
Masuk dalam babak 10 besar adalah harapan sekaligus impian semua sekolah yang sejak awal ikut berkompetisi. Namun, hal itu tidak semudah yang di bayangkan. Ini adalah Lomba Karya Ilmiah Remaja. Kompeteisi ini tidak hanya mengadu kecerdasan berdasarkan teori. Walaupun seleksi tersebut di lakukan melalui soal yang random Saat mereka sudah berada pada posisi 10 besar, justru segala kesulitan bermula.
Dimana tiap sekolah harus dapat menciptakan sebuah Karya Ilmiah yang sungguh lahir dari ide cemerlang mereka.
Penelitian yang siap di uji, jangan lupa hadiahnya adalah beasiswa yang tidak hanya boleh di ambil di Universitas dalam Negeri. Tetapi Luar Negeri pun, telah menjadi bagian yang di janjikan pihak Panitua yang sudah melakukan kerja sama dengan pihak ketiga.
Euforia para siswa peserta Lomba tidak selamanya lebar. Sebab, pukul 10 besok pagi mereka harus kembali beradu untuk mendapatkan posisi 3 besar yang tentu lebih bergengsi dan tantangan yang lebih amazing lagi.
Aluna tahu, belajar bersama sangat membantu. Tetapi ia juga tidak menyangkal. Jika saat melihat Rae, kadang membuncah fokusnya. Entah itu saat tak sengaja beradu tataplah, tiba-tiba melihat senyumannya lah, bahkan melihat belahan rambutnya saja sudah membuat Aluna lupa susunan rumus kimia yang berisi perbandingan atom-atom. Apalagi jika tak sengaja matanya melirik bibir ranum Rae, astaga.. kenapa itu bahkan mirip papan tulis yang menunjukkan barisan simbol zat kimia, bahkan ada beberapa simbol lainya. Fix, Aluna bisa gila jika berlama-lama bersama lelaki yang sudah merusak tatanan galaksi di otaknya.
Belum lagi saat Aluna membayangkan akan sepanjang malam tidur bersama Emma si ceriwis itu. Huh. Jamin. Aluna jamin, dia tidak akan bisa belajar. Sehingga kerisauan tante Melisa tentang aturan sekolah yang menyediakan fasilitas kenyamanan untuk mereka bisa tidur di hotel tersebut pun. Dengan sadar akan Aluna tolak.
“Tapi bu, apakah Luna boleh tidur di rumah saja. Luna janji akan tetap belajar, walau tidak tidur bersama Emma.” Pinta Aluna lantang pada Bu Nila.
Yess … gayung bersambut. Bukankah anak bu Nila sedang sakit dan perlu perhatian ekstra darinya, malam ini. Sehingga permintaan ijin Aluna tentu akan menjadi poin yang akan ia sampaikan pada kepala sekolah yang menyarankan untuk mereka tidur bersama.
“Boleh sih. Tapi …Emma bagaimana?” Bu Nila tentu tidak serta merta memberi ijinnya. Sebab baginya. Percuma saja Aluna Pulang, jika Emma tetap di Hotel. Bukankah malah ia harus tidur bersama Emma.
“Kalo Luna pulang, ya … aku juga bobo di kamar tersayangku saja. Ngapaian … ku di sini.” Celetuk Emma tanpa di minta.
__ADS_1
“Heem … gimana ya …? Kalian di inapkan di sini. Untuk memudahkan dalam bidang transfortasi. Untuk mengurangi kerepotan pengantarann dan penjemputan.” Bu Nila masih m,emiliki beberapa pertimbangan untuk segera setuju.
“Maaf menyela bu. Saya bersedia mengantar Emma dan Aluna tepat waktu. Sesuai dengan pukul berapapun yang ibu inginkan mereka kembali ke sini. Asalkan keponakan saya tetap boleh tidur di rumah.” Tegas Melisa tak sabar dengan keputrusan Bu Nila.
“Apa tidak merepotkan ibu? Sebab ini adalah tugas saya. Hanya, anak saya sedang sakit di rumah.” Tukas Bu Nila sedih.
“Kita ini mitra bu. Jadi, wajar saja saling tolong menolong.” Jawab Melisa Bijaksana.
“Baiklah. Sekali lagi, maaf merepotkan jika besok harus ibu yang mengantarkan mereka ke sini. Paling lambat pukul 8 pagi.” Akhirnya persetujuan yang lumayan lama itu pun menemukan titik persetujuan.
Yang pulang hanya Emma dan Aluna. Tidak dengan Rae dan Arka. Keduanya memilih tetap saja menikmati fasilitas sekolah tersebut, sesuai arahan. Dengan konteks yang sama, untuk bisa tenang belajar di tempat yang nyaman.
“Jangan di forsir belajarnya ya Lun, Em.” Pesan Bu Nila yang tidak ingin memberikan beban melebihi kemampuan siswanya.
“Jaga kesehatan, Emma. Jangan makan sembarangan dulu.” Pesan Bu Nila melepas kepergian dua siswanya.
“Jangan makan berlebihan yang tepat, bu.” Tawa Arka seraya meledek Emma
“Siapa yang makan berlebihan. Itu tadi makanan favorit, tau.” Emma mana mau terima begitu saja jika di ledek. Apalagi yang meledeknya adalah Arka. Mereka bagai Tom dan Jerry, yang selalu saling ledek. Musuh bebuyutan. Namun akan berteman dan akur kembali di saat-saat genting.
__ADS_1
Emma bukan orang yang cepat ambil hati jadi dia tidak mudah ngambekan.
Shower dengan setelan air hangat sudah menguyur seluruh tubuh Aluna, demi mendapatkan puncak kesegaran demi melepas lelah raga dan otak yang ia kerahkan hari ini. Dan itu tidak hanya Aluna lakukan, Emma dan Rae pun melakukan hal yang sama, Pada kamar mandi yang berbeda tentunya. Mereka memang masih OTW dewasa, masih remaja. Namun, sama sama memiliki kesamaan perintah dari para orang tua mereka. Untuk menjaga kesehatan. Manjaga kestabilan tubuh mereka dengan bertukar suhu tubuh saat mandi. Dan air hangat memang mampu, memberikan sensasi seolah di pijat halus. Saat kucuran air itu berlomba menyentuh tiap sudut punggung mereka. Segar.
Pukul 11 malam.
Melisa tidak yakin dengan keteguhan hati seorang Aluna, yang tentu sangat ambisi ingin menjadi juara. Tidak ada drama mengendap-endap ataupun ketok pintu. Dengan santainya Melisa membuka pintu kamar Aluna. Dan benar saja, anak itu masih berjibaku dengan beberapa buku dan alat tulisnya.
"Hey, sayang..." Melisa menepuk bahu gadis tanggung itu dengan lembut.
“Stop memforsir dirimu dengan berlebihan, Luna. Tidak baik terlalu keras pada diri sendiri. Jika untuk mengejar beasiswa, Mami papimu bahkan sudah punya deposito untuk kamu kuliah sampai mendapat gelar Doktor sekalipun. Jadi, tidak usah ‘ngoyo’ untuk belajar dan menjadi pemenang.” Ucap Melisa kepada Aluna setengah menegur.
“Bukan ngoyo tante. Hanya, Luna yang tahu sampai mana luna harus membaca dan belajar. Dan, beberapa jam tadi sempat terbuang, hingga target belajar Luna melenceng.” Jawabnya sedikit melawan, Aluna mewarisi sikap keras kepala ibunya dan tentu saja pekerja keras serta pantang menyerah sang papi.
“Terus … demi target itu, Kamu rela begadang?” tanya Melisa sedikit galak.
“Oke … Luna tidur.” Luna bukan anak pembangkang, apalagi sudah membantah. Sesegera mungkin ia menutup buku, mematikan lampu belajarnya. Kemudian naik ke atas ranjang, menarik selimut dan bilang, selamat malam pada Melisa yang menjadi keki akan sikapnya tersebut.
Melisa tahu, anak itu hanya sedang ingin menyenangkan hatinya. Bukan sungguh-sungguh patuh terhadap perintah sang tante.
__ADS_1
“Maaf sayang, tante hanya tidak mau kamu sakit. Kamu sudah cukup keras belajar. Sesuatu yang berlebihan tidak baik juga." Melisa mengecup kening Aluna dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“I know, aunty. Thx …”