
Kembali ke sisi Badai
Malam yang sama
Mansion utama Badai
Kamar tidur utama.
Didalam kamar gelap milik Badai yang memang selalu minim pencahayaan, terlihat Badai yang terlelap dalam tidurnya dengan rasa gelisah. Jemari-jemari tangannya terus bergerak sejuta di mana keringat dingin bercucuran di balik wajah dan pelipisnya. seakan-akan mimpi buruk menerjang laki-laki tersebut saat ini di mana berulang kali dia berusaha untuk mengendalikan kesadarannya namun gagal. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama hingga pada akhirnya.
"Badai-."
Hahhhhh.
__ADS_1
Laki-laki tersebut terjaga dari tidurnya saat dia mendengar satu suara menggema, memenuhi seluruh Indra pendengarannya. Keringat dingin memenuhi bagian wajah dan pelipis, memperlihatkan satu sosok laki-laki bernama Badai didalam ketakutan nya.
"Pelangi?." Laki-laki tersebut bergumam, mengernyit kan dahi untuk beberapa waktu.
Badai bergegas langsung menyibak selimut yang menutupi separuh tubuhnya dengan cepat, kemudian berjalan keluar dari kamarnya dengan gerakan terburu-buru.
"Masih belum ada yang menemukan istri dan calon anak ku," Entahlah kemarahan Badai seperti nya masuk pada puncaknya, sangat tidak terima lamban nya orang-orang nya dalam mencari keberadaan Pelangi.
Berhari-hari berlalu namun informasi soal istrinya tidak kunjung ditemukan, keberadaan nya belum pula mampu dideteksi, dia rasanya ingin mati saat ini karena tidak kunjung melihat wajah Pelangi.
Mereka terlihat menggelengkan kepala mereka secara perlahan menandakan jika masih tidak bisa ditemukan di mana pelangi saat ini. Sudah pergi ke berbagai macam penjuru arah menyusuri kota Jakarta bahkan luar kota sekalipun tapi mereka sama sekali tidak menemukan Pelangi, bahkan mencoba untuk pulang kembali ke bekas rumah Pelangi atau juga mencari di sepanjang rumah sakit hingga ke rumah beberapa teman-temannya nyatanya mereka tidak juga kunjung menemukan istri dari tuan mereka.
Bayangkan bagaimana Badai mengeluarkan ekspresinya saat ini ketika dia tahu orang-orang nya terlihat begitu bodoh tidak kunjung menemukan istrinya. Badai seketika langsung meraih stik golf yang ada di sisi kanan dimana dia berdiri, dalam sekali gerakan menarik stik golf tersebut kemudian bergerak cepat dan....
Bugggggggg.
__ADS_1
Satu hantaman mengenai salah satu dari mereka, api kemarahan berkobar dibalik bola mata laki-laki tersebut saat ini.
"Akhhhhhh." Ringisan penuh kesakitan terdengar di balik bibir salah satu daripada bawahannya yang terkenal pukulan stick golf tanpa perasaan dari Badai.
"Apa kalian tahu berapa lama waktu sudah berjalan dan aku menunggu informasi tentang istriku?," teriakan terdengar menggema dari mulut Badai saat ini sembari dia terus menggenggam erat tongkat stik golf yang ada di tangannya, bola matanya seolah-olah siap melompat keluar saat ini juga karena dia merasa orang-orang yang bekerja dengan sangat lambat dan bodoh.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa manusia bodoh seperti kalian bekerja, kau ..maju kemari..." Badai terus bicara, dia memerintah kan salah seorang melangkah maju mendekati dirinya.
Dan yakinlah mereka takut, karena mereka tahu salah satu yang melangkah maju akan merasakan hantaman dari tongkat golf Badai.
"Kau.... melangkah ke depan." Badai kembali berteriak, dia begitu arogan dan penuh dengan kemarahan, menunjuk pada satu orang agar melangkah mendekati nya.
Yang ditunjuk ketakutan, melangkah perlahan dengan tubuh bergetar.
Badai bersiap melayangkan kembali tongkat stik golf nya tapi satu suara menghentikan gerakan nya.
__ADS_1
"Kami menemukan nya."