
Beberapa hari setelahnya,
Indonesia.
Daisy terlihat berdiri di bagian ruang tunggu bandara, menatap ke sekeliling nya untuk beberapa waktu, dia memang menatap tempat asing yang belum pernah dia jajaki dalam seumur hidupnya. Indonesia!, tempat asing yang belum pernah dia datangi, pergi menandatangani kontrak kerjasama yang digelar perusahaan nya dengan perusahaan asing lainnya.
Tapi aneh nya begitu turun dari pesawat jantung nya terlihat tidak baik-baik saja, seolah-olah nama negara tersebut melekat didalam hati nya.
Indonesia, tempat asing dengan nama yang terasa familiar.
"Langsung ke hotel atau ada tempat yang ingin nona datangi?." Sang sekretaris bertanya cepat, menatap kearah atasannya sejenak.
Daisy terlihat mengernyitkan keningnya.
"Bisa berhenti di supermarket terdekat? aku pikir aku butuh sesuatu yang dingin dan buah-buahan segar." Daisy menjawab cepat, memasang kacamata nya dengan cepat.
"Baik nona." Perempuan dihadapan Daisy menundukkan kepalanya dengan cepat.
setelah itu mereka beranjak dari sana menuju ke arah bagian depan di mana mobil jemputan telah menunggu mereka berdua.
__ADS_1
*******
"Pernah ke Indonesia sebelumnya?." Sang sopir bertanya pada mereka berdua, melirik kearah Daisy sejenak dari kaca spion tengah.
Daisy membuang pandangannya, menatap barisan gedung menjulang tinggi yang ada di sisi kanan nya.
"Ini untuk pertama kalinya." Sekretaris nya menjawab dengan cepat.
Sopir dari perusahaan yang bekerjasama dengan mereka menjemput mereka saat ini, akan mengantarkan mereka ke bagian hotel yang akan mereka jadikan tempat menginap. Sebenarnya sang pemilik perusahaan menawarkan villa untuk mereka, tapi Daisy bersikeras menolaknya.
"Terlalu tidak nyaman tinggal di tempat asing yang terlalu jauh dari pusat kota." Itu yang diucapkan Daisy pada dirinya.
Daisy mengabaikan obrolan kedua orang tersebut, membiarkan diri menikmati semilir angin malam yang menerpa kulit wajahnya, Indonesia memiliki iklim yang cukup tropis pikir nya. Memiliki memejamkan bola matanya secara perlahan, rasa lelah dan kantuk masih menghantam dirinya.
"Di sisi kanan gedung pencakar langit tersebut milik perusahaan yang akan nona datangi, besok saya akan mengantarkan nona berdua kesana." Kembali suara sang sopir memecah keadaan, menyebutkan nama pemilik perusahaan raksasa tersebut pada dua perempuan di belakangnya.
Mendengar ucapan sang sopir, membuat sekretaris Daisy menganggukkan kepalanya dengan cepat, dia melirik kearah sang nona, nyatanya perempuan tersebut sama sekali tidak tertarik untuk membuka bola mata karena pada dasarnya atasannya merupakan tipe orang yang tidak pernah peduli pada urusan orang lain bahkan orang yang bekerja sama dengan mereka yang nona Daisy pikirkan adalah hanya sebuah keuntungan, dia paling tidak suka melakukan kerjasama yang hanya menyusahkan kerugian atau bahkan menyulitkan dirinya.
Sang atasan bisa dikatakan sebagai atasan yang begitu dingin dan abai, jarang tersenyum pada orang lain dan mengerjakan segala sesuatu dengan cepat dan terkonsep dengan baik, dia tidak suka bertele-tele dan sangat rumit juga penuh kedisiplinan tinggi.
__ADS_1
Hal yang paling dia benci di dunia ini, orang yang tidak suka bekerja di bawah tekanan dan tidak tepat waktu.
Perempuan tersebut kemudian melirik kearah sisi kanannya, 5 barisan gedung yang menjulang tinggi tersebut tertulis dengan jelas nama perusahaan yang melakukan kontrak kerjasama terbaru dengan mereka.
Dirgantara Group dengan lambang pelangi 🌈 di atas nya.
"Mereka menggunakan lambang pelangi di sisi perusahaan?." Sekretaris Daisy bertanya sedikit penasaran.
"Itu nama mendiang istri tuan Badai." Jawab sopir tersebut lagi kemudian.
"Jadi gosip itu benar jika beliau seorang duda?." Perempuan tersebut bertanya dengan cepat.
"He em, beliau seorang duda. Pelangi nama istri tuan Badai, nona." Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
Perempuan tersebut diam, melirik ke arah nona atasannya yang benar-benar abai tentang percakapan mereka. Sejenak bola mata perempuan tersebut melirik kearah kalung yang digunakan atasan nya, melihat lambang 🌈 yang menjadi mainannya. Perempuan tersebut mencoba melirik sisa bayangan pada perusahaan tersebut, menatap kembali lambang yang ada.
"Pelangi?! Bukankah itu terlalu serupa?." Batin nya pelan.
Dia sejenak mengernyitkan keningnya, tapi di beberapa detik kemudian berusaha untuk mengabaikan pemikiran tidak masuk akal nya.
__ADS_1
"Jangan lupa mampir ke mini market terdekat, pak." Ucap perempuan tersebut lagi kemudian.