
Mansion Utama Badai
Makan pagi.
Badai terlihat duduk di atas kursi makan, membiarkan pelangi menyiapkan menu makan pagi untuk diri nya, dia tidak ingin pelayan atau pembantu lain nya yang menyiapkan makanan untuk diri nya, sengaja menjadikan pelangi sebagai pemuas nya juga sebagai pembantu untuk diri pribadi nya.
Pagi ini Perempuan tersebut dirasa terlalu lamban bergerak, membuat Badai agak jengah dan kesal dibuat nya, menunggu pelangi membuat kan nya sarapan benar-benar menguji kesabaran, berkali-kali perempuan bodoh itu menjatuhkan barang-barang di tangan nya.
"Apa kau tidak bisa bergerak cepat? apa kau tidak bisa bergerak hati-hati hah?"
Badai membentak, berdiri dari posisi duduknya sambil berkacak pinggang, merasa kesal karena keadaan, dia harus pergi ke perusahaan dengan cepat, menunggu pelangi menyelesaikan tugas-tugas nya benar-benar menguji kesabaran hingga ke ubun-ubun.
__ADS_1
Pelangi terlihat bergetar, Perempuan tersebut membalikkan tubuhnya dengan cepat, membawa makanan dan kopi untuk Badai dengan sedikit tergesa-gesa.
Bisa Badai lihat wajah perempuan tersebut terlihat pucat tidak seperti biasanya, keringat dingin tampak bercucuran di sekujur tubuh dan wajah pelangi. Alih-alih peduli dengan keadaan perempuan tersebut, dia lebih suka menatap Pelangi dengan tatapan tidak bersahabat, entahlah melihat perempuan tersebut membuat emosi nya acapkali naik tanpa bisa dia kendalikan.
Dan saat pelangi bergerak mencoba meletakkan piring makanan ke atas meja, entahlah bagaimana ceritanya perempuan tersebut menjatuhkan salah satu dari piring yang ada di atas nampan.
Dan piring tersebut berhamburan pecah karang lantai dan isi nya tumpah mengenai celana kerja nya.
pelangi jelas terkejut setengah mati, dimulai sejak dia menjatuhkan piring itu di mana dia melihat isi makanan yang berhamburan mengenai celana Badai, ekspresi wajahnya langsung memucat dengan dia tampak gemetaran, ingin berusaha untuk berkata maaf dan ingin membersihkan celana laki-laki tersebut, nyatanya alih-alih bisa pelangi untuk melakukan hal itu, Badai menjengkeram leher bajunya dengan cepat kemudian langsung mencekiknya tanpa perasaan.
kemarahan laki-laki itu jelas membuncah, tanpa berpikir apakah kemarahannya akan berakibat fatal atau tidak yang jelas laki-laki tersebut terus mencekik leher perempuan yang kini berada di atas meja tersebut.
__ADS_1
wajah pelangi perlahan memerah, cekikan yang diberikan Badai jelas membuatnya sesak, perempuan itu menatap bola mata Badai, tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pelangi hanya saja perempuan itu sama sekali tidak mencengkeram tangan Badai agar melepaskan cekikan nya dari lehernya.
Badai seolah-olah kehilangan atas kendali dirinya sendiri, terus mencekik leher perempuan tersebut dengan penuh kebencian di mana dia berpikir sebaiknya dia membunuh perempuan itu saat ini juga, bayangan adik perempuan ya berkelabat di seluruh area bola matanya, rasa sakit yang terjadi pada adik perempuannya seolah-olah tidak sepadan dengan penderitaan yang diberikan kepada pelangi.
cekikan yang diberikan laki-laki tersebut semakin lama semakin mengencang, bola mata badai menggelap seolah-olah dia kalah dengan keadaan, tidak dia pedulikan suara-suara di sisi kiri kanan dan belakangnya di mana beberapa orang terlihat berusaha untuk menyadarkan dirinya dan menarik Badai dari perbuatan mengerikannya.
"Kumohon....bunuh...aku..."
dan tiba-tiba saja pelangi bicara dengan terbata-bata, di mana bola matanya terlihat berembun dan dia terlihat pasrah dengan keadaan, berkata agar laki-laki yang merupakan suaminya yang seharusnya melindungi dirinya untuk membunuh dirinya saat ini juga.
__ADS_1