Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Perintah mutlak


__ADS_3

Byurrrrrrrrr.


Satu guyuran air menghantam wajah pelangi, dia yang masih terlelap jelas terkejut setengah mati, bangun dengan cepat dari tidur nya dalam keadaan gelagapan, mencoba untuk mengusap wajahnya dari basah air dimana pakaian jelas sudah basah semua.


"Kau benar-benar pemalas"


Badai terlihat mengeram, dia baru saja menyiram pelangi dengan seember air, membuang ember di tangan nya dengan cara yang luar biasa, beberapa pelayan terlihat ketakutan, mencoba memejamkan bola mata mereka tanpa berani membantu perempuan yang tidak berdaya tersebut.


Entahlah dimana akal waras Badai, kondisi tubuh pelangi sesungguhnya tidak dalam keadaan baik-baik saja, tubuh pelangi panas sejak kemarin tapi berusaha untuk terus bersikap jika dia baik-baik saja dan sehat, melayani Badai dengan segenap hati meskipun dicaci dan di maki bahkan disebut binatang atau pembantu sekalipun.


"Bangun dan buatkan aku kopi, jangan lupa aku ingin sarapan yang tidak terlalu berat, ditambah desert untuk makanan penutup nya"


laki-laki tersebut memerintah, tidak peduli bagaimana keadaan pelangi saat ini. wajah gadis tersebut terlihat pucat, tubuh nya terlihat lebih kurus dari pertama kali Badai menikahi nya, mungkin tepat nya pola makan pelangi tidak normal seperti biasanya, perempuan tersebut takut menelan makanan berlebihan karena takut Badai akan berteriak dan menyeret nya ke halaman depan, berkata dia rakus dan tidak tahu diri.


Pelangi terlihat bergetar, dia tidak berani menjawab, hanya menundukkan kepalanya sambil menahan tangis nya. perempuan tersebut beringsut, berusaha bergerak dari posisi nya, ingin mengganti pakaian nya tapi Badai berkata.

__ADS_1


"Hilang waktu 1 menit, aku akan menyeret mu hingga ke ujung halaman"


Ancam laki-laki tersebut kemudian.


Pelangi pada akhirnya mengurung kan niat nya, dan saat pelangi terdengar berusaha menghela nafas nya, Badai secepat kilat mencengangkan wajah perempuan tersebut.


"Kau berani mengeluh?"


Bola mata Badai siap keluar saat ini juga, dia mencengkram erat rahang pelangi tanpa perasaan.


Bisa dia lihat pelangi menggelengkan kepalanya secara perlahan, mencoba untuk menahan ringisan nya.


Badai memperingati perempuan tersebut.


"Dan jangan sekali-kali kamu meminta bantuan pada Samudra atau pada siapapun yang ada disekitar mu, jika tidak kau tahu? aku bisa saja membuat hukuman ayah mu menjadi hukuman gantung dan menghentikan pengobatan kakak nu yang tengah koma di dalam rumah sakit hingga membuat dia mati secara perlahan"

__ADS_1


ancaman badan benar-benar sangat luar biasa membuat Pelangi sama sekali tidak berani berkutik atas apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut.


ancaman terhadap kedua orang yang disayangi Pelangi benar-benar membuat perempuan tersebut tidak berani membantah apapun kata-kata Badai yang dilontarkan pada dirinya.


melihat ekspresi pelangi yang ketakutan, jelas saja membuat Badai begitu puas dibuatnya, semakin tersiksa pelangi semakin dia berpikir dia telah berhasil membalaskan dendam atas rasa sakit hati yang menghantam dirinya atas penderitaan keluarganya.


"Anak pintar"


Badai menepuk-nepuk pipi kiri Pelangi dengan kasar menggunakan tangan kanan nya, membuat perempuan dihadapan nya memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.


"Bergerak dan buatkan dengan cepat"


Perintah Badai kemudian.


Dan seketika Pelangi melangkah dengan cepat menuju kearah dapur, bergegas membuat makanan yang di pinta oleh suami nya dengan cepat.

__ADS_1


"Benar-benar tidak berguna"


Umpat Badai dengan perasaan kesal.


__ADS_2