CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 26. Antara Benci Dan Cinta


__ADS_3

"Sayang, kemarilah...dengarkan daddy" Raka menggerakkan jarinya memberi isyarat pada anaknya itu mendekatkan wajahnya.


"Antara benci dan cinta itu hanya setipis helaian rambut, bahkan kadang kamu tak menyadari batasnya, cinta dan benci tidak bisa kamu pilah andai itu datang bersamaan, kamu tidak dapat merasakan yang satu tanpa yang lain juga." Volume suara Rae terdengar rendah, hampir berupa bisikan.


"Eh, maksud daddy apa, sih?" Rae melongo mendengar kalimat yang keluar dari mulut daddynya itu.


"Dalam salah satu pelajaran daddy dulu waktu kuliah di Belanda, jelek-jelek begini daddy pernah kuliah S-2 meskipun daddy putus sekolah gara-gara lebih mementingkan cinta daripada sekolah, untuk hal ini, please tidak usah di contoh, bucin akut itu tidak terlalu baik juga..." Raka terekeh sejenak seolah mengenang kisah manis itu saat dia memutuskan melarikan diri dari kuliahnya karena tak tahan berpisah dengan Sarah yang sedang hamil Rae,


"Ada sebuah kuliah umum tentang neurosains." lanjut Raka dengan serius.


"Itu nama pelajaran?"


"Em...semacam itulah, itu semacam seminar sehari, tidak wajib di ikuti sebenarnya. Tetapi daddy tertarik, ingin mengikutinya dulu."


"Kenapa Daddy ambil? kan gak wajib dad, dan lagi agak aneh dan ribet dari namanya itu..." Sekarang Rae terlihat tertarik dengan topik yang sedang di bicarakan sang daddy meski dia mengernyit dahi mendengar nama mata pelajaran yang maha asing di telinganya itu, dia bahkan berfikir daddynya itu sedang mengada-ngada.


"Karena..." Raka mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan mimik waspada yang lucu, solah-olah takut ada yang mendengarnya.


"Karena pada waktu itu daddymu yang tampan ini, sedang di gantung kayak jemuran oleh mommymu yang sok jual mahal itu." Jawab Raka sambil mengedipkan matanya pada putranya yang matanya semakin membesar mendengar jawaban sang daddy.


"Mommy menolak cinta daddy, begitu?" Jiwa penasaran anak remaja tanggung itu menggelora.

__ADS_1


"Eh, bukan begitu. Siapa sih, yang bisa menolak daddymu ini? Mommymu itu cinta mati sama Daddy."Raka menarik sudut bibirnya denagn gaya sombong, membuat akhirnya dua orang itu seperti dua orang teman yang sedang membahas soal perempuan yang mereka sukai. Rae tertawa mendengarnya.


"Kembali ke topik awal, Menurut dosen itu, manusia selalu memiliki dua sisi. kedua sisi ini selalu berada pada tempat yang berseberangan tetapi pada tempat yang seimbang. Ada harapan, ada kecemasan. Ada keberanian, ada ketakutan. Ada cinta, ada pula benci. Keduanya haruslah seimbang." Raka berbicara sambil menaikkan salah satu alisnya, matanya tak lepas dari Rae yang tak berkedip menatapnya.


"Perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan itu mengaktifkan bagian sistem penghargaan di otak yang kaya akan penerima rangsang hormon, entah hormon apa namanya itu, daddy sudah lupa namanya." Raka tampak mengelus-ngelus jidatnya, seakan berfikir keras sambil berbicara.


"Pada saat yang sama, perasaan cinta menonaktifkan bagian dari otak yang berkaitan dengan penilaian dan pembuatan alasan. Disisi yang lain, perasaan benci juga mengaktifkan bagian penerima rangsang yang rentan memicu stres. Nah, pada saat kita terlalu dominan merasa benci bagian penilaian otak banyak dinonaktifkan. Em...seperti muncul keras kepala, egois berlebihan. Jadi, kadang cuma mikirin kesal, marah dan aksi pembalasan," Raka tampaknya benar-benar berusaha keras menjelaskan hal ini pada Rae, meski dia menguraikannya seperti orang yang sedang naik komidi putar.


"Dad, rae gak ngerti Daddy sedang ngomong tentang apa?" Rae mengerjap matanya dengan polosnya.


"Aduuuh, apa bahasa daddy yang ketinggian, ya? atau...memang kamunya nob sekali soal ini" Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Poloknya, pada intinya, cinta dan benci diketahui mengaktifkan dua bagian otak yang sama, insula dan pitamen. Nah, untuk bagian ini daddy ingat bener, daddy catat di otak daddy, karena namanya sama dengan nama dua kucing teman daddy di Leiden." Raka terkekeh sebentar, merasa lucu dengan penamaan itu, karena dia sendiri yang memberi nana kucing Willem, sahabatnya dengan nama itu.


"Cinta dan benci, oleh si insula, dianggap sebagai hal yang sama. Sementara, pitamen kemudian memunculkan tindakan agresif akibat cinta ataupun benci. Jadi kadang-kadang jangan heran, presentasi agresif itu, ya bisa saja berdebat untuk hal-hal yang tidak penting, salah paham dan bertengkar tak jelas. Selain itu, tindakan agresif bisa muncul ketika ada pesaing. Kadang-kadang di lampiaskan dengan gelud sama orang yang di anggap dominan menjadi rival. kurang lebihnya seperti berkelahi dengan teman hanya karena meributkan hal yang tak jelas itu..."Mata Raka mengerling pada Rae dengan sikap jenaka seolah menjelaskan bahwa perkelahiannya dengan Dandy adalah contoh dari apa yang di bicarakannya itu.


"Nah, Rae sayang...Persamaan tersebut menunjukkan bahwa cinta dan benci itu dekat sekali, kan? Karena itu orang akan mudah berganti rasa dari benci menjadi cinta dan sebaliknya. Kita sebagai manusia selalu memiliki dua sisi., ada harapan dan  kecemasan. Ada keberanian dan ada juga ketakutan. Ada cinta, ada pula benci. Kedua sisi harus seimbang. Tubuh dan otak kita punya mekanisme kompensasi yang senantiasa memosisikan manusia dalam kondisi seimbang, berupa rasionalitas. Kalau mekanisme ini tidak seimbang, efeknya adalah penyakit jiwa itu bisa membuat orang bisa tidak waras. " Raka tertawa kecil, dia senang bisa membuat Rae melongo menatap pada ayahnya itu dengan penuh kekaguman, setidaknya dia sudah terlihat seperti seorang dosen yang sedang ceramah mata kuliah soal cinta.


"Dad, Rae benar-benar gak ngerti daddy ngomong apa." Rae menyahut.


"Okey, daddy sederhanakan, menurut pengamatan daddy kamu sekarang sedang berada di antara perasaan itu,"

__ADS_1


"Maksud daddy apa? lagian apa hubungannya dengan Rae, dad?" Si bocah remaja yang belum mengerti apa-apa soal perasaan cinta-cintaan terlihat bingung sendiri menatap wajah sang daddy.


"Maksud daddy, kamu sekarang sedang terjebak antara perasaan cinta dan benci. Jadi daddy anjurkan, lebih baik kamu nyatakan perasaanmu pada si gadis ini, sebelum masalah kalian semakin banyak dan semakin besar. Dan terlebih sebelum kamu ditikung temanmu." Raka tergelak dengan pendapatmu sendiri. Dia hanya pernah mendengar tentang teori ini tapi tidak pernah mempraktekkannya, karena Sarah lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Itu sesuatu yang kadang di sesalinya, karena loadingnya yang lambat, moment menyatakan cinta pada Sarah malah keduluan istrinya itu, dia melewatkan sensasi menyatakan cinta pada Sarah.


"Haah, maksud daddy apa, sih?" Wajah Rae memerah sampai telinganya.


"Astaga, dari tadi gak ngerti-gak ngerti, punya anak laki kok lemot sekali, sih?" raka menggeleng-gelengkan kepalanya menatap wajah anaknya itu dengan gemas.


"Kamu itu sedang jatuh cinta, my boy! Jadi sebagai laki-laki yang sudah berpengalaman dalam urusan ini, daddy menyarankan, Katakan saja perasaanmu, tembak langsung ke sasaran. Kalau di tikung teman, gak ada garansi kamu tidak patah hati."


Rae menatap sang daddy dengan mata bulatnya yang lucu, dia kehilangan kata-kata, daddynya ini benar-benar pro soal perasaan!



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2