CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 24 Pipi Merah Jambu


__ADS_3

"Membela?"Tante Melisa menoleh pada Aluna.


"Karena Dandy becandanya memang sudah keterlaluan, tante." Sahut Aluna. Mata Emma membulat menatap Aluna dan Rae bergantian, dia tak percaya sepasang "serangga" itu saling membela di depannya.


"Kamu salah minum obat, ya?" Emma memegang dahi Aluna.


Dengan rikuh Aluna menepis tangan Emma, sambil merengut pada Emma menutupi wajahnya yang tanpa sadar memerah.


"Wah, Dandy harus berhadapan dengan tante kalau begitu." tante Melisa bersungut dengan muka masam.


"Ya, sudah...kalian ngobrol saja dulu, tante mau cari Jordy dulu, anak itu suka emosian gak jelas." tante Melisa keluar sambil tersenyum pada tiga remaja yang berdiri tidak jauh dari tempat Aluna berbaring.


Begitu Tante Melisa keluar, suasana menjadi hening sejenak, mereka hanya bertukar pandang dengan canggung terlebih Rae dan Aluna. Tiba-tiba Arka mendekati Emma,


"Kita keluar sebentar." Tangannya menarik lengan Emma.


"Eh, kemana?" Emma hampir terjengkang karena terkejut, saat tangan Arka menariknya tanpa mempertimbangkan kalau tubuh Aluna jauh lebih ramping dari dirinya.


"Kita cari minum dulu, aku haus."


"Tapi di sini juga ada..."


"Aku mau cari yang dingin, temani...!" Arka menarik Emma, setengah menyeretnya. Adegan itu berlangsung cepat tanpa sempat Rae maupun Aluna mencegahnya.


"Hey, kalian mau kema..." kalimat yang keluar dari mulut Aluna terhenti bersamaan dengan pintu yang di tutup dari luar oleh Arka.


Sesaat Rae dan Aluna hanya saling pandang, sebelum Aluna kemudian membuang pandangannya dengan salah tingkah.


"Maafkan aku." Ucap Rae, sambil mendekat selangkah.


"Aku gak apa-apa." Sahut Aluna kemudian, gadis ini terlihat jinak dan tak nampak lagi jejak kejudesannya.


"Aku bener-benar nyesal sudah bertingkah kekanakan dengan sikapku tadi siang." Kata Rae lagi, dia sendiri terlihat salah tingkah saat berbicara.


"Kalian memang konyol. Kenapa harus berkelahi hanya karena hal yang sepele." Aluna mengangkat wajahnya sambil memainkan selang infus yang ada di tangannya.


"Aku tahu. daddyku juga bilang, aku terlalu kekanakan. Karena itu akau datang kemari, aku memang harus minta maaf ke kamu"

__ADS_1


"Kamu datang kemari karena daddymu yang nyuruh?" Aluna mengernyit dahinya, penuh selidik.


"Iya...eh bukan...maksudku, daddy memang mengatakan kalau aku gak seharusnya berkelahi begitu dan akhirnya bikin kamu menjadi begini."


"Kamu minta maaf karena di suruh?" Wajah Aluna seketika menjadi masam.


"Bukan...bukan begitu, maksudku daddy memang menyuruhku tapi ...ini juga inisistifku."


"Yang benar yang mana. sih? Di suruh daddymu atau kamu sendiri yang inisistif?" Aluna menampakkan wajah sewotnya.


"Aku...aku enggak di suruh tapi...aduh bagaimana aku mengatakannya..." Rae bingung sendiri, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Wajah Aluna menjadi semakin masam, membuat Rae semakin salah tingkah.


"Kamu sebenarnya marah sama dandy atau memang sedang pengen bikin akau kesal?"


"Aku cuma...cuma gak suka Dandy bersikap begitu."


"Begitu bagaimana? Kamu marah dia ngomong gombal receh itu. Please, aku juga gak anggap serius, kok. Kamu saja yang mungkin terlalu serius nanggepinnya." Sekarang mereka berdua tiba-tiba menjadi tegang kembali.


"Terus? Kenapa kamu amrah-marah sampai meladeninya berkelahi? kalau Dandy di biarkan saja, dia bakal berhenti sendiri."


"Aku...aku gak suka aja dia pegang-pegang kamu!" kalimat itu di ucapkan oleh Rae dengan suara tertahan, sebelum kemudian wajahnya menjadi merona seolah dia terkejut sendiri saat dia mengatakan itu dengan mulutnya.


Aluna melongo mendengarnya, dia kehilangan kata-katanya, pipinya menjadi merah jambu.


"Memangnya Dandy ada pegang aku?" Aluna melotot sedikit, sembari mengingat kejadian tadi pagi.


"Dia...dia megang dagumu, kan?"


Aluna tak berkedip menatap Rae, dia bingung harus menjawab apa. Seingatnya, memang Dandy seperti ingin memegang dagunya tapi Aluna menepisnya sebelum Dandy menyentuhnya.


"Kamu mukul Dandy gara-gara itu?" Aluna bertanya, dia seperti tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Eh, maksudku...em...Dandy...dia itu gak pantas bersikap begitu. Dan lagi...yang mukul duluan kan Dandy, bukan aku." Rae memalingkan wajahnya dengan malu, dalam hati dia merutuk sendiri. Rencananya cuma datang menjenguk Aluna dan minta maaf saja, tetapi sekarang dia terperangkap dengan ucapannya sendiri.


Dia hanya berencana mencairkan suasana, memulihkan ketegangan antara dia dan Aluna supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut seperti yang di katakan daddynya tadi, tapi sekarang dia malah dengan tak sengaja curhat tentang perasaannya.

__ADS_1


Dia menyesali mulutnya yang lemes saat berhadapan dengan Aluna, rasanya gadis ini selalu saja bisa memancing perasaannya begitu saja. Dan itu membuatnya benar-benar malu.


"Hai, maaf aku kelamaan..." Emma tiba-tiba membuka pintu kamar tempat Aluna di rawat, muncul dengan tiba-tiba.


"Arka tuh yang aneh-aneh, masa cari teh botol ke apotik." Emma mengoceh sambil terengah-engah, sepertinya dia berlari untuk kembali ke kamar Aluna.


Rae dan Aluna sama-sama terlihat begitu terkejut dengan kedatangan Emma, wajah mereka berdua masih semerona jambu setengah matang. Kedatangan Emma menyelamatkan keadaan dari dua orang yang hanya saling mencuri pandang karena kebingungan dengan tingkah satu sama lain.


"Eh, kalian kenapa? Kenapa kalian terkejut begitu? Aku cemas ninggalin kalian, sampe cepat-cepat balik takut kalian berdua cakar-cakaran, tapi kenapa kalian malah aneh begitu?" tanya Emma ketika menyadari kedua orang itu tak menanggapi kedatangannya dengan sikap seperti biasanya.


"Oh, sepertinya aku harus balik. Mana Arka, kami harus pulang sekarang." Rae tak bisa menyembunyikan kegugupan.


"Sampaikan ke tante Melisa aku pamit pulang, ya...maaf buru-buru, sore ini ada janji latihan basket...aku lupa."


"Memang kita ada latihan basket sore ini?" Arka yang baru tiba bengong sendiri.


"Eh, jadwalnya ada perubahan, lupa bilang. Ayok." Rae tidak lagi membalikkan badannya untuk melihat Aluna.


"Hey, aku gimana, beb? Aku pulang sama siapa? Kan tadi kalian yang bawa aku?"


"Naik grab aja." Rae segera angkat kaki sambil menarik tangan Arka, tanpa memberi kesempatan temannya itu pamit.


"Hey, jangan pulang dulu...aku gak pernah naik grab...!" Teriakan Emma tak di gubris Rae, dia benar-benar kabur dari situ dengan membawa Arka.


"Astaga, dasar manusia-manusia gak bertanggungjawab, laki-laki gak berakhlak. Tampangnya aja yang cakep, hatinya jahaaat. Masa cewek secantik aku di tinggalin begini, kayak habis manis sepah di buang?" Emma mengomel panjang pendek, sementara Aluna masam-mesem sendiri. Dia masih ingat, pemandangan kemarin pagi yang membuatnya merubah sikapnya pada Rae. Sejak melihat kejadian langka itu, dia tidak punya alasan untuk membenci Rae.


(Eh, apa ya kira-kira yang membuat Aluna terpesona dengan Rae? kejadian apa itu? Ikuti lanjutan kisah ini, masih di bab putih abu-abu Rae ya๐Ÿ˜…)


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2