
Emma menarik tangan Aluna begitu gadis itu muncul di pintu kelas setengah menyeretnya untuk segera duduk di kursinya.
Suara kaki kursi yang ditarik paksa sedikit berdecit ketika Emma merapatkan kursinya.
“Ada apa? Nanya jawaban pe-er?” Tuduh Aluna sambil menaikkan alisnya.
“Itu memang salah satu kepentinganku denganmu.” Sahut Emma to the point tanpa malu-malu.
“Tapi soal pe-er pending dulu, ada yang mau kutanyakan padamu. Penting!”
“Apaan?”Aluna bertanya dengan heran sambil menurunkan tas ranselnya dari punggungnya.
“Kamu baik-baik saja, kan?” Wajah Emma di dekatkan, alisnya bertaut dengan serius.
“Memangnya aku kenapa?” Aluna balik bertanya lagi.
“Kamu dan Rae terlihat aneh tiga hari ini.”
“Aneh bagaimana?”
“Kalian berdua enggak saling serang, kalian enggak ura-ura lagi?”Emma terlihat menyelidik dengan raut lucu.
“Ura-ura apaan? Kayak perang Rusia aja.” Aluna terkekeh menyambut pertanyaan Emma yang terkesan jenaka itu.
“Kalian sedang gencatan senjata, ya?”
“Gencatan senjata apanya? Memangnya kami lagi perang?” Aluna bersikap seolah-olah tidak mengerti tetapi dia tahu benar awal Rae dan dirinya saling menghindar ini adalah semenjak pertemuan mereka yang tidak di sengaja di butik Mamanya Rae saat dia menemani tante Melisa ke sana.
__ADS_1
Aluna sebenarnya tidak tahu jika ternyata butik rekanan tantenya itu adalah milik mamanya Rae.
Dan sejak hari itu, setelah dia dengan sengaja menyudutkan Rae, laki-laki itu benar-benar tak lagi berbicara padanya. Sedikit banyak Aluna merasa puas telah membuat Rae kalah telak olehnya. Bahkan kini dia terlihat sangat menghindari untuk berhadapan dengan Aluna.
Dia masuk kelas hanya berselang beberapa menit dari jam pelajaran dimulai. Kalau bell berbunyi, Rae segera angkat kaki dari kelas, menghilang seperti hantu sebelum sempat Aluna menyadarinya.
“Biasanya kalian enggak boleh lirik-lirikan langsung ribut. Sekarang terlihat jaga jarak."
“Bukankah bagus kalau kami gak bertengkar, kamu gak capek liat orang bertengkar terus?” Aluna nyengir kepada Aluna.
“Tapi jadi aneh, lho kalau liat kalian diem-dieman begitu.”
“Yang diem-dieman siapa? Ngapain kami berdua ngomong kalau gak ada yang penting. Yang luar biasa itu kalau kamu liat kami duduk ngobrol santai berdua. Itu baru aneh.”
“Melihat kalian berdua akur memang keajaiban dunia tapi soal kalian jaga jarak kayak gini juga keanehan, Lho.” Emma benar-benar belum menyerah untuk mengorek informasi dari Aluna.
“Tapi, aku kan gak enak liat bebebku murung begitu.”
“Murung bagaimana? Lah, apa hubungannya aku sama wajah dia?” Aluna protes.
“Sejak kalian berdua enggak ribut-ribut lagi, bebebku itu kelihatan masam, aku panggil aja dia enggak noleh.” Ucap Emma dengan nada mengeluh.
“Astaga, Em…wajah dia itu memang begitu kali dari pertama aku ketemu. Sok cool, sok dingin, salah-salah yang keluar dari mulutnya itu savage doang. Masa sih kamu enggak biasa liat dia begitu, secara kalian udah kenal lama.”
“Tapi sekarang dia kayak orang patah hati.”
“Hedeh…Kamu jangan lebay gitu, Em. Aku gak ada hubungannya dengan nyamuk itu.”
__ADS_1
"Aku enggak lebay, ini kenyataan. Perasaanku yang sensitif ini mengatakan, ini semuanya ada hubungannya dengan sikapmu yang cuek bebek sama dia." Tuding Emma sambil menjulurkan tangannya kepada Aluna.
"Apa?" Aluna bingung,
"Minta pe-ermu. Aku tadi malam ngedrakor sama mama jadi lupa bikin pe-er" Ucapnya dengan mimik cuek.
Aluna memberikan sebuah buku, dia tak habis fikir dengan bestinya ini, sempat-sempatnya sambil ngoceh dia minta contekan.
Emma mengambil buku tugas Aluna dan mulai menyalin sambil mengoceh, Aluna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Emma.
Emma memang cuek, dia tidak pernah malu-malu untuk menyalin Pe-er temannya itu. Urusan dia mengerti atau tidak itu belakangan yang penting dia mengumpul tugas rumah itu kepada guru, tetapi Emma tetap saja bertanggung jawab untuk contekannya itu, dia akan mati-matian bertanya dan minta di ajari oleh Aluna jika pelajaran sudah berakhir jika dia tidak mengerti.
"Hey, selamat pagi cantik..." Seseorang tiba-tiba memanggil dengan suara yang terdengar genit.
Aluna dan Emma bersamaan mengangkat wajah ke arah pintu. Pada seseorang yang bersandar di pinggiran pintu.
Senyumnya merekah lebar, seperti bunga matahari yang mekar.
Emma hampir shock, sampai-sampai tanpa sadar salinan peernya tercoret karena tangannya gemetar.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...