
“Bakti Sosial? Kok aku gak tau ya?" Jordy mengerutkan dahinya.
"Kamu terlalu sibuk kali ngurus class meeting jadi gak tau soal bakti sosial." Tante Melisa masih mode positif thinking.
"Masa sih, ma? Perasaan gak ada tuh acara sekolah seperti itu. Misalkan ada, itu gak mungkin mendadak lho, Ma. Dan pasti terjadwal di kegiatan OSIS.” Jordan ikut nimbrung.
“Tapi ini fotonya, alamatnya juga ada kok.” Melisa menyodorkan foto yang Aluna kirim pada gawai pintarnya.
“Perasaan di rapat OSIS gak ada dibicarain soal kegiatan beginian. Beda dengan Bazar buku antar sekolah, Lomba Karya Ilmiah Remaja, pertandingan olah raga persahabatan dengan sekolah lain, class meeting atau lomba nulis mading, itu dah rutin. Kalo untuk bakti sosial ke panti Asuhan? Belum ada tuh. Yang begituan biasanya program ibu-ibu arisanan kali...” Jordy mendadak nyolot, tidak masuk akalnya dengan kegiatan amal atau bakti sosial yang di lakukan oleh Aluna, menuai kebimbangan di wajah tante Melisa.
"Memangnya Om Fan gak langsung jemput dia tadi kayak biasa?" Jordy bertanya dengan heran.
"Om Fan nganterin papamu ke Bandara, sopirnya cuti dua hari ini." Jawab Tante Melisa dengan raut mulai cemas.
“Sepertinya ada yang gak beres deh dengan kegiatan ayang Luna, tante?” Dandy justru mengompori keadaan yang tiba-tiba tidak singkron antara ibu dan anak di depannya.
"Atau..." Si Dandy ini memegang jidatnya dengan gaya berfikir.
"Atau apa?" Tante Melisa makin was-was.
"Atau jangan-jangan...jangan-jangan? " Dandy merem melek dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Hey, ngomong yang bener dong! Jangan bikin makku jantungan." Jordy menepuk bahu Dandy dengan kesal, dia kuatir mamanya tambah panik dengan gaya Dandy yang bukannya nenangin malah ngomporin.
"Jangan-jangan dia di culik, terus di jadiin pelayan di Panti Asuhan ?!"
"Huuuu...ngomongmu suka ngasal!"
Jordy hampir tak tahan untuk tak nampol temannya itu saking kesalnya kepada Dandy.
“Mana mama tau kegiatan kalian di sekolah ngapain aja. Yang sekolah kan' kalian? bukan mama. Tadi kalian tanya Aluna di mana, Ya mama jawab sesuai yang mama tau. Lagian kamu juga, kenapa tadi bilang gak bisa waktu mama minta kamu anterin Luna pulang. Jam segini tu anak belum makan, kalo Aluna sakit lagi gimana? Kamu tau kan Om Darel gimana, Jo ? Aduuuuuh...” Tante Melisa mulai panik, dia ngedumel panjang pendek lalu berusaha menelpon kontak Aluna, sayangnya hanya suara operator yang menyatakan, berada di luar area.
"Aduh, ini anak kemana? Gak aktif lagi. " Gerutu Tante Melisa dengan kecemasan yang semakin menjadi, dia sudah mulai panik.
“Emang dia pulang sama siapa?” tanya Jordy ke arah mamanya dengan penuh selidik.
__ADS_1
“Sama siapa itu, temennya yang rame itu?” Melisa mengingat-ingat percakapannya dengan Aluna via telepon tadi.
"Cowok apa cewek?" Cecar Dandy menambahi, rada penasaran.
"Ya, cewek lah." Sahut sang mama.
“Oh, Emma si cacing kremi itu?” Tebak Jordy sembari memandang Dandy dengan mata sebesar kelereng.
“Hey, kenapa gitu liatinnya?” Dandy merengut, tak suka dia di tatap penuh penuduhan.
“Tuh cewek, cemewew kamu, kan ?"
"Cemewew apanya? Ih, nuduh suka sembarangan!" Dandy menyahut dengan wajah berlipat saat dirinya di sangkut pautkan dengan Emma.
"Akh, pokoknya dia suka nempelin kamu kayak perangko, buruan telepon gih sana biar tau di mana mereka sekarang.” Perintah Jordy pada sahabatnya itu, Ia tau daddynya Aluna proteknya minta ampun. Dia bakal di marahin habis-habisan nanti kalau Tante Anin dan Om Darrel tau soal ini.
“Cemewew-cemewew, dia cuman fans gue doang. Resiko ganteng memang ” Dandy berceloteh sambil mengusap ponselnya mencari nama Emma dalam kontaknya, untuk segera mengkonfirmasi keberadaan Aluna cantik. Untung dia menyimpan nomor Emma, jaga-jaga kejadian seperti ini, Aluna menghilang gak berkabar.
“Aaaaaiiiii, apa matahari sudah terbit dari barat dan terbenam dari arah timur? Ada gempa di bagian bumi seblah mana sampe-sampe yayang Dandy menelpon bidadarinya ini?” bahkan Dandy belum menyapa ‘hallo’ suara Emma sudah mengema saja di ruang dengarnya saat kata ‘Berdering’ sudah berubah jadi angka detik yang berjalan pada gawai mereka masing-masing.
“Heemmm, kangen bilang Bos, Ga usah gengsi gitu dong. Perasaan itu hanyalah fatamorgana, seperti angin yang bisa berubah arah kapan saja. Jangan takut mengakuinya." celotehan Emma kayak air bah jebolin bendungan.
"Astaga, ini orang emang gebleg kali ya." Gerutu Dandy.
"Janganlah marah, katakan saja, ada apa sayang akuuh?” suara manja Emma mendayu.
“Kamu di mana?” Dandy langsung to the point malas mengubris omongan absurd Emma.
“Aaaaww! Tuh kan, Beneran kangen? Sampai nanya aku di mana. Aku selalu di hatimu bebebph.”
Males … males banget Dandy mendengar lelucon unfaedah seorang Emma ini
“Serius nanya, kamu sama Luna sekarang di mana?” Dandy menyela dengan tak sabar.
“Whaatt? Luna? Sejak kapan aku serumah sama tu anak. Aku di rumahku Beiib. Dan Luna, mungkin juga di rumahnya, orang dah pulang dua tiga jam lalu kok. kamu tanya Jordy aja, kan' mereka serumah.” Sergah Emma.
__ADS_1
“Ini Jordy, Em! Serius nanya. Luna ga sama kamu sekarang?” Jordy mengambil alih berbicara, rautnya tak sabar, panggilan tadi memang di loudsperaker. Jadi semua obrolan Emma dan Dandy memang dapat di dengar dengan seksama oleh Jordy dan Melisa.
“Ouuh … ada Bebeebph Jordy juga. Eh, emang Luna kemana?" Sekarang Emma yang balik bertanya.
"Gak bakal nanya kamu kalau aku tahu dia di mana!"Sahut Dandy kesal. Nelpon Emma ternyata tidak ada gunanya, nihil hasil, tampaknya anak ini tak tahu dimana keberadaan Aluna.
"Eh, beneran, serius aku gak tau Luna di mana. Tadi aku lebih cepat pulang dari Aluna, buru-buru, mamaku udah nongkrongin aku. Kami harus jemput papa aku ke Bandara.” Kali ini suara Emma terdengar serius dan tidak dalam suara yang bercanda.
“Beneran …?” suara Jordy dan Dandy bersamaan.
“Sumpaaah.” Jawab Emma dalam mode cemas.
“Ya udah kalo gitu, bye .” Dandy akan mengakhiri obrolan mereka.
“Tunggu...serius kalian. Luna belum pulang sekolah??” tut … tut …tut.
Bahkan Emma tak sempat mendengar jawaban dari Dandy ataupun Jordan. Dengan Kesal Emma memutar otaknya. Sekedar menerka-nerka kemana perginya Aluna. Bahkan sudah hampi pukul tiga, belum pulang kerumah.
“Gimana ini ?” tanya Melisa cemas. Baru sadar jika keponakannya bahkan tidak bersama dengan teman yang ia sebutkan tadi.
“Apa Luna beneran di culik Jor? Kita harus lapor polisi, nih?” pikiran Melisa sudah kemana-mana. Sungguh merana nasibnya saat di berikan amanah oleh sang adik untuk menjaga anak sulungnya, tetapi ia lalai.
“Mana foto yang ada alamat tadi Ma, biar aku sama Dandy yang lacak.” Pinta Jordan pada sang mama.
“Udah mama kirim ke ponsel mu. Apa mama lapor polisi aja ya Jo?” Cemas Melisa sungguh takut akan hal buruk menimpa keponakannya tersebut.
“Mana di terima laporan tante. Kan belum 24 jam hilangnya Tan” Sela Dandy yang tak dapat memahami perasaan khawatir yang berlebihan dari mama sabahatnya ini.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...