
“Taraaa … KCF deliverry.” Ternyata itu Arka dan Rae yang membawa seplastik besar paketan makan dari spesialis tukang goreng ayam tepung nomor wahid se Indonesia raya.
“Ya… ampun untung aku sudah punya gacoan. Jika enggak, aku bisa jatuh cinta padamu Arka.” Saking senangnya Emma segera merampas plastik berisi makanan yang baru saja ia impikan tadi.
Mereka hanya bisa tertawa melihat tingkal lucu Emma. Yang walau perawakannya tidak gemoy tapi selera makannya lumayan besar untuk ukuran gadis sekecil Emma.
Makanan sepertinya begitu bersahabat dengan tubuhnya, jika masuk tidak menjadi lemak tapi seolah hilang begitu saja dalam perutnya yang tipis itu.
“Kalap bener …? Kamu lapar apa doyan sih Em …?” celetuk Arka melihat gaya makan Emma yang sulit di hentikan.
“Sumpah otak gue ke pake banget untuk mikir pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi tadi. Dan Pukul 4 nanti otakku harus kerja keras lagi. Aku butuh energi, Ka.” sahutnya di sela mengunyah makanan yang semuanya adalah favoritnya, menurut dia sih.
“Kamu gak Makan Lun …?” Pelan-pelan Rae menyodorkan satu paket nasi komplit untuk Luna yang masih melotot buku pelajaran.
“Liat Emma makan, kok aku jadi kenyang ya …?” Jawabnya dengan senyum lebar. Ah, manis sekali.
“Jangan terbawa perasaan. Perutmu harus di isi. Membaca memang bukan lari, tapi energy yang di butuhkan juga sama. Mau ku suapin?” Astoge …. Dapat kekuatan dari mana tuh si Rae merayu Aluna biar mau makan.
“Uhuk … uhuk.” Emma menepuk dadanya sendiri. Tiba-tiba hatinya mendadak koplo mendengar tawaran Rae mau menyuapi Aluna, bahkan di hadapan dia dan Arka. Hallo. Emma dan Arka itu manusia ya, bukan arca apa lagi hiasan dinding. Mereka belum siap melihat keuwuan antara Rae dan Aluna. Yang menurut prediksi mereka memang setelah LKIR ini wajib jadian.
“Minum Em. Jangan berpikiran yang gak-gak deh.” Arka menyodorkan segelas minuman dingin untuk Emma.
__ADS_1
“Echeem. Wait , wait.” Emma masih menenangkan diri pasca batuk beneran tadi, bukan buatan.
Dia nyaris tersedak sebenarnya.
“Mau aku pegangkan gelasnya? Biar seragam sama Rae yang mau suapin Luna?” Perkataan Arka jelas mengandung sindiran.
Dengan cepat Luna mengambil paketan nasi yang Rae sodorkan untuknya. Membuka bungkusnya, lalu mengigit beberapa kali nasi yang terbungkus kertas itu.
“Ayamnya …?” tanya Arka bingung melihat Aluna yang hanya makan beberapa sendok nasi putih.
“Buat kamu aja.” Ujar Aluna menjawab pertanyaan Arka, tetapi matanya menatap Rae, minta di mengerti.
Rae ingat. Aluna mana bisa makan makanan sembarangan.
“Iya nanti aku buat sendiri saja.” Jawab Aluna terpaksa berdiri dari posisinya untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri.
“Kalian ada yang mau teh hangat?” tawar Aluna dengan raut sopan.
“Kalo ada minuman dingin. Ngapain minum yang panas. Kayak emak-emak loe.” Kekeh Emma yang merasa perutnya sudah terisi penuh dan energynya kembali strong.
Tak lama bu Nila datang. Untuk memastikan kesiapan siswanya. Baik itu dari segi persiapan belajar juga memastikan mereka sudah dalam keadaan kenyang.
__ADS_1
“Maaf ibu tinggal agak lama. Anak ibu mendadak demam. Jadi jika besok kalian masih menunggu pengumuman Ibu Minta guru lain saja menemani kalian ya.” Terang Bu Nila tanpa di minta.
“Arka terima kasih selalu siap menghandel pekerjaan ibu.” Pujinya pada Arka.
“Tidak masalah bu. Yang penting status Arka gak bolos kan di kelas.” Jawab Arka dengan wajah berseri.
“Tentu saja tidak, Arka.” sahut bu Nila sembari tersenyum manis.
“Oh iya bu. Jika sore ini mereka menang. Apakah malam ini kami menginap di sini?” tanya Arka. Sebab ia memang belum ijin secara langsung dengan orang tuanya. Tadi hanya by phone. Jika ia di perbantukan sebagai oficial Tim Rae.
“Sebaiknya, kalian menginap saja. Agar bisa fokus belajar. Dan tidak ada halangan dalam hal antar jemput ke lokasi lomba besok. Jika, sore ini kalian berhasil. Tapi jika tidak lulus. Ya kita pulang bersama.” Ujar Bu Nila dengan nada datar.
“Gimana Rae, yakin masuk 10 besar?” tanya Arka pada Rae yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan Bu Nila dan Arka.
“Tidak boleh sombong. Berusaha saja dulu yang pasti.” Jawab Rae bijaksana.
“Jangan fokus menang ya. Yang penting kalian mendapat pengalaman. Masih ada kompetisi tahun depan dah itu sangat menentukan di Universitas mana kalian akan melanjutkan studi.” Ujar Bu Nila menerangkan.
“Baiklah. 20 menit lagi kalian harus sudah di tempat kompetisi. Semua sudah siap?” tanya Nila menoleh kiri dan kanan. Memastikan pasukan siswanya cukup untuk hadir pada kompetisi selanjutnya.
“Emma? mana Emma?” agak terkejut Bu Nila mencari salah satu siswanya tidak berada di antara mereka.
__ADS_1
(Yuuuuk tetap setia di sini yaaaaaa☺️ love u all)