CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 53. Pengalaman Baru


__ADS_3

Dan setelah 10 menit, motor Rae berhenti di sebuah warung sederhana. Di sinilah kini Aluna dan Rae duduk menghadap meja dengan dua gelas teh es manis menunggu pesanan mereka. Jauh dari restoran-restoran mewah, sebab hanya warung makan yang berjeret di sepanjang jalan menuju kediaman tante Melisa.


Rae bisa saja mengajak Aluna makan di tempat makan terkenal dengan wajah kakek berkacamata yang sangat fenomenal itu, tapi bukankah mereka harus putar balik dan itu banyak di dalam Mall. Jika ia mengajak Aluna makan di tempat makan ayam berlambang huruf M kuning besar itu yang jadi favorit si kembar tapi sama itu lebih jauh lagi. Akhirnya di situlah mereka terdampar. Saat jarum jam menunjukkan tepat pada pukul 2 siang, konser di perut mereka berdua sudah tak bisa di damaikan.


"Kita makan di sini saja, ya..." Rae sudah terbiasa dengan tempat makan sederhana tetapi mungkin berbeda dengan Aluna.


Gadis di seberangnya itu mengangguk saja, dia terlihat senang dengan perjalanannya hari ini bersama Rae, sebuah pengalaman pertama lepas dari om Fan dan pengawasan tante Melisa serta mata julid sepupunya Jordy.


“Maaf ya, Lun. Kita makan di pingiiran saja. Aku sudah lapar sekali.” Rae sebenarnya tak enak mengajak Aluna makan di warung itu. Aluna pasti tidak pernah makan di tempat seperti ini. Bukankah ia tiap hari membawa bekal agar tidak makan sembarangan. Jadi Rae yakin ini adalah pengalaman pertama bagi Aluna.


“Iya, ga pa pa." Sahut Aluna meyakinkan. Selama ini dia tak pernah melanggar peraturan orangtuanya dan tante Meli, tetapi hari ini dia heran sendiri bahkan dia berani tak hanya berjalan-jalan sedemikian lama setelah pulang sekolah tetapi bahkan nongkrong di warung pinggir jalan. Jika mommynya tahu, dia jamin akan ngereog berjam-jam dan menerima tausyiah gratis.


"Ya, sesekali boleh lah coba makanan luar rumah.” Aluna berucap dalam hati dengan senyum yang merekah di bibirnya.


“Iya … tapi mestinya tidak di pinggir jalan begini juga. Tapi, mau gimana lagi, kalau kelamaan telat makannya ntar maag kambuh." Alasan Rae sambil menyeruput tehnya.


"Memangnya kamu ada maagnya?" Tanya Aluna dengan cemas.


"Akh, enggak ada, sih. Jaga-jaga aja." Jawab Rae sambil mengerling pada Aluna.


"Boleh tanya, gak?" Tanya Aluna tiba-tiba.


"Apa?"


"Kenapa anak-anak itu memanggilmu kakak undur-undur?" Tanya Aluna sambil melipat tangannya di atas meja.


"Oh, itu...biasalah, nama panggilan kesayangan mereka aja. Biar familiar aja." Dalih Rae, padahal nama itu terkenal gara-gara pas ulang tahunnya beberapa tahun yang lalu di panti itu, daddynya sengaja bawa kue gede dengan tulisan happy birhtday "undur-undur" kesayangan. Setelah itu semua orang memanggilnya undur-undur, khususnya anak-anak yang ada di panti asuhan itu.

__ADS_1


“Oooooh..." mulut Aluna membulat percaya saja dengan penjelasan Rae.


"Sebenarnya aku mau ngajak kamu makan ke mall tadi, tapi gak enak baju sekolahan ntar di uberin satpol PP." Rae mengalihkan pembicaraan.


"Paling-paling belum sampe mall kamu dah pingsan duluan gegara lapar." Aluna tertawa geli mendengar ucapan Rae yang mengada-ngada. Apalagi dia tahu benar, Rae yang sejak tadi mengaku sudah lapar, bahkan sudah tertunda karena menunggu Aluna sholat dan harus bersabar mengikuti jalan pikiran gadis ini untuk tidak mengambil hak anak-anak panti.


(Cinta mampu menunda lapar ternyata ya semacam obat maag begitu …? Hah bocaaah belum tau aja sensasi mak emak bagi duit gaji tuk beli susu dan perang melawan BBM naik. Sementara dunia mereka hanya berisi gulali ya, belom ada terasi yang bikin tong nasi geser, nambah terus. Belum tahu gas habis, bawang nihil, token listrik bunyi😅😅😅 othor jadi curhat sambil nulis nih🤣🤣🤣)


...***...


Makan di luar merupakan momen langka bagi seorang gadis bernama Aluna Queeni Aswindra. Terlahir premature membuatnya terbiasa dengan makanan ala rumahan yang sangat di jaga kehigienisannya.


Dia tak pernah di ijinkan makan sembarang tempat saking orangtuanya terlalu pesesif padanya, mereka selalu takut apa yang di makan Aluna bisa membuatnya sakit atau alerginya kambuh, apalagi hanya di sebuah warung pinggir jalan. Ini termasuk dalam kategori langka.


Aluna sebenar berencana tidak makan, tapi penunjuk waktu bahkan sudah jauh melewati waktu jam makan siang. Tentu saja ia sudah lapar dan lagi bau soto di warung itu sangat menggungah seleranya, sehingga, dengan memanjatkan doa yang panjang dan sedikit bertele-tele. Aluna mengimani jika yang memasak makanan ini adalah tangan-tangan yang di berkahi Tuhannya untuk memasak dengan sehat dan halal.


Sementara kedua remaja labil itu menikmati hidangan sederhana, yaitu ayam goreng kremes dan soto ayam, keduanya lupa jika waktu terus berjalan.


"Enak juga, ya?" Oceh Aluna sambil menyendok kuah soto yang panas dan terasa nikmat itu, jelas berbeda dengan masakan tante Melisa atau mommynya.


"Jelaslah enak, aku juga tahu warung ini dari Arka."


"Eh, berarti sering dong ke sini?" Aluna mengira mereka berdua hanya karena tak sengaja saja terdampar di warung makan sederhana ini.


"Rumah Jordy kan masih se jalur sama rumah Arka, jadi tentu saja aku seringlah lewat sini. Ayah Arka dari aku belum lahir dah kerja sama keluargaku, jadi kadang-kadang aku main ke rumah Arka." Rae menjelaskan sambil tersenyum sementara Aluna terpesona dengan kehidupan Rae yang berbeda dengannya.


Meski mereka sama-sama terlahir dari keluarga kaya, ternyata Rae jauh lebih merakyat dan fleksibel di banding dirinya yang selalu di larang ini dan itu. Serba gak boleh, serba harus hati-hati.

__ADS_1


"Gak semua tempat yang mahal itu enak dan gak semua tempat yang murah itu gak enak. Aku sudah pernah di bawa ke semua tempat itu, yang membedakannya adalah cara kita menikmatinya, apakah dengan rasa syukur atau gengsi." Tutur Rae tanpa maksud menggurui, dia hanya menceritakan pengalamannya.


"Kamu di bebasin kemana aja sama bokap nyokapmu?" Tanya Aluna dengan mata berbinar, takjub.


"Yaaah, di bebasin tapi masih harus mematuhi rambu-rambu juga, klo gak mommyku bakal merepet seharian." Rae tertawa, membayangkan mommynya itu akan menceramahinya dengan cerewet.


"Adik-adikmu juga?"


"Ya, beda lah cara mereka ke aku sama ke adik-adikku, secara mereka kan' cewek tuh. Tapi, gak boleh di samain lah cara ortu didik kita, mereka pasti punya alasan masing-masing soal bagaimana ngurusin kita." Simpul Rae, tak ingin membuat gadis di depannya ini merasa dirinya diperlakukan berbeda oleh orangtuanya.


Percakapan itu mengalir sembari mereka tampak lahap memamah hidangan di depan mereka. Sepertinya memang masakannya enak, di tambah mereka sungguh dalam mode lapar sekarang. Apalagi, terbawa suasana yang tiba-tiba nyaman menyerang hati keduanya. Berdua begini rasanya menyenangkan.


Hal itu tentu berbeda, seratus delapan puluh derajat dengan perasaan Dandy dan Jordy yang merasa kecolongan. Saat sudah tiba di rumah, mengetahui Aluna belum pulang.


“Tante, ayang Luna mana, nih?” Siapa lagi kalo bukan Dandy yang selalu so’ akrab dengan tante Melisa.


“Oh … itu ada kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan kayaknya. Itu program dari sekolah kalian juga.” Jawab Melisa dengan nada datar. Ia segera menyimpulkan dari hasil foto yang Aluna kirim untuknya. Jika ia akan terlambat pulang karena mampir dulu di sebuah Panti Asuhan, bahkan lengkap dengan lokasinya. Agar tante Melisa tidak cemas.


“Bakti Sosial? Kok aku gak tau ya?" Jordy mengerutkan dahinya.


...***...


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2