CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 14. Bertemu Tuan Gibah


__ADS_3

“Hey, kamu siapa?” Aluna melepaskan diri dari pelukan lengan kokoh yang tengah menggendongnya itu dan berusaha melompat ke lantai. Tetapi dia memeluk ALuna dengan begitu kuatnya.


Laki-laki itu menundukkan wajahnya, sesaat mereka saling bertatapan.


“Kamu siapa? Kenapa kamu menggendongku dengan sembarangan!” Aluna berontak, seketika laki-laki ini melonggarkan pelukannya dan,


“Bukk!” Aluna mendarat dengan mulus di atas lantai tepat di depan kamarnya.


“Eh, Dandy…kenapa kamu lepasin begitu?” Tante Melisa menyongsong kearah Aluna dengan wajah panik.


“Kamu tidak apa-apa kan, sayang?” Tante Melisa menepuk-nepuk pinggang Aluna yang masih melongo sambil mendonggak kepada Laki-laki asing, dimana sekarang dia terduduk di depan kakinya.


“Maaf, tante…dia loncat sendiri.” Sahut laki-laki yang tampak dari penampilannya sebaya dengan Jordy, kakak sepupunya.


“Eh, apa-apaan kamu, kurang ajar banget. Main gendong-gendong tanpa permisi!” Omel Aluna sambil berusaha bangun dibantu oleh tante Melisa.


“Astaga, Lun. Jangan melotot begitu sama Dandy, tante yang menyuruhnya menggendongmu.”


“Tante menyuruh dia menggendongku?” Aluna berbalik menatap sang tante dengan muka merengut.


“Iya, tante yang minta. Soalnya tadi kamu ketiduran di sofa, nyenyak sekali, tante nggak tega membangunkanmu, jadi tante minta tolong Dandy memindahkanmu ke kamar, kebetulan dia sedang mencari Jordy.” Tante Melisa berusaha menjelaskan.


“Ih, tante…kan bisa bangunin Luna saja, masak suruh dia gendong Luna?” Wajah Aluna merona, sambil melirik pada laki-laki tampan yang tersenyum lebar tanpa dosa ke arahnya itu.


“Akh, sudahlah. Nggak usah di bahas yang itu. Sekarang kamu sudah bangun, cepat ganti baju dan kita makan siang.” Tante Melisa nyengir kepada keponakannya yang tampak kesal sendiri.


“Ayok, Dan ikut tante…kamu belum makan, kan? Kita makan bersama saja, sambil nunggu Jordy pulang.” Tante menarik tangan Dandy dari hadapan Aluna, dia tahu keponakannya itu kalau kesal bisa nyerocos ngomel tak jelas.


“Lun, ganti bajunya cepetan, ya…” Teriak tante Melisa sebelum hilang di balik pintu menuju ruang makan yang ada di balik tangga.


“Dasar laki-laki gatal! Menggendong orang dengan sembarangan, habis itu di jatuhin lagi. Memang nggak ada akhlak.”  Aluna menggumam sendiri. Dengan muka yang masam, Aluna menutup pintu.


Setelah melepaskan seragamnya, dia masuk ke kamar mandi dan segera megguyur badannya dengan air dari shower.


“Astaga, hari ini badanku dari kepala sampai pinggang rasanya sakit. Sudah di timpa bola basket di jatuhin lagi ke lantai. Apa ini hari sialku,ya?” Gerutu Aluna.


...***...


Aluna turun ke ruang makan, di sana sudah duduk tante Melisa sedang asyik ngobrol dengan si anak lelaki yang tadi menggendongnya itu. Aluna langsung pasang muka judes.


“Hai, sayang…ayok duduk, kami sudah menunggumu dan Jordy dari tadi.” Wajah tante langsung sumringah melihat wajah Aluna yang segar bugar.

__ADS_1


“Kak Jordy sudah pulang, tante?” tanya Aluna, pura-pura tak melihat pada Dandy yang sedari tadi menyeringai menyambut kedatangannya.


“Sudah. Tidak lama dari kamu masuk kamar tadi. Sekarang lagi mandi kayaknya, heran tante punya anak laki kayak anak perawan, mandinya lama banget.” Tante Melisa mengoceh sembari mulai memberi


isyarat  membuka semua tutup baki saji kepada seorang asisten rumah tangga yang mengantarkan satu mangkok besar sop buntut kesukaan anak Jordy ke atas meja.


“Jordy memang suka gitu tante, lemot banget.” Dandy tertawa, seolah sedang mencari perhatian Aluna.


“Iya, tuh. Jordy memang lemot kalau sudah di dalam kamar mandi.” Timpal tante Melisa.


“Nggak cuman di kamar mandi tante, urusan ngegebet cewek juga dia loadingnya lambaaaaaat.”


“Tante juga heran, mau tamat SMA belum pernah ada cewek yang dikenalin ke tante.”


"Boro-boro mau ngenalin cewek ke tante Meli, lah punya calon pacar aja belum."


"Memangnya nggak ada ya yang mau sama temanmu itu?  perasaan anak tante itu gak jelek-jelek amat." Tante Melisa tampak mengerutkan kening dengan serius.


"Dia enggak pro soal memikat cewek tante, bagaimana bisa dapat pacar? lagian dia keder duluan kalau berhadapan dengan cewek."


Aluna terpesona mendengar obrolan dua orang beda umur itu, mereka seperti besti yang sedang ngobrolin hal receh tentang temannya, terlihat akrab dan bahagia.


“Lun, kamu belum kenalan nih sama Dandy.” Tegur tante Melisa sambil menyambut piring yang diberikan oleh mbak ART.


Aluna hanya nyengir sambil melirik pada Dandy,


“Sudah tahu tante, namanya Dandy kan?” Sahut Aluna sambil membalik piring di depannya.


“Tuh, kan tante Meli, Dandy bilang apa? Nggak usah dikenalin juga, dia sudah kenal sama Dandy, siapa sih yang nggak kenal sama Dandy di sekolahan?” Dandy balas nyengir kuda ke arah Aluna yang seketika melotot melihat kepada Dandy.


“Eh, ge-er. Memangnya siapa bilang aku sudah kenal sama kamu?” Aluna bertanya dengan judes.


“Buktinya, tadi kamu bilang sudah tahu…”


“Eh, maksudku aku tahu bukan berarti aku kenal sama kamu.”


“Lah, terus tadi ngomong apa coba?”


“Astaga, aku cuman bilang sudah tahu, memangnya kupingku ini tuli, kalau dari tadi tante menyebut namamu?!” Aluna berucap sambil menahan emosinya melihat raut wajah tak berdosa milik Dandy.


“Ck…ck…kalian ini, memang cocok deh. Memang berjodoh.” Tante Melisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Dari tadi ribut mulu kudengar dari sana, apa tidak capek?” Jordy muncul dengan celana pendek dan kaos oblong, rambutnya sedikit basah.


Sebelum duduk, sempat-sempatnya tangan Jordy mengacak-ngacak rambut Aluna.


“Hai, adik cerewet, apa kabarmu? Bagaimana sekolahmu beberapa hari ini. Maaf aku nggak sempat mengurusmu, gara-gara pertandingan futsal antar sekolah baru selesai tadi.” Jordy menepuk bahu Aluna sambil mengambil tempat duduk di sebelah Aluna.


“Aku baik-baik saja, nggak perlu di urus, bisa ngurus diri sendiri, kok.”


“Nggak ada yang gangguin kamu, kan?”


“Memangnya siapa yang berani gangguin aku?” Aluna memonyongkan bibirnya.


“Syukurlah kalau begitu, nanti aku bilangapa sama om Darel kalau anak kesayangannya ini di bully orang.” Jordy menyipitkan matanya sambil membalik piring yang masih bertelungkup di depannya.


“Akh, dad suka lebay.” Sungut Aluna, dia senang kakak sepupunya ini menyelamatkan suasana, berada di bawah tatapan genit Dandy membuatnya merasa mulas.


“Hey, matamu itu, bro! kondisikan. Ini adik gue!” Jordy melemparkan sebuah lipatan kain kecil yang menjadi tempat meletakkan sendok dan garpu di samping piringnya.


“Eh, kamu punya adik cantik kok nggak bilang-bilang, sih? Kan’ aku gak usah ikut jadi official kamu kemarin? Khusus jagain dia.” Dandy masam-mesem sendiri.


“Hush! Jangan coba-coba menggoda Aluna, kalau nggak persahabatan kita end!”Sembur Jordy, dia sudah berjanji dengan Om Darel, adik mamanya untuk menjaga Aluna selama orangtuanya itu mengambil study di Perancis.


“Astaga, anak-anak…kapan kalian makan kalau dari tadi ribut aja kerjaannya?” tante Melisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah para remaja tanggung yang kini bergabung di meja makan itu.


“Tante, ambil aku jadi menantumu…” Dandy meraih jemari tante Melisa yang membuat Tante Melisa tergelak melihat tingkah lucu Dandy. Tante Melisa memang kenal dekat dengan Dandy, teman anaknya itu karena Dandy dari pertama masuk sekolah menengah sudah sering main bersama Jordy dan rumah mereka adalah rumah keduanya.


“Dasar buaya.” Rutuk Jordy pada temannya itu sambil menimpuknya dengan kotak tissue.


Aluna menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengambil nasi, belum kelar urusan jengkelnya dengan Rae, sekarang dia dihadapkan dengan teman kakaknya itu, dua laki-laki itu masuk dalam blacklist untuk di jauhi.


“Yang satu ini prik dan tukang gibah, dan Rae, manusia dingin berhati batu yang sok itu!”


 



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2