
Dan parahnya, tangan Rae juga di tarik oleh Aluna, membuat posisi mereka mirip kereta saja. Bahkan hampir bertabrakan dengan Jordy yang berdiri dengan wajah sekusut benang jahitan.
Akhirnya semua orang masuk ke dalam rumah atas perintah tante Melisa.
“Duduk semua, kita harus bicarakan masalah ini.” Perintah tante Melisa tegas pada tiga remaja tanggung di hadapannya, minus Dandy yang entah kemana nyelonong ke belakang.
“Jordy, kenapa main pukul aja? Apa kamu gak bisa ngomong baik-baik sekarang?” berang sang mama yang tentu saja merasa malu memiliki anak se bar-bar Jordy.
“Jordy kan' panik, ma. Mana ingat lagi. Ya, reflek aja itu.” Sahut Jordy dengan mimik tanpa rasa bersalah.
"Panik apanya? Kamu kenal kan' sama Rae, temen sekelas Aluna, bukan orang asing. Mosok iya kamu panik liat Aluna dengan Rae? Gak masuk akal banget." Tante Melisa menyela.
"Gak usah senang begitu, Rae! Mentang-mentang di belain mama sama Luna." Bukannya menjawab Jordan justru menghardik Rae.
“Jordy! Mama tanya sama kamu Jord! Gak usah ngedumel begitu sama Rae.” Ketus Melisa pada anak bungsunya tersebut.
“Salah Jordy apa sih, ma? Jordy hanya pengen memberi pelajaran pada cowok gatelan yang berani ngajak Luna terlambat pulang sekolah, bahkan mengajak Luna makan di tempat sembarangan, Ma.” Jordan membela diri, suaranya meninggi.
“Tapi kan ga harus jotosin anak orang juga.” Marah Melisa pada kelakuan anaknya yang menurutnya ringan tangan itu.
“Kamu juga Lun, bener kamu makan di tempat sembarangan?” kepala tante Melisa berputar ke arah Aluna.
“Bukan sembarangan, tante. Cuman memang tempatnya di pinggiran jalan. Itu sebuah warung makan yang cukup bersih tante, dan lagi sotonya enak tante.” Jawab Aluna dengan wajah polosnya.
"Ma...maaf tante, Rae yang salah..." Rae menyahut cepat dengan kepala tertunduk penuh sesal.
“Ya, sudah...kalau yang sudah terjadi mau apa lagi tapi Lain kali jangan makan di tempat yang dekat pinggiran jalan ya, Lun. Makanannya pasti di buat dengan bersih, hanya polusi udara dan debu jalanan mungkin membuat sajian itu kurang sehat. Kamu juga harus perhatiin makananmu, bukannya kita over protektif tapi ya, kamu tau sendirikan, kamu alergiannya tinggi terus kalau gak cocok makanan bisa cepet sakit” Kalimat itu panhang lebar di ucapkam Melisa dengan nada yang lembut, di lyar perkiraan Jordy yang mengira Rae akan di labrak habis-habisan oleh sang mama.
__ADS_1
"Tapi ma! Om Darrel pasti marah tuh kalau tau..." Jordy masih saja tak terima dengan perlakuan mamanya pada Rae yang di anggapnya tidak adil.
“Jordy! minta maaf sama Rae, sekarang.” Perintah Melisa kembali dengan nada tinggi.
“Eh, minta maaf untuk apa? Jordy salah apa? Ogaaaaah” Tolak Jordy.
“Astaga, Jor! Masih tanya pula, kamu sudah mukul orang tanpa sebab, Jord. Ntar kalau orangtuanya keberatan gimana? Kena pasal penganiyayaan, lho!” Hardik mamamya. Dia merasa tak nyaman punya anak yang tak memiliki rasa bersalah pada sikap yang nyata-nyata tidak benar itu, berkelahi bukan perbuatan yang terpuji.
“Yang salah itu Rae, mam. Dia dah bawa Aluna tanpa ijin bahkan dalam durasi yang lama.” Jordy membela dirinya.
“Aluna sudah ijin sama mama, kalo dia pulang terlambat karena ke Panti Asuhan. Perihal dia dengan siapa perginya, bisa di konfirmasi setelahnya, karena tadi memang mama yang minta dia pulang sendiri. Karena Om fan sedang sibuk, kamu juga sok sibuk.”
"Akh, mama! Gak asyik banget! Jadi sekarang mama maafkan mereka? Mama benarkan kalau Luna terlambat pulang itu biasa? Lama-lama mereka ngelunjak, ma! Mama gak tegas!” Sembur Jordy jengkel, bahkan kehilangan tata karma dan etika bersikap baik.
"Gak Asyik, gak enak! yang gak asyik itu nonjokin muka orang sembarangan."
"Astaga, Jordy." Tante Melisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sekali lagi maafkan anak tante, ya Rae."
"Akh, gak apa-apa, tante, cuman salah paham saja." Sahut Rae dengan raut bijak.
"Wah, makasih sudah memakluminya, Rae. Kamu bener-bener anak baik. maaf juga, bukan tante membela Jordy. Ke khawatiran kami sama, rasa sayang kami terhadap Luna mungkin memang dalam porsi yang berlebihan sebagai orang tua yang sangat menyayanginya. Mohon di maklumi. Luna di sini statusnya hanya di titipkan oleh kedua orang tuanya yang sedang tidak bisa berada dekat dengannya. Sehingga kepercayaan yang di berikan pada kami, harus di emban dengan baik." Tante Melisa memberi alasan.
“Gak apa-apa, tante. Rae mengerti. Dan yang seharusnya minta maaf itu memang Rae. Mestinya tadi, Rae mengantar Luna terlebih dahulu, baru menyelesaikan urusan pribadi Rae.” Jawabnya dengan sangat santun.
“Kamu bener-bener manis kayak Sarah” Puji tante Melisa pada remaja tanggung ini, tetapi yang terlihat salah tingkah malah Aluna yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Terimakasih, tante." Rae menunduk dengan tersipu.
“Bola matamu itu sangat mirip dengan bola mata milik Sarah. Bukan hanya itu, sikap baik dan rendah hati mu itu juga pasti hasil didikan Sarah yang sangat lembut dan baik hati itu.” Pujian Melisa pada Rae bener-bener tak tanggung-tanggung.
“Akh, tante terlalu memuji, Rae jadi gak enak." Yang di puji jadi cengengesan.
"Sekali lagi, Rae minta maaf ya. Sudah membuat Luna terlambat pulang, bahkan makan di tempat sembarangan. Maaf sungguh maaf sekali tante.” Terdengar permintaan itu dengan sangat penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa Rae. Tapi usahakan jangan di ulangi ya, Rae. Tante ga masalah sih, hanya sebelum apa-apa ijin yang benar.” Selembut-lembutnya Melisa menyampaikan pada Rae. Agar tak ada kesan marah dalam kalimat yang ia keluarkan pada Rae juga Aluna.
"Iya, tante. Rae mengerti." Rae mengangguk sambil mengerling pada Aluna yang tak sengaja pula sedang melirik pada Rae.
Ting!
Pandangan keduanya tak sengaja bertemu, dan dada mereka berdua sama-sama berdegup tak karuan.
"Rae pamit, tante." Akhirnya Rae harus undur diri padahal hatinya mendadak enggan untuk berpisah dengan Aluna, apa daya hari makin sore dan sekarang dia masih berbalut baju putih abu-abu yang kucel dan bau matahari. Terlebih lagi, sedari tadi ponselnya bergetar terus menerus dalam saku celananya.
Mommynya pasti sedang sibuk mencemaskannya. Bagaimana tidak, dia mungkin sedang kehilangan anak bujangnya yang belum pulang-pulang.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...