CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB. 15 Tugas Mulia


__ADS_3

“Rae, bangun…kenapa kamu masih tidur jam segini.” Panggil sarah sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya menimbulkan suara berisik. Rae meraih jam weker dari atas meja di samping tempat tidurnya.


Matanya yang berat itu terpicing berusaha melihat jarum jam itu dengan susah payah. Jam setengah enam pagi.


“Sayang…buka pintunya!” Sarah masih berteriak dan selama Rae belum menyahut, Sarah tetap akan membuat suara-suara berisik di belakang pintunya itu.


“Ya, mom…Rae sudah bangun ini.” Jawab Rae dengan suara yang masih mengantuk.


“Buka dulu pintunya, sayang.”


“Akh, mommy, nggak bisa bisa lihat orang senang memang.” Gerutu dalam hati, meskipun badannya terasa berat beranjak dari tempat tidur tapi dia akhirnya dia turun juga dan membukakan pintu untuk sang mama.


“Ayo, mandi sana, biar cepat sarapan dengan adik-adikmu.” Kalimat itu hampir selalu sama di dengungkan mamanya itu di telinganya.


“Masih ngantuk, mom…bentar lagi, ya…”Rae melemparkan abadannya kembali ke atas tempat tidurnya yang empuk, sambil menutup matanya.


Terdengar suara gorden sperti di seret di relnya, sinar matahari pagi langsung masuk ke dalam kamar lewat kaca jendela kamarnya.


“Akh, mommy…” Rae memicingkan matanya yang sedikit silau lalu berbalik, meraih guling yang ada di dekat kakinya dan memeluknya membelakangi cahaya yang menyeruak hangat itu.


“Sayang…!” Sarah menarik guling Rae, berusaha memisahkan anaknya itu dari kenyamanan tempat tidurnya.


“Mama ini masih belum jam enam, berikan aku waktu untuk mengumpulkan nyawa.” Gumam Rae sambil tetap bergelung di tempat tidurnya.


“Astaga ini anak, sudah seperti python mau beranak.” Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putra tampannya itu.


“Bangun dan mandi, mommy mau kamu siap dalam setengah jam.”


“Astaga, mom…mommy lupa apa, ini kan hari sabtu? Hari ini sekolah libur, ma.” Rae menggeliat di tempat tidur dengan kemalasannya.


“Yang bilang mommy lupa, siapa?”


“Ijinkan Rae tidur seharian ini, please…” Pinta Rae dengan raut memelas pada wajah kusutnya.

__ADS_1


“Tidak bisa, sayang. Kamu tidak bisa tidur seharian untuk hari ini. Mommy mau kamu antar mommy ke butik hari ini.”


“Tapi, mommy kan bisa minta tolong pak Didin atau Arka saja.”


“Mommy maunya kamu yang anterin Mommy.” Sarah melotot tak mau kalah, seorang ibu biasanya memang lebih manja dengan anak laki-lakinya. Suka meminta ini itu, di temani, di bawakan dan lain sebagainya. Itu hanya sebuah cara ingin dekat dan membanggakan sang anak.


“Sabtu kemarin kan, Rae sudah antar mommy ke butik.”


“Ya, hari ini lagi, mommy kan harus lihat kerjaan anak-anak di butik , sebentar lagi ada event.”


“Mommy suka ada-ada aja, hari weekend begini di buat kerja.” Sungut Rae, dia keleahan berdebat dengan mamanya yang pasti tidak akan mengalah padanya kalau soal minta Rae jadi jasa gojeknya.


“Ya, mesti kerja, sayang. Orangtua kerja keras untuk menjamin mas depan anak-anaknya, memangnya mommy dan daddymu ini kerja buat siapa lagi?” Kalau Sarah sudah mengeluarkan kalimat pamungkasnya itu, Rae tahu dia tak akan berkutik lagi.


Rae tak menyahut,  pura-pura tak mendengar ocehan mommynya itu, dia benar-benar masih mengantuk. Tadi malam, dia sedikit terlambat tidur karena harus membuat perencanaan acara rahasianya satu bulan lagi.


“Sayang…”


“Iya…iya, Rae mandi ma, Rae turun sebentar lagi.” Rae akhirnya bangun dan duduk dengan mata setengah merem.


“Berangkatnya pagi ini?”Tanya Rae sambil membuka sebelah matanya, seolah mengumpulkan kesadarannya.


“Ya, hari ini sayang, masa besok?” Sarah yang sudah berjalan sampai pintu kamar membalikkan badannya membeliak pada putra kesayangannya itu.


“Ya, siapa tahu, mom…” Rae nyengir kuda sambil menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Dia tahu, jika dia berusaha membuat alasan, mommynya itu tak segan-segan menyenandunkan omelan di telinganya sampai dia menuruti semua permintaannya.


“Mommymu itu wonder women, dia tak akan menyerah sebelum kamu bertekuk lutut.” Rae tak pernah meragukan pendapat daddynya itu.


***


“Sudah di tunggu, lho sayang.” Suara renyah Raka yang sudah duduk bersebelahan dengan Sarah di depan meja makan, seakan menyindir Rae dengan cara halus, bahwa anaknya itu terlalu lama turun dari kamarnya.


“Bang Rae mandinya sudah kayak princess, lamaaa…”Rei sang adik yang ceriwis mulai mengoceh.

__ADS_1


“Yang lama itu kamu.” Sahut Rae, melihat pada sang adik yang tak sabar dengan piring yang ada di depannya.


Aturan Sarah yang wajib di taati semua anggota keluarga, jika keluarga lengkap dalam rumah maka semua harus makan bersama untuk sarapan dan makan malam, karena pada waktu memulai aktivitas dan sebelum sebelum tidur dan beristirahat adalah waktu yang tepat dimana kita memulai hari dan mengakhirinya dengan saling memastikan bahwa semua orang yang kita sayangi dalam keadaan baik-baik saja.


“Tapi bang Rae lebih lama!” Ry sang kakak membela kembarannya itu. Meskipun mereka berdua sering sekali bertengkar tetapi dua adiknya itu tak bisa melihat jika satu sama lain di salahkan atau dimarahi oleh orang lain.


Rae tak menanggapi, dia tahu jika dia balas ocehan adiknya itu, drama di meja makan akan panjang. Duo cerewet itu akan membuatnya jadi bahan keroyokan seperti biasanya jika soal bela membela.


“Tumben kamu sudah ganteng pagi-pagi begini?” lanjut sang daddy, sambil menunggu Sarah mengoleskan selai ke rotinya.


“Tanya mommy tuh.” Rae langsung duduk mengambil tempat bersebelahan dengan dua adiknya yang sudah manyun menunggu dia turun.


“Aku minta antarin Rae ke butik, mau ketemu kolega baru. Dia mau membawa kerjasama untuk pameran di bandung bulan depan, butiknya salah satu penyelenggaranya.” Jawab Sarah.


“Oh…” Raka menganggukkan kepalanya dan menerima roti dari Sarah.


“Daddy, kalau mau antar mommy, Rae suka rela menyerahkan tugas mulia ini.” Celetuk Rae, sambil melirik pada daddynya yang sudah rapi dengan pakaian olah raga. Kelihatannya dia akan ke lapangan golf pagi ini, olah raga yang tak di sukai Rae.


Mendengar ucapan Rae, Sarah melotot pada anaknya itu.


“Tugas mulia ini di bebankan hanya pada laki-laki yang sangat dipercaya, jadi daddy tak akan mengambil alihnya dengan sembarangan.” Raka terkekeh, dia tahu sekali Rae sedang berusaha membatalkan pergi mengantarkan mommynya itu


“Akh, daddy…” Rae yang berfikir bisa pergi untuk latihan basket bersama Arka segera tahu bahwa hal itu tak bisa dilakukannya, daddynya lebih suka memihak apapun yang di minta sang mommy dari pada mempertimbangkan keinginannya.


“Kami janjian di butik jam 09.00 pagi ini, sebaiknya kita segera makan, adik-adikmu juga sudah tak sabar lagi.” Sarah mengalihkan pandangannya pada duo kembar yang sedari tadi mengoceh mengatakan bahwa mereka harus segera sarapan karena mau bermain game di kamar, mumpung libur sekolah.


“Kita berdo’a dulu sebelum makan.” Sarah mengerling pada Rae yang duduk dengan sedikit tak bersemangat.


“Rae giliran memimpin doa.” Lanjutnya. Rae tidak membantah dia segera melipat tangannya bersiap memimpin do’a. Entah mengapa dadanya sedikit berdebar, firasat apakah ini?



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2