CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 44. DAG DIG DUG SER


__ADS_3

Riuh tepuk tangan menyeruak dalam ruangan kelas mereka, saat Pak Wahyu mengumumkan kelompok mana saja yang sudah mengerjakan tugas dan melakukan presentase dengan amat baik.


Dan yang terbaik Itu adalah kelompok Rae, presentase yang Rae sampaikan sudah mirip dosen yang memiliki jam terbang tinggi. Pak Wahyu yang jarang memuji jika tidak sesuai dengan harapannya itu pun terlihat puas dengan presentasi Rae beserta kelompoknya.


Pak Wahyu memang killer, tapi tidak pelit dalam hal memuji siswanya yang benar-benar kompeten. Jika dia memuji berarti itu sudah benar-benar keren. Hidung Rae kembang kempis mendapat sanjungan dari guru bidang studi kesukaannya tersebut.


Pujian dari pak Wahyu tidak hanya baru kali ini untuk Rae, sebab ia termasuk adalah anak emas guru killer itu karena kemampuannya di mata pelajaran pak Wahyu yang berada di atas siswa-siswi yang lain.   Tapi di puji di hadapan Aluna gadis pujaan. Ini adalah yag pertama, membuatnya merasa besar kepala dan bisa sedikit sombong. Baginya ini sarana gratis untuk promosi dan pertunjukan kualitasnya, betapa ia adalah anak remaja yang pintar tidak melulu selalu di cap sebagai siswa urakan yang sering membuat onar karena terlambat atau berkelahi dengan kakak kelas.


"Aah, Bebeb akuuh. Mamamu ngidam apa sih? Otak mu encer banget, liat soal sulit ke tadi, udah kaya liat es boba aja, tinggal sluruuuup, habis, tandas kamu libas." Puji Emma. Iya itu pasti suara centil Emma kan. Gadis itu tak sabar menghampiri Rae saat bel Isirahat berbunyi.


"Akh, biasa aja kali, Em. Jangan lebay gitu." Rae cengar cengir sendiri. Salah tingkah sambil mencuri pandang pada Aluna yang terlihat sok sibuk dengan segala perlengkapan belajarnya, memebereskan mejanya.


"Waaah, muka sombongmu gak cocok tu di display." Emma meninju kecil lengan Rae dengan gemas melihat gaya songong Rae yang tak biasanya itu.


"Gak nyangka, kamu kok bisa ngomong lancar jaya kayak jalan tol bebas hambatan jelasin soal tentang sudut istimewa, identitas dan perbandingan tadi. Apalagi pas jelasin operasi rumus sin cos, pak Wahyu aja lewat,lho." Emma masih tak puas-puasnya memuji Rae. Yang di puji hanya nyengir.


"Nyesal banget aku gak sekelompok sama kamu dan Aluna, Rae. Paling gak numpang keren di kelompokmu. Si Arka mah memang pinter, semua soal bisa dia jawab tapi soal pemaparan dia gak jago kayak kamu. Dia tuh pinternya cuman buat dirinya sendiri. Orang lain gak bakal ngerti kalau dia jelasin, bahasanya ketinggian banget. Pinter si pinter tapi kalau cuma di konsumsi sendiri kan jadi mubajir. Ada ya, orang kayak Arka gitu..."Emma terus saja ngoceh sambil curhat, dia masih jengkel karena kelompok mereka gagal di presentasi, sepertinya sekalian menggibah Arka tepat di depan hidung sang tersangkanya itu.


"Kenapa gak kamu aja yang presentasi kalau kamu jago? ngapain nyuruh aku jadi jubir kelompok tadi? tahu aja kan aku orangnya gugupan di pelototin orang sekampung" Arka melotot dari tempat duduknya, sambil merogoh ponselnya dari dalam tas ranselnya.


"Eh, gak usah di suruh dua kali, dah pasti aku jadi jubir kalau aku pinter. Tapi aku mesti ngomong apa, lah aku aja gak ngerti nilai perbandingan trigonometri sudut menyudut terus gak paham banget konsep-konsepan sudut ber-relasi segala macam segitiga. Yang berelasi tu orang bisnis kali akh. Mana bisa aku memaparkannya. out of my mind. Masa iya, aku mendongeng soal segitiga yang sudutnya ku liat sama aja bentuknya tapi selalu di nyatakan nilainya berbeda. Kalau soal cinta segitiga aku ngerti..." Emma manyun, ocehannya sambung menyambung macam kereta yang membuat Aluna tak bisa menahan tawanya.


Rae terpana menatap pada Aluna, pertama kali dia melihat Aluna yang jarang sekali tersenyum itu tertawa lebar dan lepas. Dan sekarang, dia melihat gadis di depannya itu sungguh berbeda dari image yang selama ini di sematkan padanya. Galak dan judes. Barusan gigi putih rapih di balik bibir merah muda alami itu ternyata begitu manis, dadanya berdesir hangat melihat pemandangan langka itu.

__ADS_1


"Makanya jangan suka ngomentarin orang aja bisanya. kamu kira ngomong depan orang banyak semudah gibahin tetangga?" Arka berdiri dengan muka masam.


"Ya, tapi kan' type-type kamu sama Rae kan sama, pinter-pinter blo'on gitu. Seharusnya kan bisa aja perform kayak Rae tadi."


"Perform? Lu kira kita show tadi, heh?!" pertengkaran mereka seperti ini sering terjadi dan sesungguhnya tak serius-serius amat. Cuman sekedar perdebatan saja tanpa bumbu baper-baperan.


"Hush, sudah akh. Ribut mulu. Keburu habis jam istirahat kalian sibuk gelut aja." Rae menengahi saat melihat Aluna berdiri dari duduknya bersiap pergi.


"Kantin yuk, Em."ajak Rae pada Emma.


"Aku? kamu ngajak aku beib?" Emma menunjuk hidungnya dengan telunjuknya sendiri. Rae tak menanggapi tetapi ekor matanya tak lepas dari Emma, dia ingin memastikan reaksi Aluna, apakah gadis itu paham dengan kode morse yang di kirimnya.


"Eh, tumben Beib, kamu ajakin aku ke Kantin? Kamu gak lagi puyengkan?" Emma masih tak percaya dengan ajakan Rae, laki-laki yang paling anti di tempelin cewek itu.


"Ayok, jangan banyak tanya, kamu mau bareng gak?" Rae salting sendiri.


"Apa lagi?"


"Kamu cuman ngajak aku aja?"


"Ya, sama Aluna juga lah. Masa cuman kamu aja, ntar vibesnya kayak aku sama Arka ngajakin kamu kencan."  Begitu lugas dan biasa saja Rae ucap pada Emma. Hal itu membuat Aluna benci dengan desiran aneh dalam hatinya. Yang seketika tanpa di komando mendadak sangat ge-er saat Rae juga mengajaknya ke kantin bareng.


"Kamu mau, Lun?" Tanya Emma dengan mata sebesar kelereng jumbo pad temannya yang terlihat parasnya merah jambu tanpa lasan itu. Yang di tanya hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Aissssh, let,s go lah kalau begitu beibeh!" Emma terlihat riang bukan main. Di tariknya tangan Aluna dengan wakjah bahagia.


"Hasyeeeek, akhirnya kita bisa nongkrong berempat. Kesempatan langka nih, setara dengan keajaiban dunia. Coba fikirin deh, kalau kita berempat pesen es kopyor di kantin sambil makan mie instan, pasti vibesnya kayak lagi double date gitu. Keren gak, sih?" Emma melangkah dengan senang mengikuti Rae yang sudah berjalan cuek menuju pintu di ikuti Aluna yang mendadak pendiam itu.


"Keren apanya? yang ada rusuh kalau sama kamu." Omel Arka.


"Aluna ... Ayok. Tadi ga sempat di jawab." Rae berucap  pelan,  tidak melanjutkan langkahnya, tapi menoleh menunggu Aluna berjalan sejakar dengan Rae dan Emma yang menang sudah tiga langkah di depannya.


"Iih ... Kok liat kalian berdua gini. Manis banget siih." Celoteh Emma yang sungguh baru ini melihat Rae terliht begitu perduli, sampai-sampai tidak melanjutkan langkahnya demi menunggu seseorang. Dan itu Aluna. Bukankah selama ini langkahnya lebar dan cepat, membuat para remaja putri susah mensejajarkan langkahnya dengan Rae. Dan sekarang dia dengan sikap gentleny yang elegan, menunggu demi bisa berjalan bareng, ini si cool banget.


Dag Dig dug ser!


Jantung Aluna menjadi tak baik-baik saja, hanya karena di tunggu Rae dengan sengaja berselisih 3 langkah itu saja, lagi lagi membuat Aluna berbunga-bunga, seolah di tunggu seorang pangeran untuk di ajak naik ke atas kereta kencana.


Haduuuh ... Jatuh cinta begini amat ya. Seolah kaki kadang berasa berpijak di bumi kadang juga di awang-awang. Aluna menggigit bibirnya sendiri,


"Apakah ini rasanya jatuh cinta pada pertama kali?"


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap

__ADS_1


semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2