
"Hah, rumah sakit?" Aluna melotot
segera ingatan mundur pada kejadian sebelum dunia menjadi gelap.
"Tante..." Aluna membalas genggaman tangan Melisa dengan kuat.
"Rae nggak apa-apa, kan?" Tanyanya dengan suara gemetar.
Mata Jordy menjadi sebesar kelereng menatap adik sepupunya itu.
“Kenapa kamu menanyakan dia, kamu sekarang berada di sini karena…”
“Karena dandy!” Aluna menyela, suaranya terdengar tegas.
Aluna berusaha bangun tetapi tante Melisa menahannya.
“Eh, kenapa jadi Dandy?” tante Melisa bingung mendengar ucapan Aluna.
“Gara-gara Dandy tuh, datangin kelas Luna, tante.” Sahut Aluna cepat sebelum Jordy membela Dandy.
“Yang pasti bikin emosi tuh Rae,kan?” tuding Jordy.
“Yang ngerusuh duluan Dandy.”
“Eh, kenapa kamu membela Rae terus, sih? Padahal kemarin aku dengar Rae sempet bikin kamu pingsan gegara bola basket.” Jordy tampak gusar.
“Eh, stop! Stop dulu! Kita ini ngomongin Rae yang mana, sih? Bukan Rae teman sekelasmu, anaknya Sarah, kan?” Tante Melisa mengeryit dahinya. Aluna tak menjawab. Wajahnya meringis sambal memegang jidatnya yang terkena bogen nyasar Dandy.
“Mama kenal yang namanya Rae?” Tanya Jordy sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Aluna.
“Gimana gak kenal, itu kemarin aku sama Aluna ketemuan sama rae di butik mamanya.” Tante Melisa terlihat bingung melihat raut wajah Jordy yang langsung masam.
Suara handphone tante Melisa berbunyi.
“Daddymu.” Tante Melisa langsung tegang sambal menunjukkan layar ponsel kepada Aluna yang sejenak kehilangan kata-kata.
“Tante kasih tau Dad, ya?” tanya Aluna sambil merapikan rambutnya, sesaat meringis saat jarinya menyentuh dahinya yang lebam.
“Kenapa di bawa sampai rumah sakit segala sih ini? Kan, bisa jadi masalah kalau dad tahu.” Dia mengoceh dalam hati.
“Ya, gimana gak kasih tahu, tante panik lho, pas kamu di bawa ke rumah sakit dari sekolahanmu.” Tante melisa memandang handphone dengan wajah Aluna serta Jordy bergantian. Dia ragu untuk mengangkatnya, karena itu adalah video call.
Jordy mengangkat bahunya, di tahu om Darel, papa Aluna akan rebut urusan anak kesayangannya ini.
“Assalammualaikum…” Suara Darel terdengar tak sabar ketika akhirnya
Tante Melisa mengangkatnya sambal meringis. Dahi adiknya itu berkerut tegang, sementara Anin, mama Aluna ada di sebelahnya. Sepertinya mereka sengaja menelpon untuk mengetahui kabar Aluna setelah Tante Melisa mengabari beberapa saat yang lalu.
“Wallaikumsalam.”
“Bagaimana kabarnya Aluna sekarang? Kenapa ponselnya tidak aktif. Dia di mana? Dia tidak apa-apa, kan?” Pertanyaan itu datang bertubi-tubi.
__ADS_1
“Aluna sudah sadar, dia hanya…” Tante Melisa tampak ragu, ketika Aluna memberi kode meminta ponsel itu di berikan kepadanya.
“Biar Luna yang ngomong sama Daddy.” Ucapnya setengah berbisik.
“Eh, ini Luna…” Tante Melisa menyerahkan ponselnya pada Aluna, merasa bersyukur Aluna menyelamatkan dirinya dari situasi itu. Dia tahu betul Darel cukup cerewet soal Aluna, bahkan untuk mengajukan Aluna bersekolah di Surabaya bersamanya perlu nego berhari-hari.
Kalau tidak Aluna yang bersikeras Darel tidak mungkin mengijinkannya.
Sekarang, baru dua minggu Aluna bersekolah di Surabaya sudah mendengar insiden anaknya itu masuk rumah sakit, tentu saja bisa membuat Darel mungkin naik darah.
“Hallo, Dad, mam, Assalammualaikum.” Aluna menyapa, wajahnya sumringah. Seolah ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Wallaikumsalam, sayang.” Mamanya, Anin, yang berada di sebelah sang ayah menyahut.
“Kamu tidak apa-apa, kan sayang?” Suara mamanya terdengar tenang, berbeda dengan Darel, ayahnya yang tampak tak berkedip dan tak bisa menyembunyikan kecemasannya.
“Luna nggak apa-apa. Mam…Cuma kejeduk saja.” Aluna menunjukkan kepalanya yang masih merah .
“Itu yang bikin kepalamu begitu, siapa?” Darel terlihat kesal.
“Gak sengaja, dad…Luna sudah baik-baik saja.”
“Baik-baik saja bagaimana? Itu kepalamu sampai jenong begitu? Daddy mau pesan tiket pesawat besok pagi, daddy harus kasih pelajaran buat yang berani menyakiti anak daddy.”
“Astaga, dad…Luna baik-baik saja, cuman pingsan bentar. Itu langsung di bawa ke rumah sakit, karena Luna mimisan, dikira kenapa-kenapa.” Aluna membela diri, dia tahu ayahnya itu tidak berkompromi soal dirinya, bahkan andai dia hanya tergores saja.
“Itu sampai mimisan, pasti parah. Pokoknya besok dad pulang. Dad kasih pelajaran yang bikin anak daddy bonyok begitu.”
Sambil berusaha berbasa-basi Tante Melisa keluar dari ruangan meninggalkan Aluna dan Jordy.
“Yang bikin kepalamu lebam begitu beneran si Dandy? Yakin bukan Rae?
Mereka kan yang gelud?” Tanya Jordy penuh selidik.
“Itu memang tangan Dandy. Aku cuman niat misahin mereka, tapi gak sengaja tangan Danddy mukul wajahhku.” Aluna berusaha menjelaskan.
“Terus, kenapa kamu nanyain Rae? Kayaknya kamu lebih cemas Rae dari pada kondisi kamu sendiri?”
Wajah Aluna tersipu, memerah.
“Yang berkelahi kan, mereka? Jadi aku cuma…” Aluna terdiam, dia bingung sendiri mau melanjutkan kalimatnya.
Pada saat yang bersamaan, Emma muncul di pintu,
“Lun, gimana kabarmu, bestiku?” Emma menghambur ke tempat Aluna
berbaring setengah bersandar di bed hospital.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Aluna, senyumnya merekah, bagaimanapun Emma membuatnya merasa tenang, dia adalah teman yang paling perduli padanya.
“Tapi waktu kamu di bawa itu hidungmu berdarah, lho. Hidungmu baik-baik saja, kan? Enggak patah, kan?”
__ADS_1
“Itu hanya mimisan.” Aluna menyambut wajah kuatir Emma dengan tawa kecil.
“Tapi kamu hampir membuatku jantungan lho, untung Rae membawamu ke mobil Kak Jordy.”
“Rae membawaku? Dia menggendongku lagi?” mata Aluna membeliak.
“Iya, tanya tuh sama kak Jordy. Malah kak Jordy sempat-sempatnya meninju wajah Rae sebelum membawamu ke rumah sakit…”
“Hahh…”
Aluna mengarahkan matanya pada Jordy yang berdiri di samping meja kecil di sudut, tampak cuek memainkan ponselnya olah-olah tak mendengar semua yang di katakan Emma.
“Ke…kenapa kak Jordy meninjunya?” Aluna melemparkan pertanyaan itu
dengan suara bergetar, tanpa sadar terlihat raut terperanjat yang menandakan dia tidak rela Jordy melakukan itu pada Rae.
“Dia memang pantas dapat tinju.” Sahut Jordy.
“Tapi Rae enggak salah apa-apa.”
“Mau salah atau enggak, liat mukanya itu bikin darah tinggiku kumat.” Sahut Jordy.
“Tapi…”
“Memangnya kenapa dengan Rae, kok kamu jadi perhatian begitu?” Jordy
merengut pada adiknya itu dengan penuh curiga.
“Seharusnya Kak Jordy mukul Dandy bukan Rae. Mentang-mentang Dandy teman kak Jordy lalu…” Balas Aluna sambal bersungut.
“Selamat sore, maaf apakah aku boleh masuk.” Rae berdiridi depan pintu dengan baju rapi meski di beberapa bagian wajahnya terlihat ada biru merah di sana sini.
“Eh…” Aluna terkejut bukan kepalang melihat kedatangan Rae.
“Astaga, maaf…aku lupa!” Emma menepuk jidatnya sendiri.
“Aku datang bersama bebeb sama Arka juga, lupa bilang…”Emma terkekeh,
“Kalian juga sih, ngapain pake nunggu di luar. Kayak abang-abang gojek aja.”
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1