CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 75. Penyisihan


__ADS_3

Ibu Nila adalah guru yang di utus dan di berikan tanggung jawab untuk memastikan keadaan sisiwa yang akan mengikuti LKIR dalam keadaan baik. Baik itu kesehatannya, makanan hingga kesiapan mereka menjawab pertanyaan.


Maka, sedapat mungkin ia menjaga amanah yang sudah di emban padanya. Lalu bagaimana ini, saat salah satu dari siswanya tidak tampak di antara mereka.


“Emma … mana Emma?” ujarnya sambil celingukan. Mengapa sejak tadi netranya tidak menangkap sosok centil yang satu itu.


“Iya, bu. Emma boker. Sakit perut.” Pintu kamar mandi dalam kamar hotel itu terbuka sedikit. Tampak Emma keluar sambil memegangi perutnya.


“Uh, dasar lapar mata. Makanya makan itu pelan pelan, banyak lagi. Overload kan?” Kata Arka agak geram melihat tingkah Emma yang memang bagai kesurupan memakan semua makanan yang ia bawa tadi.


“Namanya juga makanan favorit. Ya, semualah di embat.” Emma membela diri.


“Ya enggak sekali embat juga, Em.” Bantah Arka dengan cepat.


“Nanti habis.” Emma masih membela diri dengan muka tanpa dosanya.


“Sudah … sudah. Gimana perutnya sudah enak?” tanya bu Nila.


“Udah plong bu.” Jawab Emma dengan senyum menawan.


“Baiklah. Berdoa sesuai keyakinan masing-masing dulu. Minta Tuhan memberikan kemampuan untuk kalian bisa melewati semuanya dengan baik dan lancar.” Perintah Bu Nila tegas.


Kemudian mereka berlima pun melangkah pasti menuju ruangan lomba. Ternyata suasana di sana sudah mulai penuh. Tentu saja, sebab masih ada 27 sekolah dengan peserta masing-masing tiga orang.


Di tambah lagi beberapa guru pendamping. Juga beberapa orang tua yang tampak antusias memberikan dukungan pada anaknya masing-masing.?

__ADS_1


Lomba kembali bermulai. Ini akan menjaring 10 sekolah yang nantinya akan di buat tanding semacam cerdas cermat. kali ini peserta menjawab semua pertanyaan juri yg bekaitan dengan analisis data dan hasil penelitian. Dan jika lolos. Maka lomba selanjutnya akan di laksanakan esok pagi pukul 9.00 WIB. Untuk mendapatkan 3 besar LKIR Yang pada sore harinya akan di tanding untuk menetapkan juara umum 1.


Tentu bukan perkara gampang. Pada Lomba ini bukan hanya otak yang di adu, namun kekuatan fisik untuk menghadapi jadwal yang padat ini pun menjadi sesuatu yang harus siswa itu siasati. Agar tetap bugar dan sehat saat lomba berlangsung.


Melisa tampak tergopoh-gopoh membawakan box makanan untuk Aluna. Dia tidak pernah mengeluh untuk hal yang satu itu.


Bagaimanapun kesehatan Aluna adalah nomor satu baginya. Ia bahkan berniat membuka satu kamar demi ikut memastikan jika keponakanya itu dalam keadaan baik dan sehat.


“Nanti kita coba cek ke reseptionis ya bu. Apakah masih ada kamar kosong.” Jawab Bu Nila agak bingung dengan proteksi yang di berikan oleh tante Aluna ini.


“Jika tidak di ijinkan, bagaimana jika Luna tidur di rumah saja bu. Maaf, dia makannya agak cerewet. Harus benar di jaga. Saya hanya tante yang di amanahkan untuk menjaganya.” Lanjut Melisa.


“Sama Bu. Saya juga di amanahkan untuk menjaga mereka. Agar malam ini bisa tidur dengan baik, sembari belajar. Sehingga saya tidak berani memastikan, apakah Aluna boleh tidur di rumah.” Jawab Bu Nila sedikit bingung.


Tak terasa penjaringan untuk 10 besar pun selesai. Dari raut senyum ke tiga anak didiknya, samar pias keyakinan untuk bisa lanjut ke babak berikutnya terpancar.


“Tante … terima kasih. Luna lapar sekali.” Dengan pelan ia mengakui jika kini bagian perutnya memang merasa perlu untuk di isi.


“Hmm… tadi Luna tidak makan siang?” tanya Bu Nila memastikan.


“Ada bu tapi tidak banyak.” Jawab Aluna pada Bu Nila.


“Tidak bu, Luna bohong. Tadi dia tidak makan. Itu hanya mengendus.” Celoteh Emma dengan suara yang tidak pelan.


“Makan Em. Aku makan kok. Pakai teh panas lagi.” Aluna membela dirinya.

__ADS_1


“Makan bu. Tapi tidak banyak. Maksudnya tidak sebanyak Emma yang sampai overload.” Ledek Arka sambil tertawa terbahak-bahak.


“Huh … dasar anak-anak. Mari Bu. Kita ke kamar mereka. Sambil menunggu pengumuman.” Ajak Bu Nila yang sesungguhnya resah, sambil memikirkan anaknya yang sakit di rumah. Di satu sisi, Bu Bula ingin menjaga keprofesionalannya sebagai guru pembimbing. Di sisi lain ia juga seorang ibu yang juga harus siaga menjaga anak yangsedang demam tinggi, sungguh dilema baginya.


Kadang leher Emma di buat panjang seperti jerapah, hanya sekedar ingin kepo. Makanan apa yang begitu spesial yang harus di makan oleh sahabatnya tersebut.Tidak. Dimata Emma tidak ada yang wah dari makanan yang di bawakan oleh tante Melisa. Itu hanya rebusan sayur juga tim ikan Salmon.


Entahlah, apakah Emma harus iri dengan cara keluarga Aluna memperlakukan Aluna yang sedemikian perfeksionis.


Kabar perihal kamar yang tadi di tanyakan Bu Nila terjawab sudah. Yaitu tidak ada kamar kosong. Sebab sebagian orang tua siswa dari sekolah lain pun bahkan sudah jauh-jauh hari memesan kamar untuk mereka tempati malam ini.


“Kenapa tante mau nginap di sini?” tanya Aluna sedikit tak paham.


“Biar deket sama kamu.” Jawab Melisa.


“Iiih tante segitunya jaga Luna.” Jawabnya lembut.


“Tante khawatir makanmu, juga tidurmu.” Jawab Melisa yang sesungguhnya juga takut mereka akan belajar hingga tengah malam, dalam satu kamar yang sama. Setan mana tau kan mau hinggap di mana dan kapan saja. Bagaimanapun, Melisa tau antara Rae dan Aluna pasti ada hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa. Dari cara mereka bertatapan Melisa mengerti, mata tatapan kosong dan mana tatapan penuh cinta. Dan saat cinta itu datang, pikiran sangat rentan di sambangi hal yang tidak logis.


“Ya sudah … nanti Luna ijin sama bu Nila. Luna tidur di rumah saja.” Aluna bukan tipe pembangkang. Segaris samar pun tidak ada dalam pikirannya untuk melakukann hal di luar nalar. Sesungguhnya iapun ragu, jika malam ini kann tidur dengan Emma. Mungkin bukan pelajaran yang nyangkut di otak mereka. Tetapi ngobrol sampai pagi yang mungkin mereka lakukan.


Bu Nila sudah kembali dari ruang pengumuman. Dan benar saja Tim Rae masuk 10 besar. Maka, perjuangan mereka tentu belum berakhir. Bu Nila senang. Tapi juga tidak tenang memikirkan.


Bagaimana anak didiknya tidur dan belajar malam ini. Juga bagaimana dengan anaknya yang sedang sakit.


“Rae, Emma dan Aluna. Selamat ya. Kalian masuk 10 besar. Jadi, perjuangan kalian belum berakhir. Besok jam 9 pagi. Kalian harus tanding kembali merebut 3 besar. Kalian siap?” tanyanya dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Siap bu. Fight.” Sorak mereka bersamaan.


“Tapi bu, apakah Luna boleh tidur di rumah saja. Luna janji akan tetap belajar, walau tidak tidur bersama Emma.” Pinta Aluna lantang pada Bu Nila.


__ADS_2