CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 32 Taksir-taksiran


__ADS_3

"Ry sudah dua hari ini nangis, gegara cowok yang di taksirnya naksir Rey. Terus Rey harus bagaimana?"


Gadis di atas tempat tidur dengan piyama pink itu menatap abangnya itu dengan tatapan tanpa dosa.


"Ry nangis? kamu di taksir cowok?" Rae mengulang pernyataan Rey dalam bentuk pertanyaan. Yang di tanya hanya menganggukkan kepalanya, mata seperti mata seekor anak kucing, berbinar lucu.


"Hey, anak kemarin sore, sejak kapan kamu tahu itu taksir-taksiran?" Rae melotot pada adiknya itu, kakak dengan mode posesif itu muncul.


"Rey sudah besar bang Rae, jangan panggil anak kemarin sore. Rey sudah mau tamat SMP." Sungut Rey.


"Mau tamat SMP aja sombong, pokoknya gak ada cinta-cintaan. Kalian masih ingusan, main boneka sana!"


"Akh, kayak bang Rae gak ngerasa aja serunya taksir-taksiran. Emang bang Rae gak punya cewek gebetan apa di sekolahan?"


"Gak! Abang gak pernah naksir cewek!" Sergah Rae, dia mendadak merasa tak terima adik-adiknya itu mulai tertarik dengan lawan jenisnya.


"Ih, abang Rae normal gak, sih?"


"Eh, maksud kamu apa? abangmu hombreng begitu? sembarangan kalo ngomong!" Rae seketika mencak-mencak dengan adiknya itu.


"Lah, siapa tahu begitu." Rey meringis lucu kemudian duduk bersila di tempat tidur.


"Atau memang gak ada cewek yang suka sama bang Rae? Tapi...gak heran juga sih, kalau aku jadi cewek di sekolah abang, gak bakal naksir sama bang Rae, dari jauh aja sudah bertekuk sepuluh mukanya. Senyum aja jarang." Cerocos Rey.


"Kamu kira abangmu ini gak laku?"


"Buktinya sampai sekarang bang Rae belum punya pacar."


Wajah Rae langsung merah mendengar selorohan yang keluar dari mulut adiknya itu. '


"Abang fokus belajar, gak mikir pacar." Sahut Rae, dan sekelebat wajah Aluna membuat wajah Rae semakin merah sendiri.


"Kalian berdua juga, baru SMP aja sudah mikirin cowok. Itu mau jadi apa? Kalau mommy sampai tahu, bakal di omelinnya. Nanti ku bilangin Daddy, baru tahu rasa."


"Aaaaa...bang Rae gak seru..." Rey meloncat dari tempat tidurnya sambil menghentakkan kakinya dengan muka masam.


"Rey kan cuma minta solusi, gimana caranya biar Ry gak salah paham. Biar dia gak nangis-nangis lagi, terus nyalah-nyalahin Rey lagi. Kak Jordy kan cuma kasih Rey boneka RJ BT21 aja."


"What?! Ulangi lagi.." Rae seperti di setrum, mendadak kau menahan tangan sang adik yang hendak keluar dari kamarnya.


"Rey cuman minta solusi..."

__ADS_1


"Bukan itu!"


"Ngejelasin ke Ry biar dia gak slah paham."


"Bukan...bukan bagian itu!" Rae mencecar dengan tak sabar.


"Yang mana? maksudnya bang Rae apa sih?"


"Cowok yang kasih boneka elpiji itu."


"Bukan elpiji, bang Rae. RJ! ER-JE!" Rey besungut kesal.


"Terserahlah apa namanya, aku cuman mau dengar nama cowoknya tadi."


"Kak Jordy?"


"Iya, Jordy! Jordy yang mana itu?"


"Kak Jordy yang paling ganteng, manis dan perhatian itu."


"Jordy yang mana? anak SMA sekolah abang?"


"Iya. Dia sekolah di sekolahan bang Rae."


"Jordy yang ini?" Rae menunjuk wajah Jordy yang berdiri dengan senyum lebarnya di sebelah seorang peserta setimnya. Di situ tidak ada Rae, tetapi ada Arka. Dia tidak satu tim dengan Jordy dalam lomba olahraga antar sekolah kemarin tetapi dia dan Arka masih satu kontingen, Rae dan Arka di tim basket.


"Iya...itu kak Jordy!" Rey memekik dengan mata berbinar, seakan nau mengambil alih handphone di tangan Rae.


"Kamu gak salah liat, kan?" Rae tampak berharap adiknya salah lihat.


"Iya, dia kakak kelas bang Rae."


"Anak kelas 12?"


"Ho'oh, bentar lagi kak Jordy tamat. Ry bilang dia mau nikahin kak Jordy kalau dia sudah tamat. Tapi, kak Jordy bilang ke Rey, kak Jordy sukanya dengan Rey."


"Oh, my God. Are You kidding me?" Rasanya Rae hampir kelojotan mendengar salah satu adiknya itu bercita-cita menikahi Jordy, musuh bebuyutannya. Dan sialnya Jordy sepertinya di taksir oleh kedua adik kembarnya.


"Bang Rae kenal dia?" Tanya Rey dengan polosnya.


"Kalian kenalnya di mana? kapan?" Cecar Rae tanpa perduli pertanyaan adiknya.

__ADS_1


"Di kenalin temen, pas bazar sekolah"


"Si monyong itu bilang apa?"


"Monyong yang mana?" Rey balas mendelik.


"Si Jordy itu!"


"Dia gak bilang apa-apa, tapi dia suka care sama aku, sama Ry juga. Cuman kayaknya lebih banyak carenya ke aku."


"Aku gak perduli masalah ker-keran dia. Tapi aku gak suka kalian berdua Ry deket-deket sama si monyong itu."


"Kenapa? Dia ganteng dan perhatian, gak suka marah-marah kayak bang Rae."


"Astaga, kenapa bisa selera kalian om-om begitu!"


"Kak Jordy enggak om-om, dia masih kelas 12"


"Tetep aja dia tua!"


"Tapi dia keren, bang Rae."


"I don't Care! pokoknya bang Rae gak suka kalian dekat sama si monyong itu!"


"Ah, bang Rae, dia baik, lho. Dia janji cari boneka Mang sama Suky lagi unt Rey."


"Pokoknya abang gak mau dengar kalian dekat-dekat dia. Titik!" Rae merapikan baju sekolahnya dengan raut kesal, memasang belt dengan gerakam benar-benar kesal. Dia semakin geram memikirkan Jordy berusaha menggaet adiknya.


"Pergi mandi sana, cepetan pake seragam. Hari ini bang Rae pake mobil! Hari ini bang Rae yang antar kalian ke sekolah!"


"Tapi..."


"Gak ada tapi-tapian!"



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap

__ADS_1


semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2