
“Maaf …” Ujarnya segera tanpa sambungan kata apapun lagi. Tapi tangan itu masih tertaut cukup lama. Dua remaja itu saling berpandangan nyaris tak berkedip, sampai si mak nyamuk Emma datang membawa baki berisi
pesanan mereka.
“Excuse me? What's going on here?” Emma sampai melongo, mulutnya nyaris seperti terowongan.
“Hey, aku tertinggal berapa episode inih. Ngapain kalian macam syuting drama korea begini? Ih, tau gitu aku minta Kang Ajis saja yang antar makananku.” Sebal Emma melihat tangan Aluna dan Rae yang masih berjabat bahkan di hadapan Arka. Mendengar teriakan Emma, Aluna dan Rae reflek melepas jemari mereka yang entah sadar atau tak sadar begitu awetnya bertautan lalu bersamaan membuang muka ke tempat yang berlawanan, berpura-pura
sibuk, mendadak merasa hawa kantin itu terasa gerah.
“Was what I saw really serious? or am i dreaming?” Emma meletakkan baki di tangannya, mulutnya cas cis cus seperti kerasukan arwah bule nyasar.
“I'm not sure I can explain to you.” Arka nyengir sambil mengambil piring makannya.
“Sttt, apa yang kamu lihat ga pernah sesuai dengan apa yang ada dalam otak kamu, Em.” Tukas Aluna dengan tersipu, menetralkan pias di wajahnya yang mendadak merah jambu.
“Emang apa yang ada di dalam otakku, saat ngeliat tangan kalian berpegangan mesra begitu? Kalian gak seang berusaha manasin Arka yang statiusnya jomblo berkarat ini, kan??” cecar Emma sambil duduk dan mengaduk baso di mangkuk yang baru ia daratkan di atas meja.
“Jomblo berkarat apanya? Kayak dia aja sudah punya gandengan. Nasib sama jangan saling senggol kale.” Arka merutuk dengan wajah masam.
“Masih mending aku sih, gini-gini masih banyak yang naksir. Dari pada kamu, yang ngelirik masih belum ada listnya.”
“Eh, Bisa diem ga? Makan gih biar diem bentaran. Dari tadi ngoceh aja kayak beo lagi mabok!!!” Arka memasukkan ke mulut Emma sebiji baso yang masih lumayan panas itu dengan sebuah garpu.
“Arkaaa …!!!” Emma berteriak gelagapan dengan mata mirip orang kelojotan.
Rae dan Aluna tak bisa menahan tawa melihat kelakuan duo sahabat mereka itu.
“Iih, Arka.” Emma tetap mengunyah bakso dimulutnya meski dia tak terima di suapin tanpa sedikitpun bumbu kemesraan itu.
“Em, Sini tanganmu …” Tawar Rae tiba-tiba.
“Hah?”
Belum sempat Emma kebingungan terlalu lama, jemarinya sudah di raih Rae dan di genggamnya dengan acuh tak acuh. Sebenarnya itu hanyalah pengalihan isu, Rae tak mau jadi bulan-bulanan godaan Emma.
__ADS_1
“Owh…” Tidak hanya Emma yang tekejut dengan apa yang di lakukan Rae, tetapi dua pasang mata yang lain kini melotot terpana.
“Bebeeeeb.” Ucap Emma dengan segenap kecentilan serta kemanjaannya, seperti cacing kepanasan saja.
“Deal yaa Em. Kamu harus bersedia satu TIM dalam Lomba Karya Ilmiah Sekolah.” Rae seolah melamar
Emma di depan Arka dan Aluna.
“Lomba? Lomba apa?”
“Lomba karya IImiah remaja.” Jawab Rae menegaskan.
“Akh, aku kan gak pinter kayak kalian. Apa lagi kalau dah deketan sama kalian, tambah kelihatan bodoh aku.”
“Kamu sebenarnya pinter cuman kamu aja yang gak sadar. Ya, kan Lun?” Rae melirik pada Aluna yang masih terpana menatap tangan Rae yang menggenggam tangan Aluna. Aluna tergagap lau merngangguk, raut wajahnya menjadi malu sendiri, entah mengapa biarpun Rae hanya bercanda memegang tangan Emma tetap saja rasanya sedikit tak nyaman di hati.
“Oh mai got. Demi apa Rae, kamu tau aku tak pernah menyangka masuk dalam hitunganmu untuk ikut lomba begituan.” Emma mana mau melepas tangan Rae saat Rae hendak melepasnya Ia bahkan sudah memegangnya dengan dua tangan, kesenangan.
“Demi nama sekolah kita. Karena jumlahnya satu team maksimal tiga orang, aku fikir kamu adalah anggota ketiga selain aku dan Aluna. Aku sudah melihat syarat dan ketentuan lomba yang dikirimkan pak Wahyu kepada Aluna,
temanya kita ambil bidang ilmu pengetahuan Hayati saja. Pengajuan proposalnya masih di mulai di minggu depan, jadi kita bisa rencanakan lagi materi karya Ilmiah kita, konsennya kemana.” Rae berusaha melepas tangannya yang di pegang Emma.
“Oke, deal. Kita satu tim. Kita akan buat sekolah lain jungkir balik liat kemampuan kita bertiga. Yess!!!”
“Aku gak di ajak?” Arka menyela.
“Gak, kamu bukan circle kita.” Canda Emma sambil tertawa puas melihat Arka yang manyun sambil meminum tandas the es di gelasnya.
“Kamu manaejer team kita aja, Ka.” Tawar Rae
“Okelah kalau begitu, aku juga males otakku di ricuhin sama banyak pe-er-peer di luar sekolah. Aku ikut sebagai pendukung garis keras.” Arka ikut menumpuk tangannya pada tiga tangan yang lebih dahulu bersatu tadi.
Suasana kembali normal, tidak ada prasangka Emma yang berlebihan. Pembentukan anggota Tim sudah sangat jelas bagi mereka. Melahap makanan yang ada di depan mereka adalah hal yang harus segera mereka selesaikan, mengingat waktu istirahat akan berakhir.
“Bekalmu siapa yang buat tadi, Lun?” tanya Rae yang mulai mengunyah nasi bakar dari Aluna.
__ADS_1
“Tante Melisa.”
“Kenapa kamu gak belajar buat sendiri? Kali aja makanan yang kamu bikin lebih enak?”
“Echheem …” dehem Emma lagi lagi akan melakukan obrolan penuh huru hara.
“Ha … boro –boro masak. Ke dapur saja di omelin sama tante Meli. Ga di ijinin kali Rae.” Tukas Emma membantu menjawab, membuat wajah Aluna kembali merah jambu.
“Segitunya …?” Rae menanggapi jawaban Emma sambil menatap Aluna mencari jawaban.
“Nasib bayi premature. Sampai udah seragam putih abu aja masih di anggap bayi. Kadang sebel juga lho.” Curhat Aluna tak merasa jika di situ ada Emma juga Arka yang bisa ikut mendengarkan.
“Ya, gak pa-pa lah. Kan’ enak bisa leyeh-leyeh aja, semua sudah tersedia. Cewek gak harus pinter masak juga di jaman sekarang. ” Ucap Rae dengan sedikit ragu pada pernyataannya sendiri, pernyataan yang jelas-jelas membela Aluna, dia ingat mommynya sangat pinter masak dan juga pinter kerja bisnis, salah satu perempuan yang di kaguminya. Pantas saja daddynya bucin parag ke mommynya itu. Sudah cantik, serba bisa lagi.
“Ada enaknya, juga bosan. Maunya aku seperti Mommy ku, walausibuk masih sempat masak buat Deddy.” Cerita Aluna.
“Waaiit, kamu kenapa jadi ikut tantemu?” tanya Arka pada Aluna.
“Mommy ku sedang ambil doktornya di Paris. Deddy ga mau jauhan sama Mommy, jadilah mereka semua hijrah ke sana, sisa aku yang tanggung untuk ikut serta. Mungkin kuliah nanti aku baru ke sana.” Jelasnya menghadap Arka.
“Mommy kamu wanita karier?” tanya Arka lagi yang di lirik oleh Rae, terlihat mengerutkan kening, dia nyaris menanyakan hal yang sama.
“Mommynya dosen.” Sahut Emma tiba-tiba.
“Daddy Aluna itu mantan pacar mamaku, jadi aku tahu semua.” Tukas Emma sambil mengedipkan matanya pada Aluna.
“Kata mamaku, mommynya Aluna memang pinter sejak muda. Rajin bekerja juga sangat baik dan lembut. Ga heran sih, punya anak semanis Aluna ini.” Emma mencubit dua pipi Aluna dengan gemes.
“Eh, nyubitnya sampai putih gitu. Jangan lupa dia mantan bayi premature lho.” Rae menepis cubitan tangan
Emma pada pipi Aluna. Hah, sejak kapan Rae peduli itu pipi orang mau di cubit atau di gores. Cinta segitunya deh.
“Oh, iya sebelum lupa. Mulai sekarang kita harus membuat jadwal belajar bersama? Kita rencanakan di mana dan kapan. Nanti kita bicarakan lebih lanjut lewat grup WA. Arka bikini ya, nanti WA grup isinya kita berempat.” Perintah Rae, tanpa bisa di bantah.
Oh Tuhan kenapa pembagian tugas ini membuat hati Aluna ketar ketir. Belum reda gempa dalam hatinya setelah Rae melepas cubitan Emma di pipinya tadi. Kenapa kini ia merasa Rae begitu berkharisma sebagai pemimpin sebuah Tim.
__ADS_1
Awalnya ia hanya kenal Rae sebagai anak laki-laki sombong, bicara sinis juga apatis. Itu terlihat saat ia tak sengaja merusak kacamata Amar. Di mata Aluna ia tak lebih dari remaja tanggung yang urakan dan anak orang kaya yang hanya bisa bergaya dengan motor mahalnya. Tapi, lihat lah ini, ia bahkan sudah membuat strategi belajar yang harus mereka jalani bersama. Sejak presentasi Matematika tadi Aluna sudah yakin dia adalah orang yang cerdas.Tapi, setelah menerima pembagian tugas ini mengapa ia lebih cocok di jadikan panutan dan teladan bagai seorang pria dewasa yang sangat bijaksana.
“Ah, Rae seperti Deddy.” Bisik Aluna di dalam hati. Hanya ia yang tau itu, menambah kekagumannya pada remaja yang bahkan belum tumbuh kumis itu. Kebersamaan mereka telah membuat Aluna merubah semua penilaiannya pada Rae yang negatif selama ini.