
"Manisnya pait-pait?"
"Ho'oh, sayang. Manis kalo lagi bahagia, pait kalau lagi ketemu masalah. Kalau sekarang kalian masih cuman mikir gimana pe-er biar bisa di kumpulin besok tapi kalau sudah berumah tangga, segala sesuatunya harus di pikirin, lho. Syukur-syukur kita berkecukupan, tapi kalau enggak? itu gas habis, token bunyi, beras sudah sisa secentong, sayur lauk kudu di itungin, susu sampe popok harus dipikirin. Pusing gak tuh?"
"Ya, Allah tante..." Aluna memegang kepalanya dengan mimik lucu dan bingung, sesuatu yang tak pernah di fikirkannya secuilpun di jabarkan sang tante seperti sedang presentasi makalah.
"Aluna kan' belum mikirin ke sana? Aluna masih satu SMA. Besok itu cuman mau kerja kelompok doang tan" Aluna nyengir, ngeri juga membayang semua kesulitan emak-emak yang di deskripsikan sang tante.
“Iya … iya. Kalian memang harus belajar bener-bener biar pinter. Sekolah tinggi-tinggi. Biar gak nyusahin orang." Melisa terkekeh sendiri, dia terlalu semangat msnasehati keponakannya itu.
"Tapi kalo mau belajar kelompok. Bisa gak di rumah kita saja, sayang. Kamu tau kan, tante sudah di beri amanah untuk menjaga kamu. Semua kebutuhanmu, terutama asupan makananmu. Kamu tau kan' semua karena sayang kamu. Tante ga ngelarang dan gak maksud mengekang. Hanya tolong mengertilah posisi tante, yang selain bertanggung jawab sama Tuhan, juga harus berhadapan dengan Daddymu yang super duper cerewet itu. Tante masih mau kamu nyelesaikan SMA mu di sini, bersama tante, sayang.” Melisa berucap dengan raut memohon tanpa ba bi bu menjurus pada tujuannya.
“Tante yakin kalau kami boleh kerja kelompok di rumah aja?” tanya Aluna yang peka dengan keadaan sekitarnya.
“Kenapa harus ga yakin. Pintu rumah tante selalu terbuka untuk siapa saja yang berniat baik, Sayang…”
“Iya tante baik. Tapi bagaimana dengan Kak Jordy. Luna bingung, apa di jari atau kepalan tangannya ada magnetiknya dengan pipi Rae ya, tan? Setiap mereka bertemu, pasti selalu adu jotos. Itu kenapa?” Aluna mengungkapkan semuanya tanpa beban, sungguh memposisikan tantenya layaknya teman sebayanya.
“Huum … untuk yang itu, ntar tugas tante yang akan bertanya juga menegurnya. Yang pasti, tante sungguh menyesal atas ketidak nyamanan hari ini yang Jordy timbulkan. Terutama karena kakakmu itu sudah berhasil bikin memar pipi calon pacarmu itu.” Goda Melisa senang lagi-lagi melihat rona merah di pipi Aluna.
“Akh, tanteeee.” berkali-kali tante Melisa membuat wajah keponakannya itu merah.
“Iya deh, maaf. Oke sayang. Selamat belajar ya. Fokus belajar aja ya, ke materi jangan belajar menyelami hatinya. Kalo jodoh ga akan kemana.” Goda Melisa menowel dagu Aluna.
“Iiiissh, tante.” Aluna tersipu malu.
“Oke … terima kasih untuk sharing hari ini. Maaf jika sebagai orang tua kami terlalu mencemaskan kalian s
dan terlalu mengatur. Yang pasti itu karena orangtua sayang kalian.”
“Luna yang harusnya berterima kasih tante. Luna sangat merasa di sayang dan di perhatikan di sini. Sayaaang tante.” Peluk Aluna menubruk tubuh langsing ibu beranak tiga itu.
Melisa menarik nafas lega, Walau tak ada yang signifikan dari hasil obrolan mereka berdua. Tapi setidaknya tidak ada kesalah pahaman yang terjadi. Aluna mengerti maksud keposesifannya.
Dia berharap meski mungkin mereka sedikit posesif pada Aluna tetapi keponakannya tidak menutupi hubungan dan perasaannya dengan lawan jenis. Bagi Melisa itu sudah cukup untuk ia jadikan sebagai pegangan.
Selanjutnya, menunggu kedatangan anak bungsunya, Jordy. Anaknya ini yang perlu mendapat bimbingan khusus tentang perasaannya yang sesunguhnya terhadap Rae atau Aluna. Enak saja dia main adu jotos terus dengan Rae. Yang jelas –jelas bukan anak nakal, bandit atau semacamnya.
__ADS_1
Mungkin ada satu kesalah pahaman antara dua remaja itu yang harus di luruskan dan tak di biarkan berlarut-larut.
...***...
Malam menjelang, Rae dengan sedikit tak sabar sekepas makan malam meninggalkan meja makan.
"Hey, kamu mau kemana Rae? buru-buru sekali?" Raka menarik tangan anaknya itu untuk duduk kembali.
Duo kembar itu sudah berlarian ke kamarnya, mereka begitu berisik, tampaknya sudah akur kembali setelah permusuhan yang terjadi.
"Rae mau naik."
"Cepet sekali mau tidur, baru jam delapan ini. Ngobrol dulu sama daddy."
Rae terpaksa duduk kembali.
"Mommymu bilang hari ini kamu pulang sore." Dengan raut tanpa menghakimi Raka berucap.
Rae melirik pada mommynya yang hilir mudik membantu mbok Yem membereskan meja.
"Iya, Rae tadi mampir ke rumah teman."
Rae menunduk, merasa bersalah. Dia tahu urusan ini pasti sampai ayahnya.
"Maaf..." Rae menunduk, dia tak mau menantang wajah daddynya.
"Seharusnya kamu pulang dulu, ganti baju dan makan baru main q
lagi. Sampai sore pakai baju seragam keliaran di luar sana tidak bagus di lihat orang-orang." Raka menasehati, dia tahu Sarah tak mau ikut campur urusan dua lelakinya itu.
"Aku tak akan mengulanginya." Sahut Rae dengan mimik pasti.
Raka menganggukkan kepalanya,
"Sebenarnya kamu kemana?" Tanya Raka kemudian, sedikit menyelidik.
"Mampir ke rumah teman." Jawab Rae cepat.
__ADS_1
"Siapa?"
"Daddy...daddy gak mengenalnya." Wajah Rae memerah.
"Masa?"
"Iyalah, dad. Masa semua temen Rae daddy kenal semua?" Rae nyengir.
"Baiklah, daddy tidak masalah jika kamu berteman dalam lingkup lingkungan yang positif, karena sikap negatif itu bisa menular. Jangan di biasakan pulang sekolah tidak langsung pulang. Itu membuat semua orang di rumah cemas. Daddy tidak akan menegurnu jika kamu memberitahukan kepentinganmu apa yang mendesak hingga tidak bisa pulang seperti seharusnya." Raka berujar, pada saat bersamaan Sarah muncul dan duduk di sebelah Raka. Sekarang Rae merasa seperti sedang menghadapi sidang.
"Sayang..." Alis cantik mommynya terangkat.
"Barusan mommy dapat telpon dari Melisa, dia bilang terimakasih banyak sudah mengantarkan Aluna dengan selamat, dia juga bilang minta maaf sudah merepotkanmu."
Rae seperti tersedak mendengar kalimat yang di ucapkan mommynya itu. Hal yang di rahasiakannya dengan keras, bisa-bisanya terbongkar begitu saja.
Wajah tampan Rae segera merona, apalagi mulut sang daddy yang berdecak lucu, menatapnya dengan raut yang tak bisa Rae ungkapkan.
"Aluna? dia...dia gadis kita tadi malam?" Raka membulatkan matanya.
"Gadis kita? apa maksudnya???" Sarah membeliak pada sang suami.
"Ops maaf, daddy keceplosan. Gadisnya Rae maksudku." Raka tergelak.
Kepala Sarah bergerak ke arah Rae, menuntut penjelasan.
"Kamu pacaran sama keponakannya Melisa itu?" tanya Sarah dengan terheran-heran.
"Aaaaa...mommy, daddy itu suka melebih-lebihkan..." Rae menyahut tergeragap.
"Jadi kamu terlambat karena main ke rumah Aluna?"
"Waaaah, mommy salah paham. Rae cuman bantu anterin. Coba tanya tante Melisa." Rae menggeleng-geleng kepalanya salah tingkah di bawah tatapan Raka yang menggodanya habis-habisan.
"Astaga, Dad...tolong jelasin ke mommy." Mohon Rae
"Jelasin apa, sih?" Sarah mengalihkan pandangannya kepada sang suami.
__ADS_1
"Jelasin kalau anakmu sedang...sedang kasmaran."
"Aaaaaa....daddy! Rae naik aja, males ngomong sama daddy. Bolak balikin cerita, gibahin anaknya." Rae segera berdiri dan kabur, dia tak sanggup di interogasi soal Aluna. Mukanya sudah semerah udang goreng.