
Jordy dan Dandy mensejajarkan motornya dengan motor yang di kendarai oleh Rae. Panas hatinya melihat adik sepupu dan musuh bebuyutannya itu terlihat lupa jika selain mereka , jika ada manusia lain yang ikut menghirup oksigen yang sama di sekitar mereka. Apa mereka pikir dunia ini hanya mereka dua isinya, sehingga begitu acuh dan tak perduli dengan makhluk lainnya, Jordy benar-benar gusar.
“Heh … ini tuh jalan umum. Ngapain ngobrol ga jelas kayak gitu.” Omel Jordy. Iya … dia hanya menerka jika dua orang itu saling ngobrol, dia bisa melihat gesturnya saja. Yang di lihatnya makin nempel dan saling dekat, membuat mata Jordy terasa panas.
Jordy mengklakson mobilnya dari belakang sementara Aluna hanya menoleh sambil memeperlihatkan wajah masamnya lalu mencibir dengan gaya menggemaskan, bibir yang cantik itu maju setengah merengut ke arah kakaknya.
Sumpah Jordy ingin menendang motor yang sedang Rae kendarai andai dia mengedndarai motor juga. Tetapi, dia tetap setia mengendarai mobilnya di belakang motor anak lelaki yang membuatnya kesal bukan kepalang itu, mengingat yang sedang nongkrong di belakangnya itu adalah harta keluarga mereka.
Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah permukiman elite, dengan cepat Jordy mendahului masuk, menyelip motor Rae yang di picu perlahan.
“Di situ, Rae.” Tunjuk Aluna pada salah satu hunian cukup mewah yang bagian depannya berpagar lumayah kokoh namun tidak terlalu tinggi, dimana mobil Jordy sudah masuk lebih dulu. Dan di sana sudah tampak tante Melisa yang rupanya sedang resah dan gelisah menunggu kabar dari Jordan atau siapapun tentang Aluna. Bahkan ia rela saja menjadi berada di pos satpam penjaga gerbang rumahnya sendiri, demi cepat mendapatkan informasi. Di tangannya ponsel tak lepas dari genggaman. Begitu melihat Aluna yang ada di jok belakang motor sport Rae, wajah yang semula masam dan cemas itu berubah menjadi senyum lega.
“Luna, kamu ga papa sayang. Tante khawatir banget.” Melisa menyongsong Aluna yang susah payah turun dari motor lalu denga lega dia memeluk tubuh Aluna bahkan hanya saat satu langkah aluna mengayunkan kakinya berpijak di bumi.
“Maaf tante, Luna pulang sangat terlambat.” Jawab Aluna berusaha melepas pelukan tantenya dengan wajah penuh penyesalan. Suara pintu mobil terdengar di banting keras saat Jordy turun dari sana, dia tak bisa menyembunyikan rasa kesal yang masih menaungi hatinya setelah baku hantam sebentar di warung makan tadi.
“Kamu sudah makan sayang? kamu makan apa? Dimana ...?” pertanyaan itu tak berjeda sama sekali. Aluna bahkan kesulitan menjawabnya.
“Nanyanya satu-satu dong tante. Iya Luna sudah makan. Ini Rae, temen yang bersedia mengantar Luna Pulang saat Emma ternyata harus segera ikut ke Bandara menjemput papanya.” Aluna tak mau tantenya berpikiran buruk pada Rae, dia langsung menjelaskan tanpa di minta lagi.
"Rae? Kayaknya kita pernah ketemu deh? Dimana, ya?" Alis tante Melisa terangkat tinggi. Dia menatap Rae dengan penuh selidik.
"Iya, tante, kita pernah bertemu." Rae segera menyalami tangan tante Melisa dan menciumnya dengan takjim, di bawah tatapan kesal Jordy yang merasa kehadirannya dengan Dandy di acuhkan sang mama.
"Oh, iya! Kamu kan anaknya bu Sarah? Kita pernah ketemu pas ke butik mamamu itu, kan? Iya, kan?" Raut wajah tante Melisa seketika berubah begitu riang.
__ADS_1
"Iya, tante, benar sekali. Rae dan tante pernah bertemu waktu Rae ngantar mama ke butiknya beberapa bulan yang lalu." Jawab Rae dengan malu-malu.
"Tuh, kan? Tante gak salah ingat kok, memorry tante ini masih bagus." Sahut tante Melisa dengan mimik senang.
"Ma, ini anak yang nyulik Luna!" Jordy menyela dengan suara yang tak bersahabat.
"Eh, nyulik bagaimana?" Tante Melisa melotot pada Jordy dan Dandy.
"Wong itu tadi Aluna bilang kalau dia malah di anterin Rae." Si mamak melotot kepada Jordy membuat Jordy tambah sebel kepada Rae.
“Rae tante. Maaf terlambat mengantar Luna. Tadi kami singgah dulu di Panti Asuhan. Ada titipan yang harus Rae antarkan, karena ada anak asuh di sana yang sakit kritis.” Rae manis membuat tante Melisa baper bukan karena anak ini ramah langsung bersalaman, tetapi juga mencium punggung tangannya tadi, menenangkan hatinya yang baru saja terlepas dari rasa khawatirnya.
“Oh, begitu. Ya, gak apa-apa sayang, tante juga tadi ada liat fotonya di kabarin Luna..."
"Eh, Jo...itu kan' pas mama gak tau kalau Luna sama Rae, lho. Sekarang mama gak cemas lagi, dia pasti baik-baik aja kalau sama Rae, ya kan?"
"Ih, mama! Ga banget." Jordy menatap sang mama dengan kesal.
"Eh, Rae, Masuk dulu yuk ke dalam. Tante buatkan minuman dulu." Tante Melisa sama sekali tak perduli dengan perasaan sang anak yang dongkol sekali dengan sikap manis mamanya pada Rae.
"Eh, Tapi tunggu dulu, hei ada apa dengan pipi mu, kok merah ?” Melisa mengamati penampilan remaja tanggung yang jelas terlihat bakalan tampan maksimal di usia dewasanya kelak.
“Akh, gak apa-apa kok ini. Cuma bekas di tabrak serangga." Rae salah tingkah sambil memegang pipinya, bekas jotosan Jordy.
"Maaf tante sudah terlambat mengantarkan Aluna. Rae langsung pulang saja tante, ini sudah sore takutnya mommy cari Rae" Rae berdalih dan tentu saja Rae menolak untuk berlama-lama di sana. Wajah madam Jordy dan Dandy yang penuh permusuhan sungguh tak enak di pandang.
__ADS_1
“Rae bohong tante, pipinya merah begitu gak karena di tabrak serangga, tapi habis di gamparin kak Jordy” Lapor Aluna segera, dia jelas-jelas membela Rae.
"Haaaah?!" Mata Melisa sama besarnya dengan Jordy yang terkejut dengan laporan sang adik, mereka berdua saling bertemu pandang.
"Joooo?" Mamanya mencari penjelasan, dia menunjukkan raut murka pada sang anak.
"Eh, gak apa-apa tante, ini cuman salah paham saja." Jawaban Rae malah membuat Melisa terlihat semakin bersimpatik pafa Rae ketimbang pada anaknya sendiri.
"Beneran, Jo? Kamu yang bikin bonyok muka Rae?" Cecar tante Melisa.
"Lah, mama. Dia gak bonyok-bonyok amat, cuman Jordy tinju sekali aja." Jordy membela diri.
"Astaga, anak ini! Gimana bisa sih kamu asal tonjok anak orang? Dia bantu Aluna, lho! Bukannya terimakasih malah maen tangan, apa-apa'an sih kamu, Jo?!" Omelan panjang pendek itu beruntun dari mulut tante Melisa dan jelas sekali wajah galaknya itu di pasangnya khusus untuk Jordy sementara Dandy yang sedari tadi berdiri di samping Jordy segera nemisahkan diri dengan pertikaian ibu anak itu, segera masuk ke dalam dengan alasan haus pake banget, padahal takut dia kena getah kemarahan tante Melisa.
"Kalo gitu, kamu jangan pulang dulu, Rae. Tante gak enak ini, ayo masuk dulu. Kita selesaikan di dalam.” Tegas Melisa menarik tangan Aluna setengah menyeret agar mereka masuk ke dalam rumah.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1