayomi adik-adiknya dengan benar dan mempunyai hati yang selalu merasa kasihan pada orang lain seperti dirimu, jadilah dia seperti sekarang.” Raka tertawa kecil sambil mengalungkan tangannya di pinggang Sarah.
“Tapi jika dia terbiasa untuk bermain tangan, itu juga bukan hal yang baik. Aku tidak suka anakku tumbuh menjadi orang yang tidak berperasaan. Aku harap sebagai ayah,kamu tidak terlalu memberinya kebebasan untuk hal-hal seperti itu.” Sarah terlihat serius.
“Dia tidak memukul siapapun hari ini, sayang…” Raka menarik pinggang istrinya itu lebih merapat ke tubuhnya.
“Tapi, tadi kamu menagatakan jika dia sedang dalam masalah?” Sarah memicingkan matanya, masih dengan raut cemas.
“Berbeda?” sarah mendelik,
“Apa maksudmu dengan berbeda?” Sarah berusaha focus dengan topik pembicaraan mereka sementara tangan Raka sudah mulai merayap di punggungnya dengan tatapan yang aneh, Sarah tahu tatapan itu selalu berhubungan dengan kelakuan kukuk yang mungkin baru saja siuman dari mati surinya.
“Aku merasa undur-undurmu itu sudah menjadi seorang laki-laki.” Raka tersenyum kecil, dengan cuek jemarinya gentayangan di area punggung Sarah.
“Rae memang laki-laki.” Sahut sarah protes dengan penjelasan raka yang menurutnya tidak jelas.
“Maksudku, Rae sepertinya sedang terkena syndrome cinta monyet.”
“Hahhh…”
“Dia bahkan mengigau tak jelas, urusan yang sampai terbawa ke dalam mimpi itu, berarti dia sangat dalam memikirkannya.”
“Maksudmu?”
“Undur-undurmu mungkin sedang tertarik dengan seorang anak perempuan.”
__ADS_1
“Hahhhhhh…!”
Raka tak bisa menahan tawanya saat melihat istrinya itu melotot semakin besar padanya.
”Eh, kenapa kamu ketawa begitu?” Sarah mendelik melihat suaminya yang semakin tak serius menurutnya.
“Kamu lucu sekali sayang, dari tadi huh hah huh hah begitu.”Raka semakin tergelak. Cubitan pamungkas Sarah mendarat di kulit perut Raka, membuat tawa laki-laki itu mendadak berhenti, berubah dengan pias kesakitan
“Dari mana kamu tahu?” Cecar Sarah.
“Tahu apa?”
“Anakmu itu mulai tertarik dengan perempuan.”Sarah mendonggak dengan cemberut.
“Jangan meremehkan insting laki-laki suamimu ini.”
“Ih…!” Sarah menggeliat dari pelukan suaminya itu, dia tak sabar dengan tingkah konyol Raka yang sedang menggodanya itu.
“Sayang…” Raka mempererat pelukannya, wajahnya mendekat kepada wajah Sarah, hampir tak berjarak.
“Mata anakmu itu, sama seperti matamu, aku sangat mengenalnya, seperti apapun dia menutupinya, tapi matanya tak pernah bisa berbohong.” Bisik Raka dengan suara serak, matanya bersinar sayu seolah menyerah pada tatapan sang istri. Dan bibirnya mendekat perlahan, untuk sesaat Sarah tak berkedip seperti menunggu.
di salah satu momen saat berbicara dg Rae😊
Raka said :
“That may be true. Maybe just a misunderstanding. But will you be able to easily explain it to people who don't necessarily like you?”
(“Itu mungkin benar. Mungkin hanya salah paham. Tetapi apakah kamu bisa menjelaskannya dengan mudah kepada orang-orang yang belum tentu menyukai kamu?”)
Pembaca tersayang, mungkin Tak hanya Rae yang perlu mendengarkan ini, tapi kita juga bahwasanya, Jangan berusaha menjelaskan tentang kebenaran pada orang yang melihatmu selalu salah dengan sudut pandangnya sendiri, apalagi jika orang itu menganggapmu tak pernah benar di matanya. Bertindak saja untuk membuktikan kebenarannya tanpa perlu memperkeruh suasana.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1