
Aluna baru saja berbaring di tempat tidur, dia pulang siang td dari rmh dari Rumah sakit, setelah menginap satu malam karena di paksa oleh tante Melisa padahal dia sungguh merasa tak apa-apa.
Di lihatnya nomor yang menghubunginya, itu nomor Emma, dalam panggilan video call. Tampak ada lima panggilan tak terjawab,
"Hallo, Em..." Aluna menyapa saat wajah Emma terpampang di layar handphone nya dengan raut yang tak sabar.
"Hai, hallo! Kenapa kamu enggak angkat-angkat dari tadi sih, Lun? kamu sudah pulang , kan? bagaimana keadaan kamu? Aku telpon dari tadi..." Emma langsung memborbadir Aluna dengan pertanyaan dan ocehan, alisnya naik tinggi sepertinya dia sedang tengkurap di atas tempat tidur.
"Maaf,...aku tadi turun untuk makan malam, baru saja naik ini. HPku ada di kamar." sahut Aluna.
"Oh, selera makanmu baik-baik aja, kan?"
"Selera makanku gak masalah, thanks sudah mencemaskanku. Tadi Dandy juga baru datang ke sini, barusan pulang."
"Hahhh, Kak Dandy datang? Dia berani datang setelah kejadian kemarin pagi? Oh, my God...dia bener-bener Gentle, sumpah!" Emma begitu bersemangat dengan mata berbinar tak percaya, sampai-sampai dia bangun dan duduk, saking bersemangatnya saat membicarakan tentang Dandy.
"Dia datang, mau minta maaf, tapi aku bener-bener males liat dia."
"Oh, my God, bagaimana mungkin kamu bisa bersikap begitu, bestiku sayang. Teganya kamu cuekin suami masa depanku."Mulut Emma meruncing menggemaskan. Dia tampak lucu saat berakting seperti orang marah.
"Semua gara-gara dia noh, suamimu itu, kalau gak karena suami masa depanmu itu yang sok kecakepan tebar pesona, aku mungkin gak perlu nginep di rumah sakit. Masa gara-gara benjol doang aku di rawat di rumah sakit, kan lucu! Tante Melisa ributnya nauzhubilah, waktu aku minta pulang, aku ngerasa oke-oke aja tapi tante Meli malah nyuruh perawatnya pasang infus, alasannya hidungku keluar darah, lah itu cuma mimisan doang. Hedeeeh! Kalau gak gara-gara Dandy aku gak bakalan di hebohin sampai Paris sana." Aluna tampak curhat berapi-apai mengeluarkan uneg-unegnya pada Emma, Orangtuanya yang di Perancis itu hampir tiap jam ngecek keadaannya, macam orang sakit parah stadium lanjut sudah.
"Ya, dia juga gak sengaja, Lun. Di maklumi saja, anggap aja kemarin itu adalah hari apesmu. Coba kamu di posisi aku gimana tegangnya, saat pacar halumu dan suami masa depanmu gelut-gelutan?! Belum lagi korbannya bestimu? Aku jelas-jelas sebagai korban di sini, paling menderita di antara kalian semua..." Emma manyun dengan lucu, tampak menggemaskan di layar ponsel, Aluna tak bisa menahan tawanya, dia tergelak. Emma memang lucu dan meneyenangkan, dalam hal kepercayaan diri, dia mungkin adalah spesies langka yang perlu di lestarikan. Contoh orang cuek yang mendarah daging, tidak perduli orang berkata apa, dia jalan sendiri dengan dunianya.
Entah benar atau tidak dia naksir Rae atau Dandy tetapi selera humornya yang aneh itu selalu saja menghibur Aluna.
"Penderitaanku semakin lengkap saat itu suami masa depanku ngegombal kamu, pedihnya sampai ke jantung tauk? Dan sekarang naga-naganya bebebku itu mulai perhatian sama kamu. Kalau kamu jadi aku, pasti sudah ngajuin migrasi ke planet Mars sana, ya kan?"
"Eh, sembarangan...! Sejak kapan Rae perhatian ke aku, suka ngadi-ngadi deh kamu kalau ngomong." Aluna menyela ucapan Emma yang setengah bercanda itu, tapi pipinya seketika merona.
__ADS_1
"Sumpah, aku liatnya Rae kok aneh banget beberapa hari ini, di tambah kamu terlihat kalem model singa jinak ke dia, naluriku ini berkata lain...kayaknya ada sesuatu yang salah deh antara kalian berdua?"
"Salah bagaimana? Ih, aku gak ngerti dengan omonganmu."Entah mengapa Aluna mendadak merasa salting sendiri, apalagi ketika Emma tampak menunjukkan wajah serius saat membahasnya.
"Hush, jadi orang jangan pura-pura blo'on deh, gak mungkin kamu gak ngerasa."
"Ngerasa apa?"
"Ngerasa kalau kalian berdua itu pasangan serangga yang lola."
"Lola? Kamu ngomong apa'an sih, tambah ngelantur dari tadi"
"Lola itu Loading lambat sayang, makanya jadi orang jangan cuman pinter kimia doang, otakmu itu kepenuhan segala jenis nama atom-atoman, rumus-rumusan jadi gak ngeh urusan yang lain-lain."
"Wah, kamu lagi mabok ya? ngomongmu tambah gak jelas,Em."
"Tapi sesakit-sakitnya hatiku ini, aku masih legowo kalau kamu beneran ada feel ke bebebku itu, aku ikut seneng biarpun hatiku kayak di tusuk-tusuk garpu, setidaknya ada seorang cowok yang akan mengalihkan sejenak mata dan fikiranmu dari pelajaran matematika dan segala macam hapalan yang ada di kepalamu Itu. Dan ini adalah kemajuan untukmu."
"Kamu sadar gak sih, Lun..."
"Kamu tuh yang lagi gak sadar." Aluna menyeringai pada Emma.
"Kamu sudah membuat aku terjebak selamanya di dunia haluku, karena kamu menarik kekasihku itu ke dunia nyatamu. Kamu mungkin sekarangbsedang fall in love with my bebeb"
"Wah, kamu tambah parah deh, Em. Sebaiknya kamu tidur cepat biar otakmu kembali normal." Aluna menunjukkan kepalan tangannya di depan hidung Emma berlagak sewot.
"Kalau gak karena jatuh cinta terus ada alasan alasan lain yang bikin kamu berubah sikap ke Rae? Kasih aku satu alasan yang mungkin membuatku percaya kalau sebenarnya kamu itu enggak lagi jatuh cinta kepada bebebku itu?"
Aluna terdiam, dia sesaat tampak berfikir untuk mnejawab.
__ADS_1
"Aku gak bisa marah lagi ke Rae bukan karena jatuh cinta..."Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Aluna dengan malu-malu.
"Terus, kenapa?"
"Aku hanya sedikit mengaguminya."
"Halaaaaah, kagum sama suka itu beda sehelai rambut di iris 10, tipiiiiiiis." Emma tertawa ngakak mendengar alasan Aluna.
"Bukan...bukan begitu maksudku..."Aluna berusaha menjelaskan dengan wajah lagi-lagi memerah.
"Astaga, ngaku aja kalau kamu juga suka sama Rae. Gak usah belat belit macam sendal kelilit ular. Seenggaknya, aku punya temen ngehalu." Emma mengikik, suaranya mood sekali.
"Aku cuma sedikit mengagumi sikapnya saja, sumpah. Aku cuma gak nyangka dia ternyata baik banget diam-diam." Aluna tak menanggapi tawa Emma yang seolah mengejeknya.
"Lah, Rae sebenarnya emang baik, kok. Cuman memang anaknya rada cuekan, cool gitu. Tapi aslinya baik, meski kadang pura-pura budek pas di ajak ngobrol." Tandas Emma.
"Aku punya alasan lain untuk itu. Besok akan aku tunjukin ke kamu, pas pulang sekolah, aku bakal ngajak ke suatu tempat, biar aku gak perlu ngejelasin kenapa aku gak lagi benci sama Rae." Sahut Aluna dengan mimik serius. Emma menghentikan tawanya, alisnya menjadi naik tinggi. Dia sekarang terlihat penasaran pake banget.
"Kita kemana? Apa hubungannya dengan kamu bersikap baik ke Rae?"
"Tomorrow you will know. Good night, sleep well my besti." Aluna melambaikan tangannya sambil tersenyum misterius tanpa sempat mengucapkan nada protes, dan selanjutnya panggilan itu terputusm, wajah Aluna hilang dari layar ponsel Emma.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
__ADS_1
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...