
Masih di malam itu
Bandara Soekarno Hatta,
Tanggerang.
Pelangi terlihat berdiri di tengah-tengah keramaian, membiarkan diri nya tenggelam pada suasana penuh kebisingan dimana orang-orang terlihat berlalu lalang sejak tadi di sekitarnya, nyatanya hal tersebut sama sekali tidak dihiraukan oleh perempuan itu, dia menenggelamkan pemikirannya pada berbagai macam hal termasuk kematian daripada ayahnya.
wajah pucat perempuan tersebut ditutup oleh sebuah masker di wajahnya, sebuah tas kecil tampak digendongnya di belakang punggung, perempuan itu mencoba untuk mendongakkan kepalanya sejenak, membiarkan dirinya untuk menarik nafasnya secara perlahan, sisa air mata masih terlihat di balik pelupuk matanya, warna merah di sekitar bola mata bahkan juga terlihat dengan jelas.
pikirannya berkacamuk menjadi satu, tapi pelangi mencoba untuk menekan akal warasnya dan melupakan berbagai macam pemikiran yang menghantamnya saat ini di mana secara perlahan kedua belah tangannya mencoba menyentuh perutnya untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Hamil.
Dia menyadari soal kehamilannya dari dokter di rumah sakit dimana dia dirawat kemarin, hal tersebut cukup membuatnya terkejut karena seingatnya Badai selalu memberikannya pil pencegah kehamilan setelah mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, yang menjadi pertanyaan nya bagaimana bisa dia harus hamil dari anak laki-laki tersebut. dia tidak tahu bagaimana menjabarkan tentang perasaannya tapi yang jelas rasa sakit yang dia terima dari Badai tidak akan pernah sembuh di dalam seumur hidupnya karena baginya laki-laki itu menyiksanya baik lahir maupun batin dan bahkan dia bersumpah di dalam seumur hidup ya pulang dia tidak ingin lagi bertemu dengan laki-laki itu dan tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki tersebut.
Pelangi memejamkan sejenak bola matanya untuk beberapa waktu dan dia mencoba untuk terus menyentuh perutnya, dia pikir apa yang harus dia lakukan pada kandungannya, apakah bertahan atau membuangnya.
"Penerbangan......,"
Bisa dia dengar suara pemberitahuan tentang beberapa penerbangan yang akan bergerak malam ini, membuat Pelangi membuka bola matanya, dia menarik sesuatu di dalam tasnya. Tiket penerbangan menuju ke negara yang berbeda.
"Sudah siap." Dan satu suara di sisi kanan nya membuat Pelangi langsung menoleh secara perlahan.
__ADS_1
"Kita harus bergegas sebelum Badai menyadari semua." Satu sosok berdiri disisi kanan nya,. menatap ke arah Pelangi dengan tatapan yang cemas dan cukup sulit untuk di artikan.
Alih-alih menjawab, Pelangi membiarkan pandangan matanya menatap sosok yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, membiarkan sosok itu terus bicara kepada dirinya dan mencoba untuk meraih tiket penerbangannya, pasport nya dan tas punggungnya.
"Setelah tiba disana, seseorang akan menjemput mu, berhati-hati lah dan jangan pernah memikirkan untuk menggugurkan kandungan mu bagaimana pun caranya." Barisan pesan yang diberikan sosok di hadapannya itu seolah-olah di abaikan oleh Pelangi, perempuan tersebut secara perlahan melangkahkan kakinya, mendekati sosok tersebut kemudian memeluknya.
"Terima kasih banyak." Ucap Pelangi pelan, dia meminjamkan bola matanya sejenak dan menikmati pelukan yang diberikan nya, sosok tersebut secara perlahan membalas pelukannya sembari menepuk-nepuk lembut punggung nya.
"Ini semua pasti baik-baik saja." Ucap saya sakit kepala sembari membiarkan pelangi terus memeluk dirinya.
"jika aku pergi ke sana aku akan langsung menemuimu, jangan khawatir salah apapun dan aku pastikan Badai tidak akan menemukan mu." Ucap sosok itu lagi kemudian.
__ADS_1
Pelangi tetap memilih diam dan tidak menjawab apa yang diucapkan oleh orang yang ada di hadapannya itu, baginya sudah bisa sampai di sini dan bisa pergi menjauh dari Badai atas bantuan sosok tersebut sudah sungguh sangat luar biasa.
"Semua pasti baik-baik saja."