
Rae hanya bisa menyeringai, rasanya tumben Aluna menyapa dirinya dengan begitu terbuka.
Aluna segera duduk di kursinya tepat di belakang Rae. Terlihat dia agak gugup memang, tetapi setinggi gengsinya Rae, Aluna pun menjunjung tinggi gengsinya. Dia berusaha bersikap senormal mungkin.
"Ish...yang chat-chatan tadi malam? Ampe keramas gitu, ngomong apa sih? Curiges cuyyyy..." Emma menyenggol bahu Aluna sambil cengengesan.
"Chat? siapa yang chat-chatan??" Arka yang baru saja tiba langsung nimbrung, dia duduk di sebalah Rae dengan tampang penasaran. Rae yang di tatap benar-benar salah tingkah tak ketulungan sekarang. Jika sahabatnya ini tahu dari Emma yang jago menambahkan berbagai bumbu dan segala penyedap rasa dalam ceritanya, dia bakal jadi bulan-bulanan Arka.
"Gimana yang soal yang kita balas semalam? Bisa kita sepakati?" Rae langsung berbicara kali ini, dia berinisiatif untuk membuat Arka tahu chat mereka sebatas urusan pelajaran saja.
"Whaaaat?? Sebentar apa aku ada tertinggal sebuah momen antara kalian?" Emma, lagi lagi Emma yang merespon kalimat Rae, gadis ini memang penggiring cerita ter the best.
"Gak..."
"Bukan..."
Rae dan Aluna menyahut bersamaan dengan wajah yang sama-sama merona. Sikap itu membuat Arka melongo bengong sementara Emma tergelak senang. Teriakan mereka berdua yang bersamaan itu mengundang perhatian sebagian dari siswa yang sudah memenuhi kelas. Aluna segera menunduk seperti halnya Rae yang memalingkan wajahnya dengan jengah.
"Bukan begitu., eh kami hanya..." Kalimat Aluna tidak sempat selesai karena Pak Wahyu guru Matematika yang maha killer itu, sudah memasuki ruangan, dengan wajahnya yang serius dan pelit senyum itu. Dan pelajaran pun dimulai tanpa banyak pengantar serta basa basi.
"Kalian bentuk kelompok ya, untuk berdiskusi untuk materi kita hari ini. Satu kelompok 5 orang. Dan Bapak yang menentukan orangnya." Aturan itu di tentukan Pak Wahyu tanpa bisa di ganggu gugat lagi.
"Huuu." Seloroh kompak dari anak-anak dalam ruangan kelas tersebut tetapi hanya sekedar memprotes dengan kalimat itu saja, toh tetap saja mereka mematuhi segala aturan yang Pak Wahyu berikan.
Pembagian itu sukses membuat Emma dan Aluna terpisah, karena telunjuk sadis pak Wahyu menunjuk kepala setiap orang dan mengelompokkan mereka tanpa terima di interupsi.
Emma satu kelompok dengan Arka sang ketua kelas dan entah kebetulan atau bagaimana, sehingga Aluna bisa satu kelompok juga dengan Rae. Telunjuk pak Wahyu memang sakti, bisa membuat dua remaja tanggung yang diam-diam saling jatuh cinta itu tak bisa menahan degupan jantung mereka yang saling berpacu tak biasa di rongganya masing-masing saat tak sengaja bertukar pandang.
Bahan diskusi berupa materi dan Soal sudah di berikan, dan itu berbeda dengan yang di bahas pada tiap kelompok. Tentu memiliki tingkat kesulitannya masing-masing, Pak wahyu memang suka bereksperimen dalam pendekatan pembelajarannya.
Rae, jago bahasa Inggris dan Matematika, sehingga sesulit apapun soal yang di berikan baginya seperti kerupuk teman lauk dan nasi yang akan di mamahnya dengan cepat. No problem, Rae tak mencemaskan hal itu. Dan sedikit banyak dia bernafas lega, setidaknya hari ini dia akan unjuk kemampuan di depan Aluna.
"Rae, kamu saja ketua kelompok kita. Sama pak Wahyu kamu paling berani. Dan Aluna sebagai kang tulis alias sekretaris ya. parasmu cantik, rupamu ayu, senyummu semanis permen loli, pasti tulisanmu rapi." Rayu Bimbim mengatur kelompok mereka, si playboy receh ini mengedipkan matanya pada Aluna.
__ADS_1
Sikap Bimbim membuat darah Rae terasa seperti dipompa bolak balik ke kepala. Rae entah mengapa menjadi illfeel dan tak suka Bimbim bersikap genit kepada Aluna.
Cemburu? Rae mendadak merasa seperti itu, padahal dia tahu Bimbim setengah bercanda saja.
"Terus kamu sebagai apa?" tanya Rae melirik ke arah Bimbim, mode dinginnya kembali on. Aluna mencuri pandang, perubahan wajah Rae yang tak senang tertangkap matanya.
"Aku penasihat di sini. Tapi tulis saja sebagai Anggota. Sebab aku sangat low profile." Alasan Bimbim. Padahal sesungguhnya, ia sangat alergi dengan Mapel ini. Nyaris semua mapel membuatnya alergi kecuali bahasa Indonesia karena dia menyukai puisi, karangan atau sejenisnya.
"Apa hubungannya low profile dengan anggota?" Jess si culun, gadis introvert yang kebetulan se kelompok dengan mereka melotot heran.
"Sttt...segala sesuatu ada hubungannya di dunia ini, manis. jadi, please jangan bertanya lagi soal kekerabatan kosa kata." Pungkas Bimbim sambil mengerling pada Aluna.
"Udah ... Aku sih Yess. Yang penting kelompok kita cepat selesai ngerjakannya." Putus Aluna cepat, menengahi.
"Oke, biar cepat. Jess kerjakan nomor 1, Dio nomor 2, Bimbim 3, biar aku 4 dan 5. Setelah itu kita diskusikan hasilnya. " Tegas Rae, dia sangat ingin Aluna tahu kemampuannya
"Luna ...?" tanya mereka serempak dengan tatapan tak adil.
Pembagian ini terdengar ingin memanjakan Aluna dan kurang keberpihakan menurut para anggota kelompok, tetapi dari sudut pandang Rae, ini waktunya Aluna tahu siapa dirinya.
"Jangan, biar aku kerjakan no 5. Adil kan?" Aluna mana mau di perlakukan tidak adil seperti itu.
"Aluna terbaiiik." Puji Bimbim sambil menaikkan dua jempolnya tinggi-tinggi.
"Aluna pinter semua mapel, sayang lho otaknya yang se encer kuah bakso itu di anggurin. Sekalian Lun, soal jatahku ku serahkan dengan tulus ikhlas kepadamu." Lanjut Bimbin sambil cengengesan.
Beberapa saat kemudian, merekapun mulai sibuk dengan pengerjaan soal masing-masing, sesekali mereka berdiskusi kemudian kembali pada soalnya.
Bimbim terlihat sibuk memelintir pulpen di kening, sebagai pertanda sedang berusaha berpikir, meskipun sesungguhnya fikirannya sedang melayang ke dunia antah berantah.
Yang lain sibuk membuka buku, halaman perhalaman, untuk memastikan rumus mana yang akan di gunakan untuk memecahkan soal di depannya. Trigonometri ini memang materi yang cukup menguras otak para siswa.
Dan Bimbim, dengan alasan klasiknya jika buku Matematikanya tidak terbawa dalam tasnya, sehingga ia hanya cengar cengir manja, menghadap Aluna.
__ADS_1
"Cantik, maniis. Abang ternyata ketinggalan buku. Pinjam bukumu untuk aku liat sebentar boleh? Siapa tahu ada wangsit di sana." Lagi lagi Bimbim merayu Aluna. Aluna mengerutkan alisnya yang hitam cantik itu.
"Kasih aja ke Bimbim. Ini jawaban no 4, periksa bentar. Kalau dah fix, Kamu salin untuk di kumpul." Perintah Rae, yang dengan sedikit sombong sudah menyelesaikan satu soal lebih cepat dari yang lain.
Aluna mengangguk patuh, sekarang dia terlihat tak banyak bicara, segera menggeser bukunya ke Bimbim dan menerima jawaban dari Rae, sesaat memeriksanya, memastikan bahwa jawaban Rae sama seperti pendapatnya lalu menulisnya dengan penuh konsentrasi.
Aluna menarik nafas, mendelik agak merengut saat netranya melihat, Rae menyodorkan buku catatan lagi untuknya. Aluna mengira itu jawaban lagi. Bukankah yang tadi pun belum selesai ia salin.
"Aluna, Serius. Kita satu Tim ikut Lomba Karya Ilmiah, Ya? Kamu jago Kimia kan, aku fikir-fikir memang kita cocok, saling melengkapi."
Barisan tulisan itu di tulis di halaman yang terbuka.
Aluna mengapit bibirnya ke dalam. Bermaksud menyembunyikan perasaan malu dan senang yang bercampur jadi satu mendera hatinya yang mendadak hangat saat membaca isi tulisan yang Rae sodorkan padanya.
"Menurutmu memang cocok kita satu team?" Aluna menulis balasan di bawah tulisan Rae, pura pura jual mahal, tidak langsung bilang iya pada kalimat Rae yang sesungguhnya membuatnya tersanjung.
"Why Not? We can try it"
Degh! Jantung Aluna serasa mau copot, dia bener-bener tersanjung😅
Hallo? Tersanjung?
Dasar bocah, baru di ajak satu Tim saja sudah Ge-eR. Apalagi satu Pelaminan. Iish author ngawur ini😂
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1