CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 40. TUKANG KOMPOR


__ADS_3

"Daddy, romantis sekali. Besok mau punya suami seperti Daddy, akh." Celetuk Ry lagi sambil memasukkan potongan roti ke mulutnya. Pertama kali adiknya yang ini buka suara, sedari tadi wajahnya masam saja kayak rujak mangga muda.


"Eh ... Bocah. Rok sekolahmu masih warna biru tau. Kalo tidur masih meluk boneka BT12, ga usah ngomong soal suami, kali. Kejauhan." Hardik Rae pada adiknya yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama itu.


Masih segar ingatannya, dua adiknya ini baru saja bertengkar gegara rebutan boneka. Bukankah terlalu dini jika salah satu dari mereka bicara soal suami. Belum tau saja mereka, bagaimana proses perihal mendapatkan suami.


Dirinya saja yang sedang terserang gejala demam aneh sampai-sampai terserang insomnia saat ada satu cewek di sekolahnya, parkir bebas di otaknya semalam. Bahkan jika dia tak salah ingat, ini perempuan dengan tanpa permisi masuk ke dalam mimpinya menebar senyum paling menawan yang pernah dia lihat. Untung saja hanya mimpi! Jika tidak...? Bahaya...!


"Huuh ... Biarin. Weeek." Ry menjulurkan lidahnya ke arah Rae. Dia melirik pada Rey dengan tatapan kesal. Tampaknya mereka belum baikan.


"Ry mau punya suami kayak daddy, amit-amit kalau punya suami kayak bang Rae. Dah galak, suka ngeselin. Gak ada romantis-romantisnya!"


"Yang mau punya istri macam kamu juga siapa? manja, ngambekan." Balas Rae.


"Sudah ... Sudah. Ini meja makan ya. Bukan meja hijau tempat bersidang. Ayoo ... Semuanya buruan selesaikan sarapan. Sudah di tunggu pak sopir sana. Nanti terlambat ke sekloah." Sarah menengahi pertengkaran kecil anak-abak baru gede mereka.


Selalu saja pertengkaran seperti ini sering terulang setiap pagi atau malam. Tapi semua adegan itu sangat di rindukan Sarah jika anak-anak tiba-tiba salah satunya ada yang sakit atau tak di rumah


"Tuh, di marahin mommymu. Daddy angkat tangan deh." Raka nyengir dengan tingkahnya yang jenaka tapi matanya melirik mesra pada Sarah yang mode emak-emak menggemaskan.


Semua mengerti dan patuh dengan teguran sang mommy. Si kembar sudah terburu-buru masuk mobil, mereka akan di antar oleh supir. Sementara Rae, memilih naik motornya saja pagi ini.


Baru saja selesai mengikat tali sepatunya, sang daddy berdiri di depannya dengan wajah penasaran yang lucu.


"Rae ..."

__ADS_1


"Eh, daddy! Bikin Rae kaget aja." Rae berdiri dengan salah tingkah menarik tangan sang daddy dan menciuminya dengan terburu-buru tanda dia pamit mau segera pergi dari hadapan sang daddy yang cengar cengir mencurigakan.


"Skrip buat nembak Aluna sudah beres semalam?"


Eh ... Pertanyaan macam apa yang keluar dari mulut seorang ayah pada anak lelakinya itu.


"Skrip apa'an sih, dad? gak ada, akh." Rae langsung pasang wajah masam.


"Aish, yang mau ketemuan nih, rileks sayang. Fokus pada topik diskusi tapi jangan pindahkan matamu dari matanya. Itu secretnya."


"Akh, daddy..."


"Sayang, kamu ngomong apa sih sama Rae?" Tiba-tiba Sarah sudah muncul saja di dekat meraka dengan dress flowernya yang kuning manis itu. Sarah terlihat sedikit bingung dengan lelucon yang Raka sampaikan pada putranya itu


"Daaadd." Rae malu dong. Masa sebegitu tepat daddynya menuduh dirinya.


"Hah, apa iya?" Sarah melotot pada Rae dengan tatapa tak percaya.


"Hush, sayang. tak perlu melotot begitu. Soal cinta itu sudah biasa, kamu kan lebih tahu rasanya." Goda Raka pada sang istri.


"Eh, tapi mommy tidak pacaran lho pas SMA." Sarah mendelik pada suaminya itu.


"Sttt...jangan bikin anakmu prsimis gitu, sayang. Tak apa-apa itu, sudah biasa yang suka-sukaan. Jaman sudah modern sayang, anak-anak milenial cinta-cintaan dah biasa, asal jangan kelewatan saja. Laki mah harus begitu, harus tahu rasanya jatuh cinta sama cewek. Yang salah itu kalau jatuh cinta sama pada laki, ya kan?" Raka tertawa berderai melihat wajah sang istri yang terlihat sedikit shock dengan berita pagi ini.


"Tak usah kesal begitu, Rae. Kami yang membuat kamu ada di dunia ini lewat proses psnjang dan berliku. Sebagian masa yang terjadi padamu sekarang, juga sudah kami alami. Mommymu juga wajib tahu tuh, nanti dia bingung sendiri kalau liat kamu uring-uringan macam debt collector gagal nagih." Raka menenangkan Rae, yang wajahnya sudah serupa kepiting tak hanya di rebus tetapi di goreng itu.

__ADS_1


"Jatuh cinta itu tak dosa. Maka akuilah. Dan sampaikan dengan baik dan benar pada pelakunya. Dari pada batinmu tersiksa." Raka menepuk bahu Rae pelan dengan sikap sok bijak. Lalu memberi isyarat dia segera pamit dari depan sang mommy yang hanya mengerjapkan matanya satu dua kali semetara pandangannya tak lepas menatap putranya itu, seakan menolak kenyataan baby Raenya itu sudah mengerti cinta.


"Ingat ... Jadilah lelaki pemberani. Jangan menunggu sinyal tak jelas dari wanita. Itu hanya memperpanjang deritamu. Tersiksa dalam ketidak pastian bahkan ingkar dengan perasaan sendiri." Raka masih memberi semangat pada anaknya, mengiringi langkah sang anak yang terburu-buru dan tersipu malu.


Sungguh, Raka menyesal tidak melakukan hal itu pada Sarah dulu. Ia bahkan sempat pergi ke Leiden hanya untuk mengalihkan perasaannya. Gengsi dengan rasa yang sesungguhnya. Mengulur waktu sampai akhirnya Sarah yang memutuskan untuk mengejarnya.


Bukankah itu pertanda betapa pengecutnya ia menjadi seorang laki-laki. Cinta Raka terhadap Sarah tak terselami, tak tertandingi bahkan tak pernah pudar juga tak terbatas waktu. Tapi, tetap kalah di awal karena Sarah lebih dulu memahami bahwa cinta mereka pantas di perjuangkan. Jika saja Sarah tidak agresif dan memulainya, mungkin Raka tetap akan menjadi seorang pecundang. Dan mungkin saja mereka berdua sekarang tak akan memiliki anak-anak cantik dan ganteng serta lucu-lucu ini.


Raka merinding memikirkannya, tak tahu jadi apa dirinya tanpa Sarah di sisinya.


Raka cukup menyesali sikap itu. Maka,. Ia tak ingin Rae sepengecut dia. Kesalahannya biar jadi masa lalu. Dan Rae adalah putranya. Cerminan hidupnya yang nyata. Kesalahan hanya oleh ia yang lakukan. Tapi tidak dengan Rae. Putranya harus lebih peka pada wanita. Menjunjung tinggi haga diri sebagai perempuan. Yang sejatinya hanya menunggu dan menerima. Untuk di cintai, di lindungi dan di puja selama waktu yang di ijinkan sang pencipta untuk di reguk bersama.


Raka rela jadi tukang kompor buat putra kesayangannya itu demi mengucapkan cinta lebih dulu😄



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2