CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 7. Nasehat Daddy


__ADS_3

Jemari Aluna yang dingin memegang bahunya, Rae berusaha menepisnya, dia heran ada perempuan yang begitu berani menyentuh llaki-laki dengan sembarangan.


“Kamu benar-benar menyebalkan.” Umpat Rae.


“Sayang…”


Rae melongo mendengar suara lamat-lamat itu, dia mengerjabkan matanya, tak percaya dengan kelakuan Aluna, yang menurutnya di luar batas itu.


“Rae sayang, bangunlah, kamu tidur sampai sore…”


Rae membuka matanya dengan terkejut saat suara Luna berubah menjadi suara berat yang sangat di kenalnya.


“Daddy…” Rae segera bangun dan duduk dengan tegak, wajahnya memerah sendiri, menyadari dia baru saja bermimpi dalam tidur siang yang kebabalasan sampai sore.


“Siapa yang menyebalkan?” Raka duduk menaikkan alisnya, menatap Rae dengan tatapan penuh curiga.


“Maksud daddy?”Rae berpura-pura  bingung, dia benar-benar salah tingkah ketika ayahnya menanyakan hal itu. Dia kira dia mengucapkannya hanya dalam mimpi ternyata tanpa sadar dia sudah ngoceh tak jelas dalam keadaan tidur.


“Kamu baru saja mengatakan kamu sedang sebal dengan seseorang.”


“Daddy salah dengar.”


“Masa?”


“Rae tidak menyebutkan nama orang, kan?” tiba-tiba Rae menjadi panik sendiri.


“Sepertinya…”Raka mengerling lucu  pada putranya itu, seperti melihat undur-undurnya di kala kedapatan membalikkan mangkok buburnya dengan sengaja di waktu dia masih kecil.


“Kenapa Daddy masuk kamar  Rae tanpa permisi?” Rae merengut protes, berusaha menghindar dari tatapan sang ayah.


“Haruskah daddy ijin dulu kalau mau masuk kamar anaknya?” Tanya Raka, pura-pura terlihat sedang terkejut dengan pertanyaan sang anak.


“Mommy 'kan selalu bilang, berikan anakmu privacy…” Oceh Rae, bertameng pada pernyataan mamanya saat membela dirinya.


“Itu kan aturan mommymu, daddy tidak harus mendengarnya…”


Rae memang selalu kalah jika berdebat dengan ayahnya itu.


“Ada apa daddy membangunkan Rae?” Tanya rae kemudian sambil merapikan rambutnya.

__ADS_1


“Mommymu bilang kamu tidak keluar dari kamar sejak kamu pulang sekolah tadi.” Raka duduk  dengan santai di pinggir tempat tidur Rae.


“Rae ketiduran.”


“Tidak biasanya.”


Rae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, seperti biasanya gaya salah tingkah ini menurun dari sang ayah.


“Rae…” Tiba-tiba wajah tampan Raka menjadi serius, kemudian menatap langsung ke mata anaknya itu bebrapa lama.


“Kepala sekolahmu menelpon daddy hari ini.” Ucapnya kemudian, sambil mengamati reaksi Rae.


Rae menyambut tatapan ayahnya sesaat sebelum kemudian menundukkan kepalanya, dia tahu kesalahannya hari ini tentu akan sampai kepada orangtuanya, tetapi dia tak menyangka jika secepat ini.


“Rae tahu…”


“Kamu tahu tentang apa?” Tanya Raka tajam, mode sebagai ayah sekarang di aktifkan, Rae tahu jika suara ayahnya seperti ini nadanya, dia tak sedang bercanda dengan Rae.


“Rae pulang lebih awal hari ini. Rae pulang sebelum jam pelajaran sejarah.”


“Oh, ya. Kamu bahkan bolos hari ini?” Raka menatap Rae dengan raut sedikit terkejut, Rae segera menyadari jika ayahnya itu tidak sedang membicarakan soal dia bolos pada jam terakhir tetapi sepertinya hal yang lain.


“Rae, ada apa denganmu?” Tanya sang ayah ayah kemudian, tangannya di seilangkan di depan dada seperti seseorang yang sedang berusaha mendengarkan.


“kamu hari ini memecahkan kacamata temanmu di kantin.” Tiba-tiba Raka menimpali ucapannya sendiri, melihat Rae tidak menjawabnya.


“Apakah itu benar?”


Rae mengangkat wajahnya, menatap mata sang ayah.


“Dad, itu gak sengaja.” Ucapnya kemudian, berusaha sedikit membela diri.


“Seorang temanmu melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah, dan hari ini kepala sekolahmu menelpon daddy.”


“Teman?” wajah yang terbersit di kepalanya adalah Arka, tetapi kemudian dia membuang jauh-jauh perkiraannya itu karena Arka adalah satu-satunya teman dekatnya yang selalu membela bahkan menyembunyikan kesalahannya. Jikapun Arka ingin menlaporkan banyak hal yang selama ini di lakukannya tanpa sepengetahuan orangtuanya, tentu saja masalah sekecil ini tentu bukan menjadi hal yang dipermasalahkan lagi. Arka memegang banyak rahasia Rae.


“Seorang temanmu merasa keberatan dengan sikapmu hari ini, jadi dia melaporkan bahwa kamu karena berbuat hal yang kasar pada teman sekolahmu di kantin.”


“Aluna?” Sekarang mata Rae melotot, dia yakin hampir Sembilan puluh persen, jika teman sekelas yang di maksud oleh daddynya itu adalah Luna, murid baru di kelasnya itu.

__ADS_1


“Aluna?” Raka mengulang kata yang di ucapkan oleh Rae.


“Siapa itu Luna?”


“Anak perempuan yang sok itu…” Rae menghentikan kalimat yang di lontarkannya dengan sedikit berapi-api, saat melihat wajah Daddynya itu semakin berkerut padanya.


“Anak perempuan? Kamu sedang kesal dengan seorang anak perempuan sampai-sampai kamu mengigau begitu?”


”Eh, bukan begitu, Dad…mksud Rae…eh…” Rae sejenak bingung sendiri, wajahnya merona tak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskan maksudnya.


“Kita sedang membicarakan apa yang kamu lakukan hari ini, bukan berbicara tentang hal lain. Kamu tidak sedang membully temanmu, bukan? ” Raka mengernyit dahinya.


“Dad, Rae nggak sengaja memecahkan kacamata Amar, saat itu aku dan Arka sedang ngobrol di kantin dan tangan Rae nggak sengaja mengenainya waktu dia lewat. Dia jatuh dan kacamata pecahnya, Rae sungguh nggak sengaja, swear…”Rae menjelaskan duduk persoalannya pada sang ayah.


“Dan kamu meninggalkan temanmu itu begitu saja, bahkan tanpa meminta maaf?”


Rae seketika terdiam, kepalanya mendadak puyeng, ternyata anak bernama Luna ini benar-benar sedang cari masalah dengannya, bahkan semua detil di buatnya sedramatik mungkin hanya untuk membuat dia benar-benar terlihat begitu arogan.  Padahal Rae lupa melakukannya karena sedang terpancing emosi dengan semua perlakuan Aluna padanya.


“Rae nggak bermaksud begitu, dad…” Rae menghela nafasnya, percuma dia berusaha menjelaskan, ayahnya itu tak akan mengerti jika dia berada di posisi Rae saat itu.


“Rae, daddy tak akan menghakimimu untuk apa yang tidak daddy lihat tetapi daddy sangat menyesal jika kamu bersikap semakin tidak terkendali. Akhir-akhir ini kamu di laporkan sering berkelahi dengan beberapa anak, hanya karena masalah yang sepele. Meski kamu mengatakan, kamu hanya sedang berusaha membela salah temanmu yang di perlakukan tidak adil oleh yang lain tetapi daddy juga bukan orang yang menyukai kekerasan.” Raka berucap dengan suara tegas.


“Daddy tahu, sebagai anak remaja, daddy tidak perlu mengekangmu berlebihan tetapi sebagai orangtua daddy tetap mencemaskan pergaulanmu jika itu ternyata bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangan pribadimu. Jangan berusaha bersikap menjadi seseorang yang egois dan semaumu, ingin menunjukkan dirimu benar bukan berarti dengan mengangkat kepalamu terlalu tinggi.” Raka menurunkan volume suaranya, sekarang dia tidak sedang berusaha menegur tetapi lebih kepada menasehati.


“Selama ini daddy dan mommymu percaya, kamu bisa membawa dirimu dengan baik dan bisa menjadi contoh bagi adik-adikmu. Daddy bangga melihatmu tumbuh sangat respek dan perduli pada orang lain, sangat bisa bersikap mengayomi pada dua adikmu. Tapi bisakah kamu mengendalikan emosimu supaya kamu bisa di hormati oleh orang lain?” Raka melemparkan pertanyaan itu, saat melihat Rae kembali menundukkan kepalanya.


Rae terdiam.


“Rae, jangan tinggi hati dengan kelebihan yang kamu miliki karena itu tidak abadi tetapi budi luhurlah yang akan di ingat orang tentang kita. Jikapun kamu tidak sengaja menyakiti temanmu, apa salahnya untuk mengucapkan kata maaf, itu tak akan mengurangi harga dirimu seujung kukupun. Kita tidak perlu menjadi terlalu pintar tetapi penting menjadi baik, ketika kamu melupakan bagaimana bersikap baik dan sopan pada orang lain, kamu bukan orang yang bisa sukses ke depannya.”


Rae tak membantah apapun, apalagi berusaha membela diri lagi, dia hanya mengangkat wajahnya pada sang daddy dengan penuh sesal.


“Rae menyesal sudah membuat daddy mencemaskan Rae. “ Sahut remaja tampan itu, yang membuat Raka menganggukkan kepalanya. Wajah perpaduan Raka dan sarah itu sesungguhnya begitu sempurna, matanya yang berbinar seperti lukisan itu mengingatkan raka pada mata sang istri, dan dia selalu meleleh ketika Rae mengerjap padanya.



(Bapak ma anak masih ada bule2 nya, yah😅😅😅)


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2