Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Pembantu nya


__ADS_3

Bola mata Badai terlihat menatap tajam kearah pelangi yang kini membawa beberapa piring makanan di atas nampan dengan wajah tertunduk dimana Samudra berusaha untuk membantu sang istri nya, bayangkan bagaimana ekspresi Badai saat melihat adegan dimana Samudra dengan sok jagoan nya mencoba mengganti kan tugas pelangi untuk membawa makanan ke atas meja.


"Biar aku yang bawakan"


Dia bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Samudra dari depan sana, bayangkan bagaimana ekspresi wajah laki-laki tersebut saat ini di mana dia mencoba untuk mengeratkan rahangnya beberapa waktu sembari dia berusaha menahan kemarahannya.


"Tidak apa-apa tuan, aku bisa membawa nya"


Pelangi terdengar menolak, tapi nyatanya Samudra tetap bersikeras untuk membantu.


"Ada apa?"


Tiba-tiba suara Hera mengejutkan diri nya, membuat Badai langsung menoleh ke arah perempuan tersebut, dia menatap datar kearah Hera untuk beberapa waktu.


"Hal yang buruk terjadi? apa pelayan nya melakukan kesalahan fatal?"


Tanya Hera sambil terus mengerutkan keningnya, dia melirik ke arah pelangi untuk beberapa waktu kemudian melirik kembali ke arah Badai.


"Kau sedikit berlebihan melihat ke arah perempuan itu, bahkan perlakuanmu kepada perempuan itu juga sangat aneh seolah-olah kamu sangat tidak menyukainya, Badai"

__ADS_1


Protes Hera, dia tampak menghela kasar nafasnya, menatap curiga kearah Badai untuk beberapa waktu. dia pikir sepertinya badai sedikit berlebihan ditambah lagi tidak tahu kenapa tapi rasanya dia seakan-akan mencurigai sesuatu soal laki-laki tersebut karena Badai memperlakukan pelangi dengan cara yang sedikit tidak seperti biasanya terhadap para pelayan lainnya di rumah tersebut.


dia tahu badai bukan laki-laki yang baik tapi laki-laki itu tidak pernah begitu buruk memperlakukan para pelayan di rumah biasanya paling hanya mengeluarkan kata-kata ya cukup menyakitkan atau bahkan memberikan perintah yang sedikit sudah masuk akal tapi badai tidak pernah melukai satupun daripada pelayanan yang ada di rumah tersebut.


karena itu baginya Badai sedikit terlalu berlebihan memperlakukan pelayan barunya menurut Hera.


"aku memang tidak begitu menyukainya, sejak awal masuk bekerja dia membuat kepalaku sakit berdenyut-denyut"


Pada akhirnya Badai menjawab pertanyaan dari Hera, dia bicara sambil meraih cangkir kopinya, berusaha untuk menyesap nya secara perlahan.


"Biasa nya kamu akan memecat nya jika merasa tidak suka dengan seseorang? kenapa harus mempertahankan perempuan seperti itu?"


Badai menghentikan gerakan tangannya, dia menatap ke arah Hera untuk beberapa waktu.


"aku Masih ingin sedikit membuatnya tahu bagaimana rasanya tersiksa oleh ku atas kelakuan nya, tepat nya masih ingin bersenang-senang dan membuat perempuan tersebut menderita"


Enteng sekali dia bicara, membuat Hera terlalu dalam mengernyit kan dahi nya.


"Apa?"

__ADS_1


Hera bertanya.


Dia menunggu jawaban Badai, tapi nyata nya tiba-tiba Samudra duduk tepat di sisi kanan Badai.


"Kamu bisa pergi sekarang"


Samudra bicara pada pelangi ketika dia telah duduk, memastikan tidak ada lagi yang perlu pelangi kerjakan saat ini.


Mendengar apa yang diucapkan samudra jelas saja membuat Badai langsung menoleh kearah Samudra kemudian dia menatap kearah pelangi dengan cepat.


"Kau pikir dia pembantu mu?"


Badai Bertanya dengan nada yang begitu dingin, menatap Samudra dengan tatapan yang siap membunuh siapapun, bola mata nya menggelap dan dia jijik melihat laki-laki di samping nya tersebut.


"Kenapa jadi kau yang mengatur hubungan pembantu ku, paman?"


Dan saat kata pembantu dilesatkan, pelangi terlihat diam, dia menggenggam erat ujung pakaiannya, rasa sakit tiba-tiba menyeruak ke dalam hati nya.


Pembantu!?.

__ADS_1


Tidak terbayangkan bagaimana rasanya ketika seorang istri dikatakan seperti itu oleh suaminya sendiri.


__ADS_2