
Dalam hitungan menit kemudian, Dandy dan Jordy sudah berada di atas jalan raya dalam misi menemukan Aluna.
Memasang aplikasi GPS tentu bukan hal yang sulit bagi keduanya untuk segera mendapatkan titik temu Panti Asuhan yang Aluna share pada tante Melisa.
Dua kali Mobil Jordy sudah di parkir di depan gang dan mereka keluar masuk gang itu untuk mencapai panti Asuhan Kasih Bunda. Mereka sudah mirip mata-mata saja, celingak celinguk di depan Panti yang mirip dengan foto yang Aluna kirim, namun belum menemukan kepercayaan diri bagi keduanya untuk bertanya dan memastikan jika Aluna masih ada di dalam bangunan sederhana itu.
Tak lama, sebuah mobil ambulan terlihat singgah di depam gerbang, saat itu pula tampak seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan membawa tas berukuran besar dan terisi penuh pada tangannya.
“Maaf permisi. Mengganggu sebentar bu.” Dandy segera menghampiri ibu yang sudah memasukan tas dalam ambulan. Dan akan masuk ke dalam bangunan itu kembali.
“Oh, ada apa ya dek?” tanya ibu itu dengan ramah, beliau bukan bu Dasih tetapi salah satu sukarelawan yang bekerja di panti ini.
“Apakah di dalam ada Aluna, bu?” tanpa tedeng aling-aling Dandy langsung menanyakan keberadaan Aluna.
“Aluna? Aluna siapa ya?" Bu ini terlihat mengerutkam keningnya dia seperti berusaha mengingat sesuatu. Tetapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf ibu tidak kenal. Ibu juga terburu-buru sekarang, salah satu anak asuh ibu sakit dan harus segera di bawa ke rumah sakit. Permisi.” Ibu itu terlihat tergopoh masuk dalam gedung panti asuhan.
Dandy dan Jordy saling pandang, tak puas sekaligus tak percaya dengan jawaban sang ibu.
Siapa yang sudah berbohong? Ibu itukah, atau Aluna. Tetapi, sejak kapan Aluna jadi pembohong?
Mereka berada di sana sampai beberapa orang membawa seorang anak kecil yang tampak pucat, di gendong dan di baringkan di brankar.
Sampai Ambulans yang membawa seorang anak kecil menjauh pergi dari pengelihatan Jordy dan Dandy, barulah mereka beringsut kembali menuju mobil Jordy.
"Aluna bohong gak, sih?"Jordy mengomel bimbang.
"Tapi, dia gak pernah bohong selama ini." Jordy menimpali kalimatnya sendiri.
Dengan langkah gontai dia mendekati mobil yang terparkir di ikuti Dandy yang setia di belakang sang sahabat, setelahnya mereka menyusuri jalan arah pulang ke rumahnya. Masih dengan kecepatan super lambat, bahkan Jordy. sesungguhnya tak berani pulang tanpa Aluna.
__ADS_1
"Jo ! Berhenti dulu, Jo!" Dandy menepuk bahu Jordy yang mukanya berlipat 10 itu.
"Itu bukannya motor Rae?"
"Mana?"
"Tuh!" Dandy menunjuk sebuah motor yang di parkir di depan warung sederhana, tak jauh dari persimpangan jalan.
"Iya, sepertinya. Tapi kenapa? apa perduliku sama anak sok itu." Sinis Jordy tak suka hanya dengan mendengar nama remaja itu di sebut.
Urusan Boneka RJ yang di berikannya pada adik Rae telah memperkeruh permusuhan mereka tempo hari.
"Tuh, Lihat. Apa yang bersamanya itu Luna?" Manik mata Dandy dapat memindai dari jarak jauh, jika gadis berseragam putih abu sekolah mereka itu adalah Aluna. Gadis sekaligus sepupu Jordy yang mereka cari-cari sejak tadi.
Jordy bahkan tidak menyahut lagi ketika matanya melihat Aluna sedang duduk berhadapan dengan anak yang paling dibencinya.
Ia segera membelokkan
"Kak Jor..." Aluna terkejut saat menoleh, Jordy dan Dandy sudah berdiri di sampingnya, wajah Jordy merah padam.
"Bugh!" Sebuah tinju melayang ke wajah Jordy, setelah tangan kiri Jordy menarik kerah seragam Rae.
Tidak ada prolog apa lagi narasi. Jordy langsung saja membuat pipi putih nan tampan milik Rae menjadi merah nyaris membiru.
Rae yang tak siap karena terkejut hanya menerimanya tanpa perlawanan, hingga tubuhnya terjajar ke belakang, kursi plastik yang di dudukinya itu terpelanting.
"Kak Jordy!!!" Pekik Aluna melengking. Tak habis pikir ia melihat ulah kakak sepupunya yang hobby sekali adu jotos, dengan orang yang sama lagi.
"Dasar kurang ajar!" Serapah Jordy sambil memburu Rae yang masih sedikit linglung, berusaha berdiri tegak. Pemilik warung ribut melerai mereka, tapi Jordy jelas sudah kalap.
"Elu mau apakan ade gue brengssek??" tantang Jordan maju satu langkah lagi bersiap melayangkan bogem ke dua tapi,
__ADS_1
Bugh!!
Tinju itu berasal dari kepalan tangan Rae, mendarat mulus di rahang Jordy.
Rae gengsi dong, jika tidak membalas Jordy. Setidaknya pulang ini, mereka punya kegiatan sama, mengompres wajah masing-masing dengan batu es, mengurangi memar dan rasa kebas yang pasti muncul belakangan.
Ini adalah baku hantam kedua kalinya antara Jordy dan Rae, beberapa bulan sebelumnya mereka pernah berkelahi juga karena urusan membela teman. Jadi perkelahian ini serupa reuni reka ulang berbumbu balas dendam.
"Dasar, bocah sok!!!" Jordy terbakar amarah sementara Dandy sesaat hanya bingung, ingin membantu Jordy tapi jelas melanggar etika berkelahi, mengeroyok satu orang itu tidak jantan. Di depan Aluna dia merasa penting cari muka.
"Tanya dulu dong , baik-baik! Jangan asal pukul" Rae mengumpat dan bersiap kembali akan melayangkan pukulan keduanya, tapi tangannya segera di tahan Aluna, bahkan kini tubuh Aluna sudah berada sejajar di depan tubuh Rae, rapat tidak berjarak dengan tangan terentang.
Ya, punggung Aluna menempel di dada Rae, membuat jantung Rae mendadak bergemuruh, menghalau amarah yang sedang mengamuk di dadanya. Hampir mirip gemuruh awan hitan yang akan menurunkan hujan, untuk membasahi bumi.
"Bisa ga sih, ngomong baik-baik? Gak usah adu otot?" Dengan wajah bersemu kemerahan Aluna bertanya pada sang kakak, kepalanya terangkat dengan mata membulat. Entah merah itu karena menahan marah, atau karena rasa aneh yang menyeruak dalam dadanya akibat jarak yang terlalu mepet antara dia dan Rae. Baru kali ini dia kontak fisik dengan orang yang di sukainya begitu dekat, tetapi dia tak tahu harus bagaimana memisahkan dua orang yang selalu saling tonjok jika ada kesempatan ini.
"Ngomong baik-baik bagaimana? Dia sudah menculik kamu! Ini kriminal!!!" Si Dandy tampil ke depan dengan tangan berkacak di pinggang, jarinya menuding ke wajah Rae yang ada di belakang punggung Aluna.
"Dia gak nyulik aku, dia yang nolong aku." Sahut Aluna dengan wajah masam.
"Jangan membela dia, Luna! Dia udah bikin kamu terlambat pulang sekolah, ngerayu kamu keliaran dengan pakaian sekolah begini. Pasti dia balas dendam ke aku dengan cara mau ngerusak kamu!" Gertak Jordy dengan bola mata yang nyaris keluar, dia tambah gemas melihat rapatnya tubuh sang adik dengan musuh bebuyutannya itu.
"Astaga Kak Jordy, ini hanya salah paham!"
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...