CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 17. Mulut Bon Cabe


__ADS_3

“Rae kamu sudah kenal Aluna?” Tanya Sarah sambil berbalik menatap Rae, memastikan apa yang di dengarnya.


“Kami satu kelas.” Jawab Rae sambil mengangguk, sedapat mungkin dia tak menatap pada Aluna, entah mengapa lututnya tiba-tiba terasa sedikit gemetar ketika mereka berdua saling mencuri pandang.


“Wah, kebetulan sekali, ya…” Melisa tampak senang mengetahui jika Aluna mempunyai teman meskipun dia belum genap seminggu pindah sekolah.


"Tante sebenarnya cemas kalau Aluna susah punya teman di sekolahnya yang baru, maklum aja Luna ini sedikit introvert dan rada galak." Melisa tertawa sambil memegang lengan Aluna.


"Biasalah, biarpun dia anak pertama adikku, tapi sedikit manja." Melisa mengerling pada Aluna yang menunduk.


"Ayo, silahkan duduk Kak Melisa." Sarah mempersilahkan mereka duduk di sofa tamu.


Rae dan Aluna sekali lagi saling melirik lalu sama-sama membuang muka, duduk dengan sungkan di kursi samping pawang mereka masing-masing.


"Berarti Aluna kelas X ya, kayak Rae?" Sarah melemparkan pertanyaan basa-basi pada Aluna, dia menangkap kecanggungan dua remaja itu,


"Ya, tante." Jawab Aluna, pendek sambil mengangguk, senyumnya terlihat ramah.


Rae sedikit heran saat melihat bagaimana Aluna berinteraksi dengan mommynya, berbanding terbalik dengan saat Aluna berhadapan dengannya.


Jika saja Aluna tidak jutek ketika di depan Rae, mungkin saja Rae juga akan bersikap berbeda.


"Rae enggak nakal kan di sekolah?" Pertanyaan setengah bercanda dari Sarah membuat Pias wajah Aluna berubah, semerah kuping Rae yang tiba-tiba merona.


"Em...kami gak terlalu dekat tante." Jawab Aluna, menghindari pertanyaan yang bisa saja membuat perang antara mereka berdua semakin memanas.

__ADS_1


Rae menghela nafasnya, setidaknya Aluna tidak mengadukan perselisihan mereka berdua beberapa hari ini.


“Rae kok diam saja dari tadi, sama teman kok canggung begitu?” tegur Sarah melihat Rae yang cuek bebek dengan kedatangan Aluna.


Rae tidak menjawab, dia tampak gelisah duduk di sebelah mommynya.


"Mom, sepertinya Rae mau turun ke bawah saja, Rae haus." Rae beralasan.


“Eh, kebetulan kalian saling kenal Rae kamu bawa Aluna ke café sebelah butik saja, mungkin Aluna mau duduk santai di sana sementara mommy dan tante Melisa mau ngobrol sedikit.” Sarah memberi isyarat


untuk Rae membawa Aluna keluar.


Rae tertegun, sejenak dia bingung seperti halnya ekspresi Aluna mendengar jika dia harus bersama-sama sementara dengan musuhnya di sekolah itu.


“café di sebelah belum buka, mam.” Celetuk Jen.


“Aluna gak apa-apa di sini saja tante.” Tolak Aluna dengan halus.


“Gini aja, Jen tolong bawa Aluna dan Rae ke ruang tamu saja di lantai dua Sementara aku dan ibu Melisa membicarakan bisnis, anak-anak mungkin bosan mendengarnya, mungkin mereka mau ngobrol saja di sana. Jangan lupa jamu Aluna dengan baik ya.” Sarah benar-benar tidak tahu jika dua orang yang mengaku saling mengenal itu telah saling bermusuhan sejak awal. Dia menganggap mereka adalah dua teman baru yang mungkin perlu sedikit ruang dan waktu untuk saling mengakrabkan diri.


“Baik, mam.” Jen dengan tubuh gemulainya itu melangkah kepintu sambil memberi isyarat Rae dan Aluna untuk mengikutinya. Mau tidak mau Rae dan Aluna beranjak dan mengikuti langkah Jen keluar dari ruangan Sarah. Rae tidak ingin membuat mommynya itu bertanya-tanya dengan sikap yang mungkin tampak mencurigakan. Aluna juga tampaknya tak bisa menolak permintaan tuan rumah ini apalagi tante Melisa menganggukkan kepala padanya seolah merestui untuknya keluar dari ruangan itu.


...***...


Rae dan Aluna duduk berseberangan di kursi sofa tamu, menghadap meja dimana Jen menyediakan dua botol minuman dingin di depan mereka dan beberapa buah toples snack. Begitu Jen keluar meninggalkan mereka, sesaat mereka berdua terlihat tegang. Tak ada yang mau memulai berbicara.

__ADS_1


“Kalau kamu gak suka melihatku, kamu boleh keluar.” Ucap Aluna tiba-tiba, memecah kesunyian. Sikapnya berubah judes tak semanis saat di depan Sarah dan Melisa tadi.


“Aku adalah tuan rumah di sini, jika kamu gak suka datang kemari kamu  juga boleh pulang.” Balas Rae, dia tidak ingin membiarkan Aluna selalu bersikap seolah Rae adalah orang yang selalu salah.


“Aku juga gak berminat datang kemari apalagi saat tahu jika kamu adalah orang yang kutemui hari ini. Pagi-pagi sudah bikin gerah aja.”


“Terus, kamu kira aku bahagia melihatmu merusak moodku sepagi ini juga?”


“Eh, aku kalu bukan karena tante Melisa yang minta ditemani juga gak bakal kesini, kok!” Aluna benar-benar orang yang tak pernah menyerah kalau soal berdebat.


“Lah, yang menahan kamu di sini, siapa?”


“Aku cuma nunggu tante Meli kelar urusannya, tenang saja, enggak bakal lama. Dasar nyamuk. Bising banget, sih.” Aluna menjawab tegas di akhiri dengan gerutuan.


“Jadi tamu aja ngelunjak. Dasar Lebah. Berisik!”


“Heh, yang ngelunjak siapa?” Emosi Aluna tiba-tiba terpancing.


“Dari kemarin kamu selalu ikut campur urusanku, kamu kira aku senang?” Rae seperti menemukan tempat yang tepat untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Sekarang, dia harus memberi pelajaran pada mulut bawel ber cap bon cabe milik gadis yang dari kemarin membuatnya panas dingin ini.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2