CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 31. Diam-Diam Kasmaran


__ADS_3

Baru pukul 05.30 pagi, hari terasa masih gelap saja, bahkan cahaya matahari masih temaram di balik celah kaca jendela. Rae mebuka matanya dengan berat, telinganya di pasangnya dengan baik, mencoba mendengar apakah ada ketokan, panggilan atau gedoran dari mommynya di pintu.


Sepi?


Rae mengucek-ngucek matanya, terasa berat untuk bangun tetapi bunyi wekernya tadi sudah pasti berbunyi di jam setengah enam tepat. Tak biasanya sang mommy tidak mebangunkannya, bisasanya suara mommynya itu lebih keras dari bunyi wekernya.


Tapi tanpa di panggilpun, Rae harus menyudahi ritual paginya yang selalu bergelut melawan kantuknya sendiri itu.


"Kenapa sih, jam masuk sekolah itu harus sepagi ini, yang bikin peraturan ada sensi apa dengan dunia anak muda? Coba aja jam siang, tentu banyak anak-anak akan berbahagia di dunia ini? Kalau seperti ini, separuh nyawa masih di alam mimpi separuh lagi di alam nyata, hidup itu terasa berat, belajar bagaimana bisa konsen..." Rae mengeluh dalam hati.


Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di tempat tidurnya yang empuk dan nyaman ini, tetapi ingatannya segera melayang, bahwa hari ini hari rabu dan dia ada janji dengan anak-anak panti untuk mengantarkan beberapa buku dan pakaian hangat. Sekarang musim hujan, cuaca lebih dingin dari biasanya, Rae kuatir dengan Pipin, anak kecil yang berusia lima tahun dengan kelainan genetik yang menyebabkan anak itu selalu terserang radang saat cuaca dingin dan cepat sekali tertular virus. Entah apa penyakitnya, sejak dia di telantarlkan orang tuanya dalam keadaan baru lahir di depan pintu panti, pipin sangat mudah sakit.


Rae sangat menyayangi Pipin, karena itu dia selalu berusaha membuat anak itu nyaman. Sejak pertama Rae melihatnya, Rae menyukai anak lelaki kecil dengan mata biru itu.


Dengan langkah setengah gontai dan malas, Rae masuk ke dalam kamar mandi, menghidupkan shower, untung saja air di rumah mereka ini ada pemanasnya jadi Rae tak perlu khawatir dengan air dingin yang mengguyur tubuhnya.


Rae memandang nanar sabun cair yang berwarna cream itu,


"Itu sabun susu, supaya kulitmu halus dan wangi. Siapa tahu setelah memakai sabun mahal itu, kamu bisa semulus badan memer grup band BTS. Mereka kinclong-kinclong gak ada burik-buriknya. Lumayan kan, tampan maksimal modal sabun." Oceh mommynya, saat memilihkan sabun itu untuknya.


"Mommy kira mereka mulus licin begitu karena mandi doang? Kalau begitu, Rae rela mandi sepuluh kali sehari." Rae nyengir kuda.


Tangan Rae terulur, menadah di bawah tempat sabun siap memencetnya tetapi kemudian tidak jadi dilakukannya.


"Akh, gak usah pake sabun. Gak bakal ada yang tahu juga pake apa gak. Parfum kan banyak, ntar wangi juga. Lagian gak ada yang nyium juga." Rae menarik sudut bibirnya. Entah mengapa terlintas wajah masam Aluna di kepalanya. Semula dia handak meraih handuk di atas kepalanya, tiba-tiba urung di lakukannya.


Wajahnya memerah sendiri, seolah si judes itu sedang bekacak pinggang padanya dan memegang hidungnya,

__ADS_1


"Bau! Kamu mandi pake sabun gak sih? Jorok!"


Rae seperti di perintah oleh otaknya berbalik lagi mengambil sabun ke telapak tangannya dam kemudian menggosok-gosok badannya. Dia seolah takut Aluna mengomentari dirinya.


Setelah mandi dengan sebersih mungkin, dia mengeringkan badannya dan mengambil handuk. Wajahnya terasa panas, dia bingung sendiri, entah mengapa dia terus memikirkan Aluna beberapa hari ini. Mau apa-apa, seolah ada Aluna yang melihatnya.


Kadang sambil mematut diri di depan cermin ketika menyisir rambutnya, tiba-tiba sekelebat perasaan aneh muncul, dia takut saat bertemu Aluna tiba-tiba Aluna akan melihat rambutnya dan memicingkan mata padanya. Sekarang dia menjadi sangat perduli dengan penampilannya, hanya karena takut Aluna tidak menyukainya. Padahal Aluna melihat padanya pun tidak akhir-akhir ini.


"Apakah...apakah...aku benar-benar lagi kasmaran seperti yang di bilang daddy?" Rae menggeleng-geleng kepalanya tak yakin. Mustahil dia jatuh cinta pada lebah berisik yang sok pintar itu!


Dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, dia keluar dari kamar mandi. Tempat tidurnya yang masih acak-acakan itu seperti pemandangan landscape yang indah di mata Rae.


"Oh, Tuhan...kenapa dalam seminggu engkau tidak memberikan tiga hari bernama minggu, dengan begitu aku bisa  santai tidur sampai siang dan gak selalu terburu-buru setiap pagi begini. Atau coba saja, Engkau menurunkan kepintaran tanpa harus sekolah kepada kami, gak perlu belajar matematika sudah pinter aja ngitung-ngitung, gak perlu belajar sejarah dah tahu aja perang dunia berala kali, gak usah repot-repot sudah keluar ijazah. Dunia ini pasti akan indah luar biasa..." fikiran Rae melayang-layang, sambil berjalan menuju lemari besar yang menyatu dengan dinding kamarnya, memang di desain sedemikian rupa supaya terlihat luas.


Kamar Rae nyaris tanpa barang yang terlihat, berbeda dengan kamar si kembar yang seperti ruangan model itu, dengan semua pernak-pernik yang aneh-aneh menurut Rae.


Saat Rae sedang mengenakan celana panjang abu-abunya, tiba-tiba pintu di dobrak dari luar dan...


"Bang Raeeeeeee...!" Ini suara Rey si bungsu yang paling usil dan manja.


"Astaga...! Adik lucknut, gak punya tata krama!" Rae segera menarik celana sekolahnya itu dengan raut terkejut, ini anak memang random, dia bisa tiba-tiba datang, tiba-tiba berteriak dan tiba-tiba bisa membuat orang senewen luar biasa.


"Hah! bang Rae, tumben sudah pake baju! Rey kira lagi bobo tamvan. " Ocehnya, dia masih memakai piyama pink yang lucu, dengan bando kelincinya.


"Ngapain kamu masuk sini? Gak Permisi, pake selonongan begitu!" Omel Rae, mengambil baju atasannya dengan muka masam.


"Salah sendiri kamar gak di kunci." Rey nyengir.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain ke sini?" Rae bertanya lagi, dia malas meladeni adiknya ini terlalu panjang dan lebar.


"Bang Rae, Rey mau tanya..." Si manja ini melemparkan dirinya ke atas tempat tidur sang kakak lalu tengkurap sambil menyangga dagunya.


"Apa? Pe'er Matematika? Abang kan sudah bilang, abang bukan Albert enstein." Sungut Rae, berpindah ke depan cermin besar di dekat meja belajarnya.


"Albert Ensteins bukannya ahli fisika?" Rey mengerutkan keningnya.


"Ya, terserahlah. Mau Fisika mau matematika, pokoknya abang gak buka lowongan pertanyaan soal hitung-hitungan."


"Rey bukan tanya hitung-hitungan, tapi Rey mau tanya, tentang perasaan."


"Egh!" Rae berbalik menghadap adiknya itu dengan mata melotot.


"Ry sudah dua hari ini nangis, gegara cowok yang di taksirnya naksir Rey. Terus Rey harus bagaimana?"



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2