
"Apa?" Sang Mommy yang sudah sampai di pintu menoleh.
"Buah pepaya mommy ketinggalan."
"Akh, untukmu saja. Biar pencernaanmu lancar." Jawab Sarah dengan cuek bebek sambil menutup pintu.
Hati remaja tanggung ini lega luar biasa, tak ada lagi sesuatu yang mengganjal di dadanya. Rasanya semua tulisan di bukunya menjadi terang benderang.
“Sayang dari mana?” tanya Raka yang sejak tadi tidak tau keberadaan wanita penunggu hatinya tersebut, berbaring menunggu di atas tempat tidur sambil menscroll tik tok, khas bapak-bapak kurang kerjaan.
Dia lantas berdiri menjelang Sarah yang baru saja tiba itu.
“Mengantar buah pepaya untuk Rae.” Jawab Sarah mendekati suaminya. Lalu menyelipkan tangannya agar melingkar di pinggang sang suami.
“Pepaya buat daddynya ini gak di kasih?” goda Raka.
Hey, kenapa tangannya justru menyentuh buah buahan yang berbalut kain melintang di dada sarah.
“Hush, daddynya anak-anak, please jangan suka ambil kesempatan dalam kesempitan ini.” Sarah memukul pelan jari jemari yang sempat bergerilya di area dadanya tadi.
“Sayang, kita sudah mulai tua ya.” Ungkap Sarah, saat keduanya kemudian memilih duduk di balkon kamar, sembari menikmari semilir angin yang bersilir-silir menerpa tubuh yang bertumpuk di atas satu kursi itu.
__ADS_1
Sarah duduk di pangkuan Raka, menatap langit, sekarang dia begitu merindukan langit Leiden di malam pertamanya, belasan tahun yang lalu.
“Kenapa? mau menolak tua, ya?” kekeh Raka, sambil menggosok jambangnya yang tipis belum cukuran itu pada pundak Sarah di depannya.
“Tidak. Hanya …” Kalimat Sarah terpotong. Demi menghentikan gerakan absurd Raka yang bisa sama membuat obrolan mereka tidak kunjung selesai, karena akan berakhir dengan erangan di waktu yang masih terlalu tergesa untuk bercinta itu. Malam belum larut benar.
“Hanya apa …?” Raka akhirnya memilih tertib. Agar Sarah melanjutkan obrolannya.
“Sepertinya anak kita tidak stunting.” Ujar Sarah melanjutkan pembicaraan.
“Hah, apa hubungannya?” Raka tak mengerti dengan arah pembicaraan sang istri.
“Ya, maksudku bayi kita tidak gagal tumbuh. Bahkan sepertinya kelebihan semua zat gizi dan nutrisi. Kita telah membesarkannya dengan sangat baik.”
“Buktinya, kemampuan mereka sudah melebihi orang tuanya.”
“Gimana-gimana? I still don't understand what you mean.” Raka membalik tubuh sang istri yang duduk manja di pangkuannya.
“Aku ingat betul. Dulu daddynya sempat salah jatuh cinta dan terlambat katakan cinta pada wanita yang katanya adalah belahan jiwanya." Sarah mengerling setengah menggoda.
"Akh, jangan di ingat-ingat. Waktu itu aku memang lelet. Tapi kan' ponsel itu nge-lag gara-gara jaringannya yang gak connect. Kamunya cuek banget sampai aku kira kamu tidak tertarik sama aku." Raka berdalih.
__ADS_1
"Ya, daddynya memang rada lelet Tapi, tidak dengan undur-undurmu itu. Di saat ia masih menggunakan seragam abu-abu saja, ia sudah tau gengsi, ia sudah kenal dengan kata cinta.” Ungkap sarah dengan penuh sindiran.
“Heey manis. Apa maksudmu menyindir tentang masa lalu. Aku dulu bukan terlambat menyadari. Hanya aku bertemu orang yang salah terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan orang yang benar dan tepat untuk aku melabuhkan jangkarku.” Raka mengeratkan pelukannya pada sang istri, yang sedang tersenyum mengenang masa manis mereka di Leiden.
“Dady tidak penasaran tentang Rae yang sedang jatuh cinta?” tanya sarah. Itu adalah poin yang ingin ia sampaikan, tapi mengapa justru terjebak dengan masa lalu mereka.
“Itu bukan termasuk dalam tujuh keajiban dunia, sayang. Aku sudah tahu bahkan sudah pernah kenal dengan Aluna. Gadis itu tinggal dengan om dan tantenya. Karena sang ibu sedang mengambil doktor di Paris, dan ayahnya ikut serta.” Dengan santainya Raka mebeberkan informasi yang ia ketahui.
“What? You know before me? Kamu curang, sayang! kamu sudah tau bahkan sedetail itu?” Sarah melotot ke arah suaminya.
“Sudahlah. Tidak ada yang perlu kita permasalahkan. Sekarang waktunya mereka. Kita hanya wajib memantau saja. Mereka sedangdalam fase cinta monyet. Biarkan mereka bahagia.” Raka dengan bijaksana memberikan wejangan pada sang istri. Entah Sarah terima atau tidak. Yang pasti ia pun setuju, jika kebahagiaan Rae adalah yang utama.
"Stttt...kamu lihat bintang di sana?" Raka menunjuk ke arah langit.
"Yang mana?" Sarah memicingkan mata, mengernyit dahinya mengikuti ujung telunjuk Raka.
"Sana!"
"Yang mana?" Sarah menoleh kepada Raka dan pada saat itu bibirnya bertemu dengan bibir sang suami.
CUP!
__ADS_1
(Eh, ini scene kemesraan daddy dan mommy undur-undur, lanjut gak sih? Yuk di komen dong....siapa tahu ada yang rindu sama Kemesraan duo bucin, Sarah dan Raka ini🤣
Jangan lupa di like, komen dan vote yaaah, kembang2an kopi2annya di tunggguuuuuh😘 terimakasih i luv u🥰 )