CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB. 6 Menyebalkan


__ADS_3

“Ck…ck…ck…dia yang salah, pura-pura gak sadar. Bukannya minta maaf, malah bengong. Dasar egois!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Aluna, sebelum sempat Rae berkata apa-apa.


Rae memalingkan wajahnya, menatap pada Aluna yang menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Emma yang ada di sebelah Aluna kalang kabut saat melihat dua orang itu seperti sedang saling ingin memakan.


“Kenapa kamu ikut campur urusanku?” Rae bertanya dengan rahang mengeras.


“Karena kamu juga suka ikut campur urusanku.” Jawab Aluna pendek.


Semua mata dalam kantin tertuju pada kerumunan kecil di situ, semua tahu jika ada rae memang akan menyita perhatian, tetapi sangat langka jika karena dia bersitegang dengan seorang perempuan.


“Astaga, kalian berdua ini dari tadi seperti Tom dan Jerry saja.” Arka geleng-geleng kepala sambil membantu anak laki-laki itu berdieri tegak.


“Amar, kamu gak apa-apa?” tanya Arka, anak laki-laki culun bernama Amarullah itu hanya mengangguk kecil dengan takut-takut tapi terlihat air mukanya yang begitu sedih setelah memungut kacamatanya yang pecah.


“Sejak kapan akau ikut campur urusanmu? Kamu saja belum sehari ada di sekolah ini?” Rae tak berkedip menatap gadis yang melotot padanya dengan tanpa rasa takut sama sekali.


“Sejak kamu berusaha membuatku tidak bisa masuk sekolah hari ini.” Jawab Aluna mencibir.


Wajah Rae memerah, Arka menarik lengan Rae, sementara Emma berusaha melerai mereka berdua.


“Sudahlah, Rae…Malu di tonton orang.” Bisik Arka.


“Bebeb, jangan marah begitu…aduuuuh, Lun, please jangan cari gara-gara, deh. Amar juga gak apa-apa.” Emma berdiri di depan mereka, tampak kebingungan sendiri harus berada di pihak mana, selama ini satu sekolah juga tahu dia adalah fans berat Rae.


“Dia benar-benar menyebalkan.” Rae berbalik lalu dengan langkah panjang meninggalkan kantin yang menjadi  ramai. Sementara Arka segera memanggil pelayan dan meninggalkan uang untuk membayar minuman yang bahkan belum sempat di sentuh oleh mereka berdua.


“Dasar arogan!! Dia pergi begitu saja tanpa minta maaf sedikitpun, orang macam apa seperti itu. Sejak masuk ke sekolah ini tadi pagi aku sudah punya firasat dia anak yang jahat!” Alunamengomel dengan suara keras tetapi Rae tetap berjalan tanpa menoleh lagi. Tangannya terkepal, tidak pernah dia di buat sekesal ini oleh seorang anak perempuan.


***


Rae melemparkan tas ranselnya ke atas tempat tidur, wajahnya sperti ditekuk sepuluh. Suara ribut adiknya,  Ry dan Rey yang memanggilnya dari ruang makan sama sekali tidak diperdulikannya.


Dia pulang lebih cepat hari ini, bahkan dia nekad melewatkan jam terakhir mata pelajaran sejarah Indonesia karena rasa kesalnya pada gadis baru bernama Luna itu.


TOK! TOK! TOK!


Pintu kamarnya di ketuk, Rae yang sedang marasa kesal membuka pintu kamarnya dan bersiap untuk memarahai adik-adiknya yang sama sekali tidak punya toleransi sama sekali, dia baru saja datang dan mereka seperti biasa akan merecokinya dengan berbagai masalah perseteruan mereka.


“Aku kan sudah bilang, Jangan ganggu…” kalimat yang di lontarkan Rae terhenti, ketika matanya bertemu pandang dengan Sarah, mommynya yang berdiri dengan alis yang di naikkan tinggi-tinggi, pertanda dia mempertanyakan sikap Rae.

__ADS_1


“Sayang…” Sarah menatap putranya itu dengan sedikit heran.


“Ada apa? Kenapa wajahmu kesal begitu?”


“Akh, nggak apa-apa, Rae cuman capek, Mom. Hari ini tugas-tugas banyak sekali.” Sahut Rae dengan salah tingkah, di depan mamanya ini dia tak akan berkutik.


“Tumben pulangnya bahkan belum tengah hari?” Tanya sang mommy.


Rae tak menjawab, dia bolos jam terakhir hari ini, jika dia menjawab dengan jujur tentu saja itu akan mengecewakan sang mama tetapi untuk berbohong dia tidak bisa melakukannya, apalagi berbohong pada mommynya yang lembut hati tapi tegas ini.


“Kamu sakit?” cecar Sarah. Rae tak menjawab, dia hanya menundukkan wajahnya, lebih baik dia tak menjawab dari pada dia membohongi mommynya itu.


“Rae gak apa-apa, mom.” Jawab Rae singkat. Sarah terdiam, masih berdiri di pintu kamar Rae selama beberapa saat mengamati wajah anaknya yang sudah beranjak remaja itu.


“Ry dan Rey baru saja pulang juga, kamu tidak ikut makan bersama mereka?” Akhirnya Sarah mengalih pembicaraannya.


Rae menggeleng,


“Rae akan makan nanti saja, Rae belum lapar.”


“Baiklah, kalau begitu. Ganti bajumu, jangan lupa bersihkan badanmu dulu. Istirahat saja, bukankah kamu ada janji dengan daddymu sore ini?”


“Janji?” Rae terperanjat, dia berusaha mengingat janji apa yang sudah di buatnya dengan sang Daddy.


“Aa…Janji apa?” Rae memegang dahinya, berusaha keras mengingat sesuatu.


“kamu akan mulai ke gym dengan daddymu mulai minggu ini katanya.” Sarah mengernyit dahinya pada Rae.


“Oooh…” Rae menganggukkan kepalanya, seolah baru mengingat janji yang di buatnya bersama sang daddy sebulan yang lalu.


“Bisakah mommy bilang ke daddy kalau Rae sedang nggak mood hari ini.” Rae menatap Sarah dengan penuh permohonan.


“Sedang tidak mood?” Sarah semakin mengernyit dahinya.


Rae tak menjawab, dia tak punya alasan untuk membatalkan janji dengan sang daddy tapi dia benar-benar sedang tidak punya semangat untuk melakukan apa-apa.


“Emmm…kamu baik-baik saja kan, sayang?” Sarah menyelidik pada wajah putranya itu dengan curiga.


“Memangnya Rae kelihatan seperti sedang nggak baik-baik saja?” Rae balik bertanya dengan salah tingkah pada Sarah.


Sarah terdiam sesaat dengan mata yang tak lepas dari anaknya itu, lalu menganggukkan kepanya dan tersenyum kecil.

__ADS_1


“Kamu memang sedang tak baik-baik saja.” Sahut Sarah dengan senyum simpul, lalu berbalik meninggalkan Rae yang melongo melihat kepergian sang mama.


“Astaga, kenapa semua orang spertinya hari ini menjadi menyebalkan semua?” Rae menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup pintu kamarnya. Yang ada di fikirannya sekarang hanya mengganti baju seragamnya, berbaring dan tidur sampai sore. Dia hanya ingin melupakan wajah gadis baru yang sok pintar, sok cantickdan sok dalam segalanya itu. Baru kali ini dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran seorang perempuan.


***


“Dasar, manusia arogan!” Luna berkacak pinggang di depan Rae.


“Hey, apa urusanmu, kenapa kamu selalu saja mengurus semua urusanku!”


“Aku gak ada urusannya denganmu tapi kamu sudah membuatku kesulitan saat pertama aku menginjakkan kaki di sekolah ini.”


“Aku Cuma bilang kamu terlambat satu menit.”


“Dan aku akan mengingatnya seumur hidupku, suaramu yang sok itu, biarpun kamu bersembuyi di balik helm besarmu itu, aku ingat sekali! Kamu hanya iri padaku, kan?”


“Astaga, apa yang ku irikan darimu?”


“Kamu menyebalkan!”


“Kamu lebih menyebalkan!”


Rae mundur saat dilihatnya Luna merangsek ke depan, mata bulatnya itu bersinar aneh, seolah sedang ingin berkelahi dengannya. Sebagai seorang laki-laki, sungguh dia punya harga diri, dia tak ingin berkelahi dengan anak perempuan.


Jemari Aluna yang dingin memegang bahunya, Rae berusaha menepisnya, dia heran ada perempuan yang begitu berani menyentuh laki-laki dengan sembarangan.


“Kamu benar-benar menyebalkan.” Umpat Rae.


“Sayang…”


Rae melongo mendengar suara lamat-lamat itu, dia mengerjabkan matanya, tak percaya dengan kelakuan Aluna.


“Rae sayang, bangunlah, kamu tidur sampai sore…”



(Ketemu sama Sarah, ya😊😊 jangan lupa komen, kira2 cocok gak sih visual Rae ini jadi anak mommy Sarah yg cantiknya berkelas ini😅)


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2