CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 48. Gibah di Grup Chat Keluarga


__ADS_3

Waktu istirahat selama 30 menit itu hanya serasa dua menit bagi insan di mabuk asmara. Semua bagai sekejab bagi mereka yang menanggung racun cinta. Haih, cinta!  apapun nama perasaan ini, mungkin agak terlalu pagi datang menerpa mereka, bocah ingusan yang baru saja merasakan pubertas pertamanya tapi gengsinya masih segede gaban.


Sepanjang jam pelajaran terakhir, fikiran Rae melanglang buana, matanya hanya tertuju pada punggung Aluna yang ada di bangku depan, sebentar-sebentar dia berdoa dalam hati, berharap gadis itu menoleh padanya.


"Sttt...jangan melototin punggung orang kayak ngeliatin apa gitu. Gak sopan." Arka menyenggol lengan Rae.


"Eh, yang liatin dia siapa?" Rae mengerling tanpa dosa pada Arka. Dia sok jaim tapi tetap saja matanya akan kembali pada titik yang sama. Sayangnya, sampai jam pelajaran berganti Aluna begitu fokus dengan materi pelajaran, membuat Rae seperti cacing kepanasan.


Jam terakhir, pak Ilham, guru sejarah Indonsia menjelaskan tentang Peradaban awal di Kepulauan Indonsia, mana masuk di otaknya segala migrasi ras proto melayu dan deuteru melayu di asia tenggara, soal migrasi perasaannya pun belum teratasi.


Akhirnya Rae mengalihkan perhatiannya, membuka grub Chat WA keluarga RAKA FAMILLY, dimulai dari ocehan Ry, adiknya.


RY Comel


[Daddy, jempuuuut 😌]


My Dad


[Memangnya sudah pulang?🙄 Daddy masih meeting, nih]


RY Comel


[Sudah, Dad. Buruan jemput☺️]


My Mom


[Tunggu, sayang. Mommy suruh sopir jemput, ya...]


REY Crewet


[Jangan lama-lama, mom. Ntar aku minta anterin cowok, loh kalau telat jemputnya 🤧]


Rae


[Woy, jangan kecentilan deh, Rey 😒]


My Mom


[Rey, Ry sabaran dikit ya, mommy tidak terima ada cowok antar kalian sampe pintu rumah. Kecepetan punya mantu, mommy tidak ada cita-cita jadi nenek muda😌 sekolah yang bener dulu, baru mikirin kawin]


REY crewet


[Yang mau buru-buru kawin siapa, mom???🤔]


My Dad


[Jangan kemana-mana, sampai sopir jemput, ya. Daddy gak mau kalian di culik orang jahat🙄Btw mommymu biar nenek-nenek tetap cantik kok😘]


My Mom


[Sayang...😌]


RY Comel


[Hedeh😵‍💫]


My Daddy


[☺️]


Rae


[Biarin aja dad, mereka ngerasain di culik, paling bentar aja, nanti di kembaliin lagi. Mana ada penculik betah nyekap dia, cerewet, makannya juga susah, pilih-pilih mulu]

__ADS_1


RY Comel


[Bang Rae jahat, dad…!]


REY Crewet


[Bang Rae gak sayang adek 😒]


My Mom


[Jangan begitu dong Rae sama adik-adikmu. Masa adiknya boleh di culik begitu, kesayangan mommy semua lho]


My Dad


[Hey, Rae kamu bagaimana kabarnya?🤭]


Rae


[Tumben nanya kabar Rae, dad? Di grup lagi…]


My Dad


[Dah ketemu Aluna?]


Rae


[Dad😷]


My Mommy


[Aluna? Aluna siapa?😧]


My Dad


Rae


[Akh, daddy....]


REY Crewet


[mode menyimak🧐]


Ry Comel


[Bang Rae mau kawin?😲]


Rae


[Gibah😒]


My Mom


[🤔🤔🤔]


Untung saja, bel pulang berbunyi panjang, Rae segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dia malas meladeni pembicaraan grup yang sudah mengarah pada 'pembvllyan' salah satu anggota keluarga itu😅


Bell pulang sudah menggema seantero penjuru sekolah. Sebagian


Siswa sudah berhamburan, bahkan ada yang hampir menabrak guru yang juga sedang mencari jalan menuju kantor akan menyiapkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.


Salam perpisahan sudah bersahutan di dalam kelas tadi pertanda pembelajaran hari itu sungguh telah berakhir. Peringatan dari guru sudah bagai suara operator seluler mengingatkan siswanya tentang tugas yang akan di tagih pada jam pembelajaran berikutnya. Siswa-siswa yang tak sabaran itu tak perduli, mereka begitu bersemangat demi lekas keluar kelas dan bebas beraktivitas selanjutnya.


“Misi … misi. Beeeiiiph, sorry ya aku duluan, mamaku sudah nongkrongin aku di depan gerbang. Kami akan ke Bandara jemput papaku yang baru saja pulang dari perantauan.” Pamit Emma pada Aluna dengan gaya lucu dan setengah tergesa. Ia tampak terburu-buru sekali siang itu papanya pulang dari Amrik. Saking terburu-burunya, hampir tak dia lihat anggukan kepala Aluna mengiyakan sembari melihat sohibnya itu yang bergerak cepat.

__ADS_1


“Selow kali, Em.” Arka merengut merasakan tubuhnya di tabrak


Emma begitu saja.


“Em, hati-hati. Jangan lupa ntar malam chat aku ya.”  Ucap Aluna mengiring kepergian Emma.


“Iya bosque yang bawel. Dadaaah.” Emma mengirim ciuman


jauhnya pada teman-temannya itu, dengan gerakan jalan mundur agar kiss bye nya sampai dengan sempurna.  Rae hanya mengeleng-geleng melihat tingkah lucu Emma nan centil itu. Dia memang tak pernah berubah dari pertama Rae mengenalnya.


“Lun … kamu juga jangan lupa, carikan temanya yang sekira


pas, ya. Nanti kalo sudah jadi, kita konsultasikan sama bu Nila. Apakah itu sudah sesuai dengan standart Lomba seperti biasanya.” Rae ternyata cerewetnya minta ampun ya, kalo udah sesuai tema.


“Iya … pulang sekolah ini aku udah mulai kerja kok.” Jawab Aluna menanggapi permintaan Rae. Tanpa sengaja obrolan itu membuat mereka kembali berjalan beriringan menuju luar kelas.


“Sampai jumpa besok ya Lun. Aku ke parkiran motor di sana.” Pamit Rae menunjuk parkiran yang memang tidak searah dengan langkah Aluna.


“Iya,” Sahut Aluna sambil mengangguk.


“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut Rae.” Pesan Aluna dengan


suara lirih tetapi tetap saja terdengar oleh Rae. Ulala, jika Rae bisa terbang sepertinya dia sudah mau piknik saja ke langit biru, demi mendapatkan pesan ‘hati-hati di jalan dan 'Jangan ngebut Rae’  dari Aluna. Apa kah mungkin Rae akan jalan dengan kecepatan 40km/jam ?


supaya ia bisa menjalankankan pesan sang gadis pujaan, buset sebegitunya Rae.


“Iya, kamu juga hati-hati.” Jawab Rae seadanya, setelah


meredakan huru hara dalam hatinya.


Mereka sudah terpisah, Aluna masih berbaur dengan para siswa yang berjalan kaki lainnya dengan tujuan yang sama yaitu gerbang sekolah. Lima menit berlalu, gerbang mendadak sepi, tersisa beberapa orang yang masih betah berdiri bersama Aluna di sana menunggu jemputan.


Aluna merasa ada yang bergetar dalam tasnya, itu adalah ponselnya


bukan hatinya ya. Tante Melisa menghubunginya.


“Luna …”


“Hallo, iya tante?”


“Maaf, Om Fan mendadak ke Bandara mengantar om Jordan. Tante juga sedang ada tamu di Butik. Tante sudah menghubungi Jordy, tapi dia ada classmeeting katanya bisa pulang sorean, jadi ga bisa anterin kamu juga. Kamu


pulangnya gimana ya, Lun?” tanya Melisa dengan nada cemas.


“Oh,  ga papa Tante. Nanti Luna pake grab atau gojek aja.” Jawabnya cepat.


“Gak. Gak boleh, kamu gak boleh naik grab!”


“Gak papa, tante. Temen-temen Aluna banyak kok yang pulang


naik grab.”


“No! Kalau sampai ketahuan daddymu yang cerewet itu kamu naik grab, tante Meli bisa di goroknya. Atau gini aja,bareng temenmu siapa itu namanya? Yang bawel banget itu? Em…Emma  iya sama Emma saja ya, Lun.” Saran Melisa pada keponakannya itu.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2