
Lebih dari 30 menit mata Rae tak bisa terpejam setalah sang daddy meninggalkannya dengan seringai usil dan penuh kepuasan tadi. Gaya tidur Rae pun dari lurus, melintang sampai diagonal di atas tempat tidurnya sendiri. Bolak balik sudah macam kue dadar. Tangannya tak berhenti mengusap gawainya, benda pipih pada aplikasi hijau yang tak bosan ia pandangi sedari tadi.
Menscroll berulang-ulang isian chat yang sebenarnya jauh dari isian romantis. Daddynya yang konon katanya laki-laki teromantis menurut sang mommy itu menuliskan chat-chat yang singkat dan kaku tapi mungkin masih mendingan dari yang mungkin di tulis oleh Rae sendiri.
Semakin di tatapnya, tapi entah mengapa dengan jantungnya yang terasa berdegup lebih kencang saat membaca berulang-ulang? Apalagi emot kiss itu, aaah. Mengapa begitu manis di cerna oleh indra penglihatannya meskipun dia tetap merasa malu sendiri dalam hati.
"Apa iya ... Aku jatuh cinta pada anak baru itu?" Monolognya dalam hati, manyun sesaat, memikirkan perkataan daddynya beberapa hari yang lewat.
"Akh, gak mungkin lah. Jatuh cinta itu kan gak segini amat puyengnya?" sisi hatinya yang lain menyambut geli.
"Hah ...! Apa aku sudah mengerti cinta?" Lanjutnya masih tak percaya, perang bathin di dalam dirinya sudah macam perang di negara Wakanda. Saling serang, membuat dia kebingungan sendiri.
Oh ... Bukan tak percaya tapi lebih ke tidak terima saja bahwa dia menyukai Aluna, si nyamuk itu mungkin.
Rae tak jadi tidur. Ia justru bangkit menekan tombol power laptop di meja belajarnya. Matanya melirik ke jam dinding yang ada di atas, sudah hampir jam sebelas malam. Alih-alih mau belajar malah dia membuka browser di monitor laptopnya. Lalu mengetik pada kolom pencarian dengan kata kunci. 'Ciri-ciri Jatuh Cinta'
Sebenarnya Rae bisa saja bertanya dengan sang daddy soal ini, bukankah ia serumah dengan pria bucin sedunia. Daddynya adalah seorang dokter spesialis cinta bukan? kenapa ia tidak berkonsultasi secara langsung? Padahal sangat jelas, beberapa hari ini sang Daddy bagai cenayang sudah menebak jika anaknya itu memang sedang jatuh cinta pada Aluna.
"Woyyy, gengsi dong, kalau harus konsultasi dengan daddy, yang ada bakal jadi bulan-bulanan daddy sampe sakit perut, mencret plus diare di godain." Gerutunya dalam hati.
Ciri-ciri Jatuh Cinta:
1. Senang berada di dekatnya.
2. Menghargai dan mendukungnya
3. Sering tersenyum karenanya
4. Terus memikirnya
5. Rela berkorban demi dirinya
__ADS_1
6. Selalu ingin membahagiakannya
7. Mencoba memahami dan mengerti dirinya.
"Sialaaan ... !! Mengapa dari 7 poin itu hampir semua terjadi padaku?"
Rae sejenak melongo membaca satu persatu poin yang terpampang di layar.
"Mana jantung ini kayaknya udah ngalami gejala koroner parah lagi, kenapa coba? Baca isi chat aja udah kaya main basket dua ronde tanpa istirahat." Rae ngedumel sendiri, tidak terima akan perasaannya sendiri.
Rasa itu alamiah sekali. Datang tanpa skrip, tanpa narasi, apalagi aba-aba. Sekonyong - konyong datang semaunya. Bahkan dengan gadis ini, yang belum lama dia kenal. Apalagi Kenalnya berawal dari salah paham yang bikin mereka berdua sempat bermusuhan.
"Ini artikel ngaco kali? yang bikinnya gak profesional. Sok tahu!" Rae menshutdown Laptopnya dengan sedikit gusar, dia benar-benar tak terima jika dirinya benar-benar sedang jatuh cinta.
"Enak aja, siapa bilang aku suka sama dia? Seleraku tinggi, standar internasional kali. Aku mikirnya nanti punya cewek yang manis, imut, baik hati dan penurut. Yah, macam IU artis korea itu lah. Masa iya aku jatuh cinta sama cewek ngeselin, suka ribut, sok pinter, tomboy macam Aluna, sih? Akh, daddy bisa aja nuduh yang bukan-bukan."
Lewat dini hari, Rae baru bisa terlelap. Posisi terakhir yaitu tertelungkup menghadap kasur. Dengan ponsel masih dalam genggamannya. Sekuat itukah efek jatuh cinta, yang kata para pendahulu, berjuta rasanya. Dan Rae sama sekali tak menyadarinya, dia sibuk berkonspirasi menolak perasaannya.
"Bang Rae, sarapan bareng kata Mommy." Panggil suara centil Rey di luar kamar Rae.
Dan terakhir di depan meja itu ada sang daddy yang licin bening dengan pakaian stelan resminya, ketampanan hakiki yang kadang membuat Rae iri, berharap sistem genetik bersikap adil dalam pewarisannya sehingga mata dan senyum sang daddy itu bisa dimilikinya.
Senyum?
Gek!
Rae menelan ludahnya, senyum serupa seringai yang terpampang di wajah Raka membuat Rae berkerinyut, dia takut sekali senyum yang menurutnya jahat itu adalah pertanda akan ada kebocoran rahasia besarnya di meja makan ini.
"Banyak tugas sekolah, sayang?" tanya Sarah pada anak sulungnya yang pagi itu terlihat sangat loyo dan nyaris kurang bersemangat.
"Oh ... Iya donk. anak daddy ini banyak tugas sekolah!"
__ADS_1
Tuh, kan? Belum apa-apa sang daddy sudah nyolot saja, tak memberi kesempatan Rae menjawab pertanyaan mommynya.
"Kan Rae mau ikut Lomba Karya Ilmiah di sekolah. Pasti semangat sekali belajarnya semalam." Raka mengedipkan matanya dengan jahil pada sang anak yang berlagak seperti orang kesetrum saat saat mengambil tempat duduk di seberangnya. ,
"Daddy bisa melihat, mata merah macam drakula kehausan itu adalah tanda-tanda ada yang tak cukup tidur malam tadi. Eish...daddy bangga padamu, nak." sang Daddy terkekeh lucu tanpa sedikitpun rasa prihatin, seakan-akan dia yang memiliki kesaktian membaca pikiran anaknya yang baru ABGnya itu.
"Eh, bangga apanya?" Sarah mendengus bersikap agak tak suka dengan penjelasan suaminya, matanya terpicing.
"Rae, prestasi itu penting. Tapi kesehatan lebih penting. Percuma otakmu terisi, jika fisikmu lemah. Energymu terkuras hanya untuk belajar. Jangan di forsir, segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik." Sarah memperingatkan Rae dengan bahasanya yang tegas.
Rae tak menjawab, dia menarik piringnya lebih dekat sembari melirik pada sang daddy, penuh peringatan, supaya sang daddy tutup mulut soal chat-chatan semalam.
"Iya ... Mommy mu benar, Rae. Sesuatu yang berlebihan itu tak baik." Raka terkekeh melihat kecemasan si pria tanggung kebanggaannya itu.
"Kecuali rasa cinta Daddy pada Mommy kalian, itu harus banyak-banyak bahkan berlimpah. Untuk berlebihan yang ini sepertinya memang harus selalu overload"
Aah, Raka. Bahkan di hadapan ke tiga anaknya, sempat-sempatnya saja menarik pinggang Sarah dan mencium pipi wanita tercintanya itu. Hati Sarah berdesir-desir. Sempat saja membuang muka ke arah lain. Untuk menyamarkan pias rona merah jambu akibat ulah manis suaminya. Raka selalu saja bisa membuatnya salting parah meskipun anak mereka semua sudah beranjak remaja.
"Ih, daddy suka genitan sama mommy. Pasti ada maunya tuh." Rey si bungsu menyeletuk sambil menuangkan susu ke gelasnya.
"Tuh, sayang...malu sama anak-anak." Sarah nyengir sambil duduk dan menepuk lengan suaminya itu, memberi isyarat Raka memimpin doa di meja makan.
Sejenak hening saat Raka seperti biasa berdoa untuk semua berkat yang tersedia di meja makan. Bahkan saat seharusnya khusuk begini, Rae tak bisa menepis kegelisahan hatinya.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
__ADS_1
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...