
0813520****
[Ada apa ? -Rae]
mata Aluna membesar sebiji terong membaca siapa yang barusan menchat dirinya, nomor asing dengan nama Rae.
*Aluna
[Rae? Dari mana dapet nomorku?]
0813520****
[Emma. Dia bilang kamu nyuruh ngubungin kamu segera. Knapa?]
Pesannya bener-bener tanpa ba bi bu lagi langsung ke intinya. Justru yang seperti ini membuat Aluna kebingungan sendiri.
"Astaga, Emma bener-bener, deh" Aluna menggigit bibirnya sejenak dia hanya menatap layar ponselnya tak tahu harus menulis apa.
Lalu dengan cepat dia menghubungi nomor Emma, bestienya ini harus tanggung jawab.
"Hallo?"
"Wei, Em! aku harus ngomong apa ni? Kamu yang bikin masalah begini! Pokoknya Kamu tanggung jawab!" Emma langsung mencecar Emma saat gadis itu mengangkat panggilannya.
"Calm down, say! Beb Rae calling kamu?" Tanya Emma bersemangat.
"Iya! Ngapain kamu kasih nomorku ke dia? Terus bilang aku lagi yang nyuruh ngubungin dia. Pake nurani dikit dong, Em. Lah, aku harus ngomong apa ke dia?"
"Bilang aja, kamu suka sama dia. Titik gak pake koma." Potong Emma.
"Astaga, kamu ngomong apa, sih?"
"Jangan jual mahal dah. Bilangin sono. Jamin tidur lu bakal nyenyak malam ini." Emma mengikik di seberang.
Beberapa hari belakangan ini otaknya memang di penuhi oleh wajah Rae,tapi gak begini juga kali ekstrimnya, Aluna jelas tak bisa mengabaikan harga dirinya. Melakukan apa yang di arahkan sang mentor sat set ini bukan hal yang sejalan dengan kepribadian Aluna.
"Hey, Lun kenapa diem? Kamu mau adu bisu ma aku, hah? Aku mau bobo ni sudah, kalo gak ada yang penting bin mendesak gak usah telpon aku deh." Suara Emma memecah kesunyian.
"Aku harus ngomong apa ke Rae, nih? Dia nanya aku mau apa? Terus aku jawab apa?" Aluna menggigit bibirnya dengan bingung.
"Jawab aja sesuai hati nuranimu, Langsung, umum bebas dan rahasia." Sahut Emma, makjleb banget.
"Kamu kira ini pemilu!" Aluna bersungut di sambut tawa Emma yang berderai.
"Aku tanya sekali lagi, kamu suka Rae, gak?" Tanya Emma di seberang full menodong.
"Aaaa...pertanyaan macam apa itu."
"Jawab!"
"Gak tau."
"Hush, jangan munafik deh, Lun. Kamu tuh suka pake banget sama Rae, aku bisa liat sendiri mata kalian berdua macam senter gitu, sekarang pedekate aja lah. Aku dah buka jalan, atur obrolan yang enak gitu. habis itu pancing dia biar nembak kamu. Happy ending deh."
"Gak semudah itu kali..." Aluna berucap dalam hatinya tetapi dia tak mau melawan Emma lagi, dia tak bisa bohong dengan hatinya pada temannya ini.
"Dah lah, sana ladenin dia, ngomong apa aja, pelajaran kek, gibahin guru kek, ngomongin dunia persilatan kek, terserah kalian. Jangan bilang aku gak ngingetin kamu ya, kalau Rae keduluan di embat orang.Kalau kamu mundur aku maju! Paham, bestie? sana, balik lagi ke Rae, bekarat noh anak orang nungguin kamu bales chatnya." Suara bernada ancaman yang tak serius itu membuat Aluna nyengir.
Tut...tut....tut...
Nada itu jelas memberitahukan lawan bicaranya ini telah memutup telpon tanpa permisi.
0813520****
__ADS_1
[ 🙄 ]
Emoticon itu masuk.
0813520****
[ Ada apa? Apa aku harus telpon? ]
Pertanyaan Rae segera menyadarkan Aluna jika di jalutlr lain Rae sedang menunggu jawabannya.
*Aluna
[Gak perlu. Aku cuma mau tanya, bulan depan ada kegiatan Lomba karya Ilmiah Remaja, kamu daftar gak?]
0813520****
[ Kamu nanya itu aja? ]
*Aluna
[Iya]
0813520****
[ Kamu bener cuma mau nanya itu aja? ]
Degh!
Jantung Aluna seakan berhenti berdetak, apa iya cowok ini semacam cenayang yang tahu tentang isi hatinya. Atau masa, iya lewat WA saja ketahuan kalau dia lagi berbohong.
*Aluna
[Iya. Memangnya kau harus nanya yang lain?]
0813520****
Wajah Aluna seketika memerah, Emma bener-bener telah membuat dia mati kutu di depan Rae.
*Aluna
[Aku mau mendata kelas kita yang ikut LKIR]
0813520****
[ Kamu panitia? ]
*Aluna
[Gak. Eh, tapi aku mau ngajakin kamu kerjasama denganku, kalau mau]
Aluna tak tahu lagi harus beralasan apa, si Rae ini memojokkannya tidak kira-kira. Dia panas dingin sendiri cari alasan biar topik yang di bicarakannya ini terasa penting.
0813520****
[Kita se tim?]
*Aluna
[Ya. Kalau kamu mau, kalau tidak, aku bisa tanya Arka]
0813520****
[Ok]
__ADS_1
*Aluna
[Ok apa?🙄]
0813520****
[Ok. kita satu tim. Besok kita ketemu di sekolah. Kita diskusikan lagi. Good night😘]
Aluna melongo dengan hasil akhir dari chat itu, sesuatu yang sebenarnya tidak di rencanakan, dia hanya mengalihkan topik dan yakin Rae bakal nolak. Tapi di luar dugaannya, Rae justru setuju. Dan yang membuat Aluna hampir pingsan itu emoticon di chat terakhir, hampir membuatnya terjungkal. Kiss???
"Astaga, orang ini pasti sedang ngelindur." Aluna menatapnya dengan gemetaran.
"Gimana, Dad???" Rae dengan mata bulat menatap daddynya yang sibuk membalas Chat di HPnya.
"Beressss..." Raka terkekeh sambil nyengir kuda.
"Beres apaan, dad?" Terlihat Rae ketar ketir menatap sang daddy.
"Kamu bakal nge date besok sama nih ciwi" Sahut sang ayah dengan penuh keyakinan.
"Haaaah?" Mulut Rae seketika menyerupai terowongan cassabanca.
Rae tanpa aba-aba langsung mengambil Ponselnya dari tangan sang daddy.
"Daddy kan ku minta bales chatnya, nanya maunya apa doang...kok nge date siiiiih?"
"Ini cewek, jelas ada rasa sama anak daddy yang tampan ini. Cuman gengsiannya overload, lebih dari mommymu. Yang seperti ini, kamu mesti gercep." Raka tertawa lebar menatap wajah culun anaknya itu yang mulutnya masih belum mau terkatup dengan mata melotot membaca riwayat chattingan daddynya dengan Aluna, menggunakan ponselnya. Dia tadi cuman minta bantuan daddynya, untuk nanya keperluan Aluna karena minta di hubungi lewat Emma. Rae tidak pernah chattingan dengan perempuan teman sekolah, selain emma. Jadi ketika Emma menyuruhnya menghubungi Aluna karena gadis itu bilang penting, dia bingung sendiri.
Yang terbersit di otaknya cuma minta bantuan sang daddy yang katanya sangat berpengelaman di bidangnya soal menahlukkan perempuan, Mommynya Sarah saja sampai klepek-klepek dan menurut sejarah, tante Sally adalah korban ketampanan sang daddy.
"Daddy??? Daddy kok iya'in sih soal LKIR itu? Astaga, dad...aku gak suka ikut lomba."
"Akh, sayang...sekali-kali jadi anak pinter apa sulitnya?"
"Tapi, aku gak suka bikin projek2an apalagi sama..." Rae menghentikan kalimatnya dengan sikap ragu, dia tak tahu harus menyebutkan Aluna dengan apa.
"Hush, Kesempatan tidak datang dua kali sayang. Kapan lagi kamu bisa belajar sambil melototi cewek cantik."
"Daddy???"
"Muka mu itu, Rae. Memang muka mommymu. Sok jaim, padahal suka." Raka tergelak sambil bergegas keluar dari kamar Rae, baby boy nya yang sudah beranjak remaja.
"Akh, Daddy! Gak seru! Gak Lucu!" Wajah Rae merah merona karena malu.
"Pokoknya, jangan lupa, kamu harus bilang cinta duluan ya, jaga harga dirimu sebagai laki-laki." Sempat-sempatnya Raka berucap sebelum hilang di balik pintu dengan raut puas dan tawa jahilnya.
Rae hanya mematung dengan dada berdesir hangat, sang Daddy ini sat set saja, bikin dia kelimpungan sendiri. Rae menyesal bukan main telah meminta bantuan sang adaddy menangani urusan Chat tadi. Sekarang dia kebingungan sendiri untuk menghadapi Aluna besok.
Dan emot kiss di akhir chat itu membuatnya malu setengah mati, mau di delete, tapi sudah conteng biru😅
... ...
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1