
Di depan sana Badai mempercepat langkah yang menuju ke arah ruangan di mana dewa berada, dua laki-laki yang ada di sampingnya bergerak mengikuti langkahnya dengan cepat hingga menuju ke arah sebuah ruangan dimana dua penjaga terlihat menyambut kedatangan Badai.
Begitu laki-laki tersebut berada di depan ruangan tersebut salah satu pengawalnya membuka pintu kamar tersebut dengan gerakan perlahan, begitu pintu tersebut terbuka Badai buru-buru langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dengan cepat. Dia mengernyit kan dahi nya sejenak saat melihat seorang dokter memeriksa keadaan Dewa.
Laki-laki tersebut langsung menoleh kearah jam di tangannya dengan cepat, memperhatikan jadwal Dokter yang memeriksa keadaan Dewa. Dia diam membiarkan perawat sibuk dengan pekerjaan dimana sosok itu membelakangi dirinya , hingga pada akhirnya Badai memilih duduk di atas sebuah kursi sofa mendominasi berwarna merah yang terletak tidak jauh dari posisi di mana dia berdiri.
dia memilih jujur tidak memperhatikan perempuan yang memeriksa keadaan Badai untuk beberapa waktu.
"Sir" satu suara terdengar dari arah pintu, bisa dia lihat ketika seorang laki-laki mengintip dari arah luar kemudian bergerak masuk mendekati dirinya.
"Ada apa" Badai bertanya sembari menaikkan ujung alis nya.
"ada berita sedikit buruk dari kantor polisi xxxxxxx pusat kota" laki-laki itu berucap cepat sembari menatap bola mata tuannya.
__ADS_1
sejenak dokter yang telah memeriksa keadaan Dewa, dia pikir apakah aman jika dia bicara soal berita yang ingin dia sampaikan.
Badai hanya menganggukan kepalanya secara perlahan, seolah-olah berkata bukan masalah jika perempuan tersebut mendengarnya karena dia pikir perempuan itu sedikit lagi akan keluar dari sana.
Laki-laki didepan nya itu tanpa mengganggu kan kepalanya tanda mengerti kemudian dia berkata.
"Ini tentang tuan Amrullah, pemilik angkasa group" Ucap laki-laki tersebut kemudian.
Dan percayalah pelangi yang mati-matian berusaha menyelamatkan diri agar tidak diketahui jika dia yang menggunakan pakaian dokter tersebut seketika langsung bergerak mendengar nama ayahnya disebut oleh laki-laki yang baru saja datang dan bicara pada Badai.
"aku pikir kondisi kesehatan tuan Amrullah cukup menurun secara drastis sejak semalam, apa kita perlu membawanya ke rumah sakit dan meminta surat penangguhan penahanan untuk sementara waktu? aku pikir dia tidak dalam keadaan baik-baik saja" Ucap laki-laki dihadapan Badai tersebut panjang lebar.
laki-laki itu menampilkan sirat yang cukup khawatir terhadap pemilik angkasa group, kesehatan paruh baya tersebut semakin menurun di dalam penjara dan dia pikir mereka harus membawanya ke rumah sakit cepat atau lambat.
__ADS_1
Badai tampak diam dan tidak mengeluarkan suaranya, dia seolah-olah berpikir untuk beberapa waktu dan mencoba mengambil keputusan nya sendiri.
di tengah pemikiran yang cukup berat untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan pada laki-laki tersebut tiba-tiba saja kembali dari orang balik pintu muncul seseorang yang bergerak tiba-tiba dengan ekspresi wajah cukup panik juga tergesa-gesa.
"Celaka tuan" Dan seorang laki-laki kembali muncul dengan wajah khawatir nya.
"ada apa?" Badai kembali bertanya.
"Tuan Amrullah...dia...," laki-laki tersebut bicara dengan terbata-bata, menatap Badai dengan ekspansi paniknya.
"Meninggal dunia"
Dan saat laki-laki tersebut bicara seperti itu bayangkan bagaimana terkejutnya Pelangi saat ini, dengan tangan gemetaran Perempuan tersebut berusaha untuk mempertahankan kesadarannya di mana dia langsung berpegangan pada sisi ranjang pada tempat kakaknya berbaring saat ini juga.
__ADS_1
Ayah... dan Pelangi terlihat bergetar, Mencoba untuk menahan kesadaran nya untuk beberapa waktu.