Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Bangunlah


__ADS_3

Masih di rumah sakit xxxxxxx


Ruang rawat Dewa.


Bola mata Pelangi terlihat berkaca-kaca, dia menatap kakak nya yang terbaring ringkih di atas kasur mendampinginasi berwarna putih di hadapannya, laki-laki itu berbaring tidak berdaya tidak menggerakkan sama sekali kaki dan tangannya bahkan di bagian tubuhnya dipasangi selang termasuk pada bagian hidung yang dibantu dengan alat pernapasan.


Perempuan tersebut mendekati kakak laki-lakinya itu, perlahan duduk di atas kursi kayu di mana dia mencoba untuk meraih telapak tangan laki-laki tersebut dengan sangat hati-hati.


"Apa kabar kak? ini aku Pelangi" dia bicara pelan menyapa kakak laki-lakinya dengan ada bergetar, tahu kakaknya tidak mungkin mendengarkan apa yang diucapkannya karena laki-laki itu, sudah cukup lama.

__ADS_1


"tidakkah kakak ingin bangun? aku disini sendiri dan sangat merindukanmu, ayah tidak ada di dekatku dan ibu telah meninggal dunia pergi meninggalkan kita semua" perempuan tersebut bicara perlahan membiarkan punggung kakaknya menyentuh pelan pipinya untuk beberapa waktu, tangan dingin dewa membuat pipi pelangi seketika meremang.


"jangan tidur terlalu nyenyak, bukankah kakak pernah bilang tidak suka melihat seseorang menjadi tukang tidur dan lupa dengan pekerjaan? belakangan aku bahkan tidak pernah tidur terlalu lama saat malam hari, juga tidak pernah lagi menikmati tidur siang seperti saat kakak ada" dia terus bicara perlahan, sengaja menurunkan oktaf suaranya agar tidak terdengar hingga ke depan meskipun dia tahu ruangan tersebut kedap suara.


bola matanya terlihat berkaca-kaca dan jangan ditanya bagaimana perasaan perempuan tersebut saat ini dia pikir rasanya dia ingin sekali memecahkan suaranya agar dia bisa menangis meraung di dalam ruangan tersebut tapi dia tahu itu jelas tidak mungkin terjadi dan juga tidak mungkin dia lakukan.


"Belakangan rasanya begitu berat dan aku mulai lelah, kakak kapan bangun? jika kakak bangun bawalah aku pergi dari sini, mari bawa ayah keluar dari penjara setelah itu Mari pergi menjauh dari negara ini dan kita bisa pergi ke negara manapun yang kita inginkan" seolah dia tengah berkeluh kesah mencoba untuk meluapkan rasa di hatinya meskipun sebenarnya dia tahu ini sia-sia tapi dia berharap laki-laki yang terbaring tersebut mampu mendengarkan apa yang dia ucapkan.


"ada kehidupan lain di sini yang membebaniku saat ini" dia tidak benar-benar mengeluarkan suaranya hanya bergumam di dalam hati sembari membiarkan tangan kirinya menyentuh perutnya secara perlahan.

__ADS_1


berita yang dia dapatkan cukup mengejutkan padahal dia memakan obat yang diberikan oleh laki-laki tersebut namun nyatanya bagaimana bisa ada janin yang berkembang di dalam perutnya.


Hamil anak Badai seolah-olah menjadi mimpi buruk di dalam hidupnya.


dia menumpahkan air matanya untuk beberapa waktu sembari mencoba untuk mengelus telapak tangan kakaknya, cukup lama dia melakukan hal tersebut hingga pada akhirnya.


"jika aku tidak kuat dengan keadaan dan aku pergi menjauh apakah kakak tidak keberatan?" perempuan itu bertanya sembari menatap wajah pucat milik sang kakaknya yang sama sekali tidak mau membukakan bola matanya.


sejak beberapa hari yang lalu mungkin terdengar egois sekilas pemikiran untuk pergi melarikan diri menghantam kepalanya. tapi kondisi kakak dan ayahnya membuatnya berpikir dua tiga kali, dia takut saat dia pergi Badai akan melenyapkan kedua orang yang dia cintai.

__ADS_1


Nyatanya dia tidak mampu bertahan di samping laki-laki tersebut, tidak mampu menerima siksaan yang membuat dia terluka pagi, siang, sore dan malam baik secara lahir maupun batin.


Di tengah pembicaraan dan pemikirannya tiba-tiba saja dia mendengar bagian gagang pintu di gerakkan diluar sana oleh seseorang, dan hal tersebut membuat Pelangi Seketika membeku dibuat nya, membuat perempuan itu langsung menoleh ke arah pintu kamar tersebut dengan cepat, seketika wajahnya memucat dan ketegangan terjadi di dalam dirinya.


__ADS_2