
Aku datang bersama bebeb sama Arka juga, lupa bilang…”Emma terkekeh,
“Kalian juga sih, ngapain pake nunggu di luar. Kayak abang-abang gojek aja.”
Rae masuk dengan sedikit gugup yang terpancar dari rautnya.
"Eh, kamu! Beraninya kamu datang kemari!!" Jordy segera menjadi gusar.
"Maaf, kami datang kemari untuk menjenguk Aluna." Arka menyahut cepat, dia tahu suasana menjadi tidak nyaman.
Aluna sesaat masih terpaku menatap pada wajah Rae, ada beberapa lebam merujuk kejadian yang melatar belakangi cedera itu.
"Nggak perlu datang kemari."Jordy benar-benar tidak menyukai kehadiran Rae.
"Kak Jordy...Kami hanya mau melihat keadaan Aluna, sebagai teman satu kelas kami pengen memastikan Aluna baik-baik saja."Emma menambahkan.
"Aluna pingsan tuh, gara-gara dia sok jago kan? Sudah puas?"
"Kak Jordy..." Aluna menyela, dia tak lagi tampak judes seperti biasanya jika berhadapan dengan Rae.
"Maafkan aku." Rae bersuara, kepalanya terangkat, pandangannya tertuju pada Aluna yang bersandar di bed hospital.
"Maaf sudah membuatmu cedera." Kalimat itu di lanjutkannya, suaranya tak dingin tetapi terdengar penuh penyesalan yang tulus.
"Maaf? Maaf apanya? Kalau Aluna gak sadar-sadar gimana? Kalau Aluna terluka parah kamu tanggung jawab? Memangnya maaf aja cukup?" Jordy benar-benar kesal sekali melihat pada Rae, sari pertama anak ini masuk sekolah yang sama dengannya, dia benar-benar tak menyukai Rae.
Tidak hanya karena Rae adalah musuh bebuyutan Dandy, tetapi dia punya dendam pribadi diam-diam terhadap Rae.
Bagaimana tidak, hanya gara-gara Rae muncul di sekolah mereka, asty, gadis yang di incarnya selama dua tahun menolak cintanya.
"Aku gak bisa nerima kamu, Jor." Asty yang di tembaknya saat di perpustakaan itu menjawab tanpa ragu ketika Jordy dengan segenap keberanian melamarnya untuk menjadi pacarnya.
"Kenapa? Kenapa gak bisa?" Jordy keringetan sampai tangannya dingin, semua kalimat maut yang di ajarkan Dandy hampir seminggu itu sebagai mentornya dalam upaya menyatakan cinta, entah menguap kemana.
Ini adalah pertama kalinya dia menyatakan cinta pada seorang gadis, tentu saja dia merasa panas dingin tak karuan.
"Aku terlanjur suka dengan seseorang."
__ADS_1
"Siapa?"
"Adik kelas kita."
"What?"
"Aku...aku jatuh cinta dengan Rae."
Sejak hari itu, Jordy benar-benar alergi dengan Rae. Anak baru, adik kelas yang berhasil membuat gebetannya menolak cinta tulusnya.
"Eh, ada Rae..." Tante Melisa muncul pada saat yang tepat, mencairkan ketegangan yang tercipta antara anak-anak.
"Selamat sore, tante..." Rae langsung membungkuk dan menyalami Tante Melisa, di ikuti Arka dan Emma.
"Caper banget." Wajah Jordy masam.
"Jordy, jangan begitu ah. Ini Rae datang baik-baik, tidak baik kasar-kasar begitu." Tante Melisa mendelik pada Jordy.
"Tadi pagi sudah ciuman sama bogen kanan, kali aja dia masih mau bogen kiri..." Jordy ngeloyor keluar, mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap anaknya itu, Jordy benar-benar tak bisa bersikap ramah pada orang yang telah membuatnya malu karena di tolak cewek yang di taksirnya dari lama itu.
"Maaf tante, kami datang mengganggu, saya Emma, bestinya Aluna."
"Beasti?" Tante Melisa mengerutkan kening.
"Besti tante, bukan beasti. Teman maksudnya tante, semacam teman dekat..." Emma cengengesan.
"Oh, kirain beasti. Bahasa indonesianya Binatang buas, kan?." Tante Melisa menyahut jenaka, disambut tawa Aluna.
Rae terpana, pertama kali dia melihat Aluna tertawa lepas dengan memamerkan barisan gigi putihnya.
Dia terlihat cantik dan berbeda.
"Senang mendengar Aluna ternyata sudah punya besti-bestian di sekolah barunya. Tolong selalu jadi bestinya ya, sayang." Tante Melisa menepuk bahu Aluna lembut.
"Iya, tante. Emma senang kok jadi teman Aluna, apalagi Aluna pinter banget tante." Emma mengerling pada Aluna yang tersenyum dari tempat tidurnya dan menghampiri temannya itu.
"Eh, Rae, gimana ceritanya kamu berkelahi dengan Dandy? kok bisa begitu? Dandy anaknya baik, lho. Kamu juga anak baik, kok bisa sampai gelud begitu?" Tante Melisa beralih kepada Rae yang berdiri sambil meremas tangannya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan Rae, tante. Rae yang salah." Rae menundukkan wajahnya.
"Enggak tante, Rae gak salah..." Emma melambai-lambaikan tangannya di depan dadanya.
"Dandy yang datang ke kelas kami dan becandain Aluna. Terus, Rae salah paham..."Emma menjelaskan dengan bersemangat di awal kemudian bingung sendiri, melirik pada Rae, memberi isyarat agar Rae melanjutkan penjelasannya.
"Salah paham? salah paham bagaimana?" Tante Melisa menaikkan alisnya, menatap pada Rae dengan penasaran.
"Rae yang salah paham dengan Dandy tante. Rae yang salah, apalagi sampai bikin Aluna terluka, Rae benar-benar nyesal tante. Rae juga mau minta maaf ke Aluna, gara-gara Rae emosian, sampai-sampai Aluna jadi begini." Rae menghindari tatapan tante Melisa.
"Tapi berkelahi sampai jotos-jotosan itu harus ada alasannya, lho! Kalian rebutan apa, sih sebenarnya?" Tante Melisa mengernyit dahinya.
Wajah Rae langsung merona, dia hanya menunduk tak menjawab.
"Rae cuma membela Aluna, tante." Suara itu keluar dari mulut Aluna, terdengar ragu.
"Membela?"Tante Melisa menoleh pada Aluna.
"Karena Dandy becandanya memang sudah keterlaluan, tante." Sahut Aluna. Mata Emma membulat menatap Aluna dan Rae bergantian, dia tak percaya sepasang "serangga" itu saling membela di depannya.
...***...
Novel ini telah berganti cover lagi, berkat komen para pembaca dan di baca oleh pihak NT😅
Semoga cover yang baru cukup mewalikili isi novel ini yah, meskipun othor sebenarnya lebih suka cover yang othor bikin sendiri di awal tapi pihak entun kayaknya merasa cover baru lebih cocok🤗
Semoga para pembaca gak nyasar yaaa, dalam dua minggu berganti 3x cover😅
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap
semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1