
Sembunyi tangkap, bertahan di ambang kematian atau lari siapa tahu selamat?.
Tapi pemikiran seperti itu masih Fifty-Fifty, membuat Pelangi meragukan pemikirannya, bertahan disudut lemari dan dinding dengan semakin merapatkan tubuhnya di sana. Dia sedang belajar menyelamatkan diri nya sendiri, tidak mempercayai orang-orang disekitar nya tanpa terkecuali.
Suara langkah kaki dari tapak sepatu tersebut masih terdengar memecah suasana didalam gudang tersebut, jangan ditanya bagaimana perasaan Pelangi, seolah-olah dia berada di ambang kematian saat ini, berharap Tuhan mau membantu nya dan menyelamatkan keadaan nya saat ini.
Dia hanya butuh untuk bertemu dengan kakak laki-laki nya saja tidak lebih, setelah itu jika takdir nya mati di tangan Badai sekalipun dia tidak memiliki daya untuk memberontak. Tapi terkadang terbesit keinginan untuk pergi, memberontak atau bahkan menyudahi semua nya dengan cara nya sendiri, nyatanya dia tidak sanggup memiliki nya, dia tidak memiliki banyak kekuatan untuk melakukan semua nya.
Pura-pura ingin mati agar bisa di seret ke rumah sakit saja sudah membuat dia setengah mati apalagi harus benar-benar mati dengan cara yang tragis. Dia sejak awal memang ingin berakhir di rumah sakit agar dia bisa bertemu dengan kakak laki-lakinya meskipun hanya sejenak saja.
__ADS_1
"Kau disini rupanya?" tiba-tiba saja satu suara mengejutkan dirinya, pelangi seketika membulatkan bola matanya. Itu suara seorang perempuan.
"aku menunggu mu sejak tadi" satu suara lainnya mengejutkan dirinya kembali, itu adalah suara sang pemilik sepatu yang melangkah lebih awal tadi ke dalam ruangan tersebut.
Perempuan tersebut merasa sedikit lega, rupanya kedua orang tersebut bukan bicara padanya.Dan bukan juga suara Badai yang dia dengar di sana dari balik suara laki-laki nya. Tapi meskipun begitu, tetap saja dia belajar untuk waspada, karena dia pikir siapa tahu itu adalah orang-orang Badai.
"Aku dengar istri nya ada disini?" kembali satu suara terdengar di dalam ruangan tersebut, sengaja untuk dipelankan tapi cukup menggema terdengar di balik telinga pelangi.
apa yang diucapkan perempuan itu pernah menyinggung dirinya tapi dia tidak berani menebak apakah itu benar dirinya atau bukan. karena terkadang apa yang didengar tidak seperti kenyataan ditambah lagi dia tidak mengenal kedua orang tersebut saat dia berusaha untuk mengintip wajahnya dan posisinya melewati celah daripada lemari yang ada di sampingnya. jadi dia pikir kedua orang itu tidak mungkin sedang membicarakan dirinya.
__ADS_1
*tapi aku cukup khawatir jika mereka meneruskan pernikahan itu hingga akhir, aku ingin dia seharusnya melenyapkan perempuan itu secepatnya karena jika terlalu lama perempuan itu ada di sana dan laki-laki tersebut terbiasa bersamanya akan ada satu hal berbeda yang terjadi nantinya" kembali suara perempuan itu membaca keadaan membuat pelangi berusaha untuk kembali mengintip dan melihat rupa dari sang pemilik suara.
"apalagi di sana ada Samudra dan Hera, lamban laut jika kedua orang tersebut mengenali putri Angkasa, aku takut badai akan mengetahui tentang semua kenyataan di masa lalu"
Dan percayalah apa yang diucapkan oleh perempuan tersebut seketika membuat pelangi terkejut setengah mati. dia yang baru saja ingin mengintip wajah perempuan tersebut seketika langsung membelalak kan mata nya ketika dia mendengar nama samudra dan Hera disebut juga nama ayahnya, hal itu membuat Pelangi seketika langsung menutup mulutnya kembali secara refleks.
"Apa?" Dia mencoba menahan pertanyaan tersebut didalam hati nya dengan tubuh bergetar.
"Apa maksud nya?"
__ADS_1
"Aku berharap kamu bisa masuk ke kamar Anggun, melenyapkannya secepatnya saat ini juga sebelum dia sadar dengan keadaannya," dan kata-kata terakhir yang dirasakan oleh perempuan tersebut seketika membuat pelangi nyaris kehilangan kata-katanya.