CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 56. Membela Jantung Hati


__ADS_3

"Memangnya Rae salah apa, sih kak?" Aluna mode galak malah bikin Jordy dan Dandy terdiam, tak menyangka gadis ini ganas banget wajahnya kalau lagi marah.


"Rae cuman nawarin nganter aku. Kemana aja kalian, datang-datang ngamuk doang. Hanya dia yang berbaik hati, bersedia mengantar Luna pulang saat Om Fan gak bisa jemput aku. Kakak sibuk class meeting. Trus salah Rae di mana, coba?"


Ooh anak bau kencur segitunya membela sang pujaan hati. Co cuwiiiiit.


"Ngantar pulang apanya? Kalau dia niatnya baik nganterin kamu dari dua jam yang lalu sudah di anterin baik-baik sampai rumah dengan baik. Ini di bawa kemana-mana dulu, bahkan mau celakain kamu, dengan mengajak kamu makan di tempat sembarangan!" Jordy kesal bukan main melihat bagaimana Aluna sekarang terlihat nengabaikannya sebagai kakak hanya demi seorang Rae.


"Eeeeeh, sembarangan apanya? ini anak kok cocotnya seenak e dewe?" Mbok-mbok yang punya warung makan tampak melotot dengan beringas sedaei tadi teriak-teriak melerai tak di gubris, sekarang dia sudah bawa pasukan, dua pengunjung lain dan dua orang mas-mas yang lewat dan tak sengaja menyaksikan keributan di warung itu.


"Ini warung makan bukan tempat sembarangan! Jadi bocah kok kurang ajar..." Si mbok pemilik warung tampak tak terima, sudah warungnya acak-acakan jadi arena gelud, ini lagi di kata-katain tempat sembarangan, marahlah si mbok ini.


Haiiis, Jordy bahkan lepas kontrol sudah menghina tempat makan yang begitu berjasa mengganjal perut Aluna dan Rae.


"Anak jaman sekarang, gak kerusuhan di sekolah, kerusuhan di tempat umum, ini sampe di warung pula..." Omel pengunjung yang lagi makan, karena makannya terganggu gara-gara keributan tadi.


"Gara-gara berebut pacar saja sampe ributnya pake smackdown segala. Memang pendidikan karakter anak-anak sekarang perlu di benahin lagi." Tuduh seorang bapak berkumis sambil berkacak pinggang.


"Hayoooh, bubar sana! Atau ta' laporin polisi, hah?!" Si mbok pemilik warung mengusir dengan kesal, sapu di tangannya teracung gemas.


"Maafkan kami, mbok." Rae membungkuk berkali-kali, meminta maaf dengan penuh rasa sesal.


Di rogohnya sakunya dan meninggalkan dua lembar duit seratus ribu.


"Heeeeh, kamu jangan ngehindar! urusan kita belum selesai!!!" Hardik Jordy, masih panas hati tampaknya tak menggubris orang sekitarnya.


"Sudahlah, Kak Jordy. Kita bicara di rumah saja." Putus Aluna sepihak, dia tak mau pemilik tempat makan itu tersinggung akan ucapan Jordy yang absurd karena marah.

__ADS_1


"Maaf ya, mbok atas kekacauan ini. Maafkan juga atas perkataan kakak saya yang gak sopan." Aluna terlihat malu dia menarik tangan Rae untuk segera pergi dari warung itu.


Ia berjiwa besar saja, walau bukan dia yang melakukan penghinaan dan kekacauan yang terjadi tetapi tetap merasa perlu meminta maaf. Setidaknya sebagai penebus rasa bersalahnya, karena tak sengaja berbuat onar di warung tersebut.


"Pulang sama aku dan Dandy sekarang. Naik ke mobil!" Jordy menangkap tangan Aluna, menariknya supaya melepaskan Rae.


"Gak mau. Luna pulang tetap sama Rae saja. Ayo Rae ..." Aluna menepis cengkraman tangan Jordy.


"Gak boleh. Kamu harus pulang sama aku. Kamu di pelet apa sih sama ni anak?" Jordy benar-benar kesal, dia semakin kepanasan melihat Aluna yang tak menggubrisnya.


"Aluna pulang Sama Rae atau Aluna gak pulang sama sekali." Mata Aluna melotot besar pada Jordy.


Wuuush ... Kenapa kalimat sederhana itu bagai Oasis di padang tandusnya hati Rae. Ia merasa menang banyak dari Jordy! Dapat pembelaan dari si jantung hati selain menjadi pemenang tetap di pilih untuk mengantarnya pulang.


"Rae sudah berjanji mengantarku pulang kalau aku turun di tengah jalan nanti seolah-olah kayak Rae bener-bener salah." Gerutu gadis itu tampak tak perduli dengan tatapan Jordy dan Dandy yang tak berkedip mengikuti langkahnya.


Aluna melangkah panjang setengah menyeret Rae, menuju motornya.


" Sialan! Buruan masuk, Dan! plangak plongok saja dari tadi. Ngapain aja sih kamu?" Omel Jordy sambil melangkah masuk ke mobilnya, suara bantingan pintu mobil membuat Dandy terkejut.


"Hedeeeh...urusan rumah tangga orang, aku pula yang kena getahnya." Dandy menggaruk-garuk kepalanya, Apa salah Dandy coba? Jordy bahkan mirip emak emak yang kehabisan jatah uang bulanan di akhir bulan. Sensi banget.


Motor Jordy terus berada di belakang motor yang di kendarai oleh Rae. Parahnya, Aluna seperti sengaja mengeratkan pelukannya di pinggang Rae tanpa malu-malu dan tanpa perintah lagi seperti tadi.


Bukan hanya Jordy yang kesal melihat pemandangan itu, Dandy juga bagai terkena setruman sutet, melihat kemesraan yang Aluna pertontonkan, apalagi Aluna sengaja banget mengikuti kemiringan motor sport itu, alhasil tambah bikin Jordy emosi saja.


"Maafkan Kak Jordy ya, Rae."

__ADS_1


Itulah alasan kenapa tubuh Aluna semakin menempel pada punggung Rae di atas motor yang sedang melaju itu. Mungkin saja Rae sulit untuk mendengar ucapannya, sehingga makin mendekat dan menempel di punggung Rae dengan ketat.


Sama halnya dengan Rae, sengaja memundurkan punggung itu dan kepalanya, agar jarak telinganya semakin dekat dengan sumber suara dari belakang punggungnya.


"Ga papa, Lun. Cobaan dapetin kamu emang harus lewat ujian yang mirip naik tingkat di karate mungkin." Kalimat itu di ucapkannya serupa gumam saja. Senyum Rae tak lekas pudar. Awet bagai hujan yang turun tak lebat tapi juga tak mereda.


"Hah, gimana?" Aluna memastikan pendengarannya tidak salah dalam menangkap pembicaraan Rae.


"Cobaan dapetin kamu?" Kata itu yang ia dengar samar tadi. Salah dengar? Atau benar? Atau ilusinya saja.


"Ini masih jauh?" tanya Rae menepuk betis putih berlapis kaos kaki berwarna putih sampai lutut Aluna itu.


Tangan Rae yang begitu provokator itu di tangkap netra Jordy.


"Astaga, dasar otak mesum! sialan Rae itu." Rutuk Jordy. Biar bagaimanapun adik sepupunya itu telah di titipkan oleh om Darel untuk di jaga olehnya, tetapi belum genap satu semester dia kecolongan luar biasa. Bukan karena ada cowok yang sengaja boncengin adiknya itu tetapi juga adik tingkatnya ini adalah musuh bebuyutannya.


Dan sekarang dia merasa harga dirinya sebagai sang kakak benar-benar di injak-injak.


"Rae bener-bener keterlaluan, Jor. Sumpah dia nantangin banget itu, segala ngelus kaki Aluna, biar apa coba? biar matamu kelilipan???"


Di tambah yang disebelahnya ini tukang kompor, jadilah bara amarah Jordy semakin menjadi-jadi. Kalau tak memikirkan ada Aluna di sana, sudah di tubruknya buntut motor Rae, mengerahkan kekesalannya.


...***...


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2